22/06/2012
KALAU ENGKAU SUDAH YAKIN AKAN KEBENARAN, MAKA BERISTIQAMAHLAH DAN JANGAN MENDENGARKAN LAGI SUARA-SUARA ORANG LAIN!
Pada suatu hari, LUQMAN AL-HAKIM mengajak ANAKNYA berjalan ke pasar. Dia mengendarai seekor keledai sementara ANAKNYA berjalan kaki menuntun keledai tersebut.
Ketika melewati suatu tempat, mereka berdua mendengar pembicaraan orang-orang, “Lihat orang tua itu, benar-benar tidak memiliki rasa kasih sayang! ANAKNYA yang kecil koq dibiarkan berjalan kaki, sedangkan dia bersenang-senang menunggang keledai. Dasar orang tua tak tahu malu!”
“Wahai anakku, dengarkah engkau apa yang mereka katakan ?” tanya LUQMAN AL-HAKIM kepada ANAKNYA.
“Dengar ayah,” jawab ANAKNYA sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, sekarang engkau naiklah ke atas keledai ini, biar ayah saja yang menuntunnya,” katanya sambil mengangkat ANAKNYA ke atas keledai, lalu mereka meneruskan perjalanan.
Tidak berapa lama kemudian ketika keduanya melewati sekelompok orang, dan orang-orang itu pun berkata, “Lihatlah betapa anak yang tidak pandai mengenang budi ayahnya yang sudah tua, koq disuruhnya ayahnya menuntun keledai sedangkan dia yang masih muda menunggangnya, sungguh tidak patut sekali!”
“Dengarkah engkau apa yang mereka katakan?” tanya LUQMAN AL-HAKIM kepada ANAKNYA. ANAKNYA pun mengiyakan pertanyaannya itu. “Nah, sekarang engkau turun dari keledai ini dan kita sama-sama berjalan kaki,” kata LUQMAN AL-HAKIM. ANAKNYA segera turun dari keledai lalu berjalan bersama beriringan dengan ayahnya menuntun keledai.
Sejurus kemudian mereka bertemu p**a dengan sekelompok orang lain. “Wah, alangkah bodohnya dua orang yang menarik keledai itu. Keledai untuk dikendarai dan dibebani dengan barang-barang, koq malah dituntun seperti lembu dan kambing,” kata mereka.
“Dengarkah engkau apa kata mereka?” tanya LUQMAN AL-HAKIM kepada ANAKNYA lagi.
“Ya, kudengar, ayah,” jawab ANAKNYA.
LUQMAN AL-HAKIM berkata: “Kalau begitu, marilah kita berdua naik ke atas punggung keledai ini saja.”
Tidak berapa lama setelah itu mereka mendengar sekelompok orang yang lain yang mereka lewati berkata, “Sungguh tidak bertimbang rasa kedua orang ini, keledai yang kecil koq ditunggangi berdua!”
LUQMAN AL-HAKIM lalu bertanya kepada ANAKNYA, “Apakah engkau dengar apa yang mereka katakan?”
Jawab ANAKNYA: “Ya ayah, aku dengar.”
“Kalau begitu marilah kita pikul keledai ini,” kata LUQMAN AL-HAKIM.
Dengan bersusah payah mengikat keempat-empat kakinya, akhirnya mereka pun mampu mengangkat keledai itu. Dan dalam keadaan demikian itu mereka mulai berjalan dengan beban memikul seekor keledai.
Ketika sejumlah orang melihat mereka berdua memikul seekor keledai, mereka tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha … Lihatlah mereka memikul keledai!”
“Dengarkah engkau apa yang mereka katakan?” dia bertanya kepada ANAKNYA lagi. “Dengar ayah,” jawab ANAKNYA. Mereka lalu meletakkan keledai itu ke tanah.
LUQMAN AL-HAKIM pun kemudian menjelaskan hikmah di balik peristiwa tadi dan berkata, “Anakku, begitulah sifat manusia. Apa pun yang engkau lakukan, engkau tak akan lepas dari perhatian dan pandangan mereka. Tidak menjadi soal apakah tanggapan dan sikap mereka benar atau salah, mereka tetap akan mengatakannya.”
“Ingatlah anakku, bila engkau telah bertemu kebenaran, maka janganlah engkau berubah hati hanya karena mendengar kata-kata orang lain, yakinlah pada diri sendiri dan gantungkan harapanmu kepada Allah saja!”
Jadi, yang dapat kita simpulkan dari kisah ini adalah:
Pertama: Kita tidak dapat mengatur dan mengendalikan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dikatakan oleh orang lain. Kadang-kadang karena kita terlalu terfokus untuk berusaha membuat orang lain berpikir sesuai dengan keinginan kita, lalu kita sering akan merasa frustasi sendiri. Hal yang terpenting adalah kita sudah menjalankan apa yang seharusnya kita jalankan. Kita sudah melakukan sesuatu sesuai dengan hati kita, maka itu sudah cukup. Jika memang kita yang salah, selama kita sudah melakukan hal yang tepat untuk menebus kesalahan kita, itu sudah cukup.
Kedua: Kita tidak pernah bisa menyenangkan hati semua orang. Entah bagaimana pun kita berusaha berbuat baik kepada semua orang, pasti akan tetap ada orang yang tidak senang dengan kita. orang yang berbicara jelek tentang kita. Kadang-kadang beberapa dari kita seakan-akan berusaha menyenangkan semua orang, berbuat baik kepada semua orang. Keadaan ini akan sangat mustahil, karena dalam hidup kadang-kadang ada beberapa kondisi yang mengharuskan kita melakukan sesuatu hal yang mungkin di luar harapan orang lain.
Ketiga: Mendengarkan orang lain memang penting, tapi jauh lebih penting mendengarkan hati kita sendiri. Ketika kita mendengarkan ada orang lain yang berbicara jelek tentang kita, ingat satu hal, yaitu bahwa diri kita jauh lebih mengetahui apa yang kita lakukan benar atau salah dibanding orang lain. Ketika kita mengintrospeksi diri dan menemukan bahwa kita tidak melakukan hal yang salah, cukup dengarkan hati kita.