18/08/2023
" hati hati kalau Belajar keris sama mas victor bayar"
Benerapa keterangan saya dengar begitu hehe..
Nggk bayar kalau belajar wong sama sama belajar, lalu yang bayar apa? Ya kalau nge"kir". Bedanya apa?
Jika belajar saya sudah menyiapkan beberapa cara belajar yang lumayan efektif sehingga teman teman yang hendak belajar bisa menghemat waktu dan mudah memahami. Insyaallah nanti tidak mempunyai "ketakutan" dan tidak perlu banyak bertanya kana kiri, bingung karena hal hal yang trend Dst sehingga bisa "melihat" sendiri seperti apa tosan aji itu . Hal ini biasanya dimulai dengan ketaatan kepada gurunya. Atau mengikuti kurikulum yang diberikan oleh gurinua, yang mana yang harus dipelajari terlebij dahulu dst
Lha kalau ngekir gimana? Ngekir biasanya ego, atau "ngugu karepe dewe" sering diiselubungi dengan "saya pengen belajar" dan pertanyaan tentang penilaian tangguh, asli tidak, maharnya kemahalan atau tidak, dan hal hal yang berkaitan dengan ekonomis apapun alasannya. Jika pertanyaan ini ada saya selalu jawab saya terikat dengan kode etik untuk tidak mengomentari keris orang, baik yang pemaharan maupun milik sendiri. Karena beberapa kejadian ada yg mengaku milik sendiri padahal merupakan barang dagangan orang lain, hasil pengamatan saya kemudian membuat ybs tidak jadi memahari, tidak jadi memaharkan dst, sehingga saya dianggap menghambat rejeki orang lain (walau saya yakin rejeki tidak bisa dihambat atau diintervensi manusia). Hal hal seperti ini yang menurut saya tidak etis. Jika gentle maka yg dilakukan adalah profesional, berbagi resiko, olehkarena itu jika ada yg ngekir ketempat saya tentu saya minta bayaran dan bisa dibilang lumayan mahal. Selain daripada saya memang bekerja sebagai juru kir untuk beberapa person dan instansi yang tentu saya jaga agar beliau beliau ini tidak merasa kecewa karena saya tidak menjaga . Hal ini saya terapkan jika lewat media sosial, baik wa, massager, maupun telepon.
Akan tetapi sebagai bentuk pengabdian saya terhadap budaya, pertanyaan seputar kir saya jawab free dengan catatan, bertemu langsung, membawa pusaka yang ditanyakan, saling jujur dan berkomitmen menghargai budaya. Saya sangat menghargai semangat mencintai budaya.
Orang orang yang ingin belajar biasanya orang yang bisa nengosongkan gelas, mengerti adab dan mempunyai semangat. Sehingga bisa dengan mudah menerima keilmuan. Orang orang yang memikirkan diri sendiri biasanya tidak mempunyai itu, tiba tiba wa tanpa memperkenalkan diri bertanya hal hal yg saya sebutkan diatas.
Memahami keris, memahami dan menerapkan budaya nya. Semakin orang memahami keris semakin sopan, semakin lembut dan semakin berbudaya.
Lalu apa yang menghalangi keilmuan keris? Biasanya hanya 1 yaitu ego. Salah satunya Terburu buru untuk memahari keris, memang tidak sepenuhnya salah akantetapi nasehat para guru yang lalu "siapkan dahulu wadahnya". Wadah berupa keilmuan, keteguhan, dan kesadaran niscaya nanti keris atau tosan aji lainnya akan datang kepada diri kita dengan berbagai caranya.
Selanjutnua nanti yang ada adalah antara "kita dan keris", orang lain adalah orang lain termasuk saya terhadap anda. Dan pada akhirnya nanti hanya antara kita dan Tuhan kita keris hanyalah salah satu jalan menujuNya.
Sebagai pelengkap terlampir foto 2 bilah keris yasan dalem HB I dan 2 bilah keris tangguh HB I