28/07/2020
Jangan Sekali-kali Menyakiti Hati Guru agar Berkah Ilmumu
Al-Habib 'Abdullah bin 'Alwi al-Haddad berkata :
واضر شيئ على المريد تغير قلب الشيخ عليه
"Paling berbahayanya bagi seorang murid (orang yang ingin sampai kepada keridhaan Allah, baik kalangan santri atau bukan) adalah berubahnya hati dari seorang guru kepadanya."
*
Alkisah, tersebutlah seorang murid yang nyantri di sebuah pesantren. Ia dibimbing oleh guru yang tawadhu.
Berkat ikhtiar si murid, alhamdulillah, capaian ilmu yang diterimanya berhasil mengangkat derajat.
Menjadikan ia mulia dengan ilmu itu. Bahkan, sang guru menjadikannya tangan kanan di pesantren.
Sayang, sifat sombong menyandera hatinya. Ia anggap apa yang melekat pada otak adalah usaha mandiri semata.Tak ada peran guru di sana. Astagfirullah.
Menghebat lah ia dengan segala manuver tanpa sepengetahuan gurunya.
Sampai suatu ketika, si murid dihadapkan pada dua pilihan sulit.
Mendengarkan gurunya memberi kajian atau dirinya sendiri yang mendapat undangan mengisi pengajian.
Ya, di waktu yang bersamaan, ada dua kegiatan yang menuntut perannya.
Dan kau tahu apa pilihan dia? Si murid lebih memilih menghadiri undangan. Pikirnya, gurunya tak akan tanya.
Maka, pergilah ia tanpa restu sang guru yang begitu mengasihinya.
Sampai di tempat kajian, si murid panen pujian. Makin bersemangat lah ia menyampaikan pemahamannya.
Sementara, di tempat lain, sang guru menanyakan keberadaannya.
Mengkhawatirkan dirinya karena tak nampak murid kesayangan di pelupuk mata.
Tatkala hadir jawaban bahwa si murid menghadiri pengajian lain, murka lah sang guru. Hatinya pilu. Terluka.
Ia haramkan ilmunya bagi si murid. "Raganya boleh keluar dari pesantren, tapi ilmu yang ia dapatkan tetap tinggal di sini," titah sang guru.
Apa yang terjadi selanjutnya? Si murid yang tadinya lancar berbicara, tetiba diam seribu bahasa. Bibirnya terkunci. Ia tak bisa..
Sekengkapnya pada link FB
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=105185477956395&id=100053948283492
💯