27/08/2022
A JOURNEY OF MELTING POT
Mohon ijin, pada kesempatan ini dalam rangka menuju usia yg ke 50 tahun beberapa minggu kedapan, saya ingin menulis tentang pengalaman dan puzle-puzle perjalanan kehidupan dan terutama terkait dengan A revolution of my hopes(ROH) pada 25 tahun terkahir ini. Tulisan ini, menjadi oleh-oleh bagi saya pribadi dan bagi anak-anak saya selama mencapai hampir usia 50 tahun. Lompatan menuju 25 tahun pertama menuju fase 25 tahun kedua merupakan fase kritis bagi saya, dan keluarga yang selayaknya menjadi catatan penting sebagai bahan refleksi usia 50 tahun(25 sept 2022) dan 25 tahun pernikahan saya(15 April 2023).
Berdasarkan perenungan dalam dua minggu terkahir ini yang kebetulan bersamaan persiapan sidang promosi Doktoral saya di Pascasarjana Fisip UNPAD Hubungan Internasional, dimana saya sedang proses menghadapi sidang pada 19 Agustus 2022 di kampus Dago Atas, pikiran saya justru melayang throwback ke berbagai fase perjalanan kehidupan selama 25th terakhir ini, bukan karena saya sudah merasa sangat siap dengan sidang. Tetapi entah mengapa pikiran dan mental saya sering dibuat lebih berdebar-debar, mata saya sering berkaca-kaca saat mengingat tahapan-tahapan yang tidak mudah dilalui yang kemudian seolah-olah menjadi dalam satu tema dalam sidang promosi saya.
Pemikiran saya jatuh pada beberapa fase yang saling menyatukan puzle-puzle tersebut yang kemudian menjadi sebuah perjalanan yang menuntun pada proses pencapain baik dalam karir bisnis, karir bidang akademik, dan kondisi spiritual, sosial, intelektual sampai dengan detik dimana jari-jari saya menyentuh keyboard ini. Faktor spiritual, sosial, institutional dan faktor intelektual merupakan faktor-faktor yang secara bercampur aduk membuncah pada tiap fase perjalanan usia ini dengan dominasi yang silih berganti antara dominasi materailistik dengan spriritualistme atau saat berada ditengah-tengah kondisi dilematis antara perjuangan yang memprioritaskan antara kebutuhan intangible dengan tuntutan outcome yang tangible.
Faktor Spiritual:
Faktor terpenting dalam perjalanan yang sangat menentukan dan menggugah pemahaman atas kondisi titik ini adalah faktor spiritual. Fase ini diawali saat pertama kali mendapatkan arahan untuk ambil S3 dari sponsor dan mentor utama kangmas Prof Tirta N. Mursitama Tirta Mursitama . Arahan ini datang saat kondisi bisnis saya sedang minus yang sangat tidak masuk akal apabila saya paksakan ambil S3 saat itu. Tetapi kata-kata beliau “ dilakoni sek engko lak ketemu dalane”. Ternyata kata-kata ini disambut dengan sangat gagah berani dan anggun oleh mbak bojo Indah Tri Hidayati “ Bismillah dilakoni sek, ojo kuatir tak dukung dan dongake kabeh engko lak tekan nggone”. Kata-kata yang pemahamanya perlu kejernihan dan kemantapan perjalanan ikhtiar. Kemantapan ikhtiar dan ketenangan hati merupakan modal penting dalam perjalanan ilmu dan laku bagi saya sebagai orang jawa. Faktor spiritual lainya adalah pada suatu waktu saat mendatangi sebuah Sholat Jumah di sebuah Masjid dengan penceramah seorang Scholar (bukan sekuler) di bidang International Political Economy yang sekaligus seorang Ustadz yang sanad pendidikan dasarnya sampai dengan SMA berasal dari sebuah pesantren tua di wilayah Ponorogo. Beliau adalah Dr Lili Yulyadi, perkenalan dengan beliau merupakan suatu momment yang sangat saya syukuri. Karena pada kesempatan ceramah tersebut beliau menyampaikan bahwa berkah terbesar manusia hidup dalam dunia ini adalah adanya anugrah yang disebut dengan moment. Moment merupakan anugrah terpenting dalam hidup dimana manusia mendapatkan takdirmya karena adanya faktor waktu dan ruang. Faktor waktu dan tempat ini merupakan sebaik-baik rancangan Allah bagi manusia. Sehingga ceramah ini sangat relate dengan wejangan Mas prof dan supporting dari mbak bojo sehingga semakin memantapkan spritual saya untuk ambil kesempatan S3 di UNPAD ini.
Faktor Sosial:
Saya harus mengakui bahwa perjalanan puzzle-puzzle kehidupan yang pada usia ini merupakan melting pot dari perjalanan pergaulan sosial saya. Lingkungan sosial diawali dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Harus diakui bahwa keluarga dari perkawinan Ibu dengan Bapak bisa dikatakan jauh dari kata sempurna terutama dari aspek kehangatan dan hal-hal diluar masalah material, tetapi kondisi ini justru memperkuat persaan senasib dan saling menguatkan diantara Saya, Mas "Boy" Ivan M. Affandi, Alm adik saya Rais dan adik wedok satu-satunya Rini Andriani Masruroh. Mas Ivan dan Mb Dewi, Rini dan Cahyana Puthut Wijanarka merupakan tokoh penting dalam mensupport saya sampai pada titik ini. Sehingga proses aktivitas menyusun disertasi, mengajar di HI binus, melakukan proyek riset, sambil membagi waktu untuk bertemu dengan keluarga yang terpisah antara Kemanggisan, Dago atas, Bekasi Galaksi, Kartotiyasan Solo dan Gentan Sukoharjo menjadi lebih ringan karena supportnya Mas Ivan dengan Keluarga Antapani dan Rini dengan Galaksi teamnya.
Faktor sosial inti seperti bojo dan anak-anak juga merupakan faktor sosial terpenting. Mbak bojo itu, konco dari smp -sma, kuliah satu kelas tapi nggak pernah diclare pacaran eh lha kok tiba-tiba kok saat saya lepas masa probation kerja di sebuah MNC di Lampung, seperti kebiasaan saya setiap malam melakukan telphone ke teman-teman di Solo. Ajaibnya saat itu pengen banget telephone Indah, dan semakin ajaibnya lagi mulut ini secara reflek malah nembung ke alm bapaknya Indah untuk melamar minggu depanya. PERJODOHAN DENGAN INDAH adalah contoh bukti nyata dari ceramah Pak Lili di atas bahwasanya waktu dan ruang itu merupakan anugrah terbaik bagi manusia khususnya yang bisa memanfaatkan dengan spirit dan ketenangan jiwa untuk menjawab doa-doanya. Anak-anakpun seperti Icha, Rafi dan Bayu menjadi sumber spirit, dimana tujuan saya adalah memberi contoh nyata bahwa umur tidak membatasi dalam pencarian, pengembangan dan pengajaran Ilmu. Perjalanan ini mengajarkan mereka bahwa Ilmu tidak sebatas dalam teori dan literatur tetapi harus mampu menemukan pemahaman hidup yang spiritualis dan menenanglan jiwa. ILMU adalah LAKU.
Saya memiliki track record sosial dan persahabatan dengan jam terbang yang rata-rata lebih dari 30 tahun. Sahabat-sahabat saya, sampai sekarang cara bergaulnya pun masih sama baik yang berasal dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, teman dari kalangan olahragawan dari kalangan seniman solo, tetangga rumah maupun kalangan-kalangan yang bermacam macam latar belakang lainya. Meraka adalah salah satu instrumen yang membantu menciptakan melting pot saya sampai dengan detik ini. Contohnya adalah Adhit Bandeng, teman SMPN 1 surakarta yang sampai saat ini masih intens bersahabat dengan saya. Berkat Bandenglah, kemudian diajak bergabung dalam WA grup Dialektika SMAN 1 Surakarta padahal saya dari SMAN 4 Surakarta. Berkat Bandenglah saya bisa bertemu dengan Mas Prof Tirta melalui perkenalan di sebuah mall di senayan dengan menyerahkan buku saya ROH dan beberapa minggu kemudian dipanggil untuk interview karena menggantikan Mas Yudha Dewanto yang mendadak harus berangkat ke Balanda karena mendapatkan beasiswa S3. Demikianlah salah satu siklus sosial yang terjalin 30 tahun yang melebar manjadi pembuka tabir-tabir A JOURNEY OF MY MELTING POT.
Tak lupa juga persahabatanku dengan Deny Sidharta. Deny adalah teman paling nyenengkeh sekaligus paling berbahaya. Beliau ini memimiliki daya ingat yang sangat luar biasa, dan sialnya hampir semua kekonyolan dan hyper energi saya saat di SMAN4 Surakarta sampai sekarang selalu bersama beliau dan dicatatnya. Banyak hal kekonyolan saya yang sudah lepas dari memori saya justru masih diingat Deny berikut konteks dengan detail-detailnya. Hajindul bener manusia satu ini. Selalu menyenangkan berdiskusi dan guyonan ra maton sama beliau, sebagai seorang lawyer kondang(kondang jaran po kondang sapi?) beliau juga menjadi narasumber penting untuk menjelaskan perundangan dan peraturan tentang desentralisasi di Indonesia dengan kaitanya terhadap praktek-praktek di wilayah ASEAN. Berkat beliaulah, pemahamanku tentang leveling Governance di era yang multilevel ini menjadi lebih baik Supportnya ditunjukan dengan sangat nyata dengan menjadi narasumber sampai dengan mendatangi di acara sidang saya ke Bandung. Suwun yaa Den, jek gelem kekancan ro aku. Deny juga merupakan salah satu skiklus sosial saya yang penting dan ndilgig dalam 30th terakhir ini.
Dan masih banyak, sahabat-sahabat lain yang sangat berperan dalam mengumpulkan puzle-puzle perjalanan hidup sebagai bagian dari a journey of melting pot saya. Seperti mas Ndan kebanggan dan role modelku Nugroho Wahyu, teman-teman SDN 16 Mangkuben Kidul Surakarta( Alm Genjik, Anwar, Boneng, Ira, Dian, Yunus, Sita, Heny, Ririn dll) SMPN 1 Surakarta( Alm Ary Wahyu, Woro, maya, Kecing, Bandeng, Ian, Teguh etc) SMAN 4 Surkarta(Bass 91, Teater Golek, Suwung Club, Grup Turing etc) FE UII 92 (senat dan teater Iqra, ben kwat, Yoyon Ukhrawinata, Dadi Krismatono, Hoohox, Unggul, Deni Yohadi, Achong, Haston, Ding-Dong, Imang Jasmine Batik etc ), MM UGM ankatan 24. Teman-teman “tengiker” club Teater Gidag-Gidig Solo Purwanto, Joko Yuwono, Muchus Budi R, Danis Otnayigus, Y.E. Marstyanto Yose, Djuhardi Basri Teman-teman club sepaturodo Boskresero(Genthong aka Rahmadi Radian, Mas Nanang, Herman Budiono, Gombloh, Rony, , mas Icak dll) Club Atheltic ABA Surakarta, Arseto Junior, PS Adidas, teman-teman kecil di kampung Kartotiyasan Joko Wahyono, Kratonan, Jayengan, Pasar kembang, Sriwedari, Mangkuyudan dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan disini.
Faktor Institutional:
Faktor pendorong selain adanya spirit dan networking yang berasal dari aktivitas sosial terutama persahabatan tentunya tidak akan mungkin terjadi proses penyelesaian Disertasi ini tanpa keterlibatan institusi Binus University dan Pascasarjana FISIP Universitas Padjadjaran Jurusan Hubungan Internasional.
1. Binus University tentunya kebijakan Rektor Prof. Dr. Harjanto Prabowo, MM yang telah memberikan kepercayaan, keyakinan, kesempatan, dukungan dan dorongan untuk menempuh dan terus melanjutkan studi doktoral Ilmu Hubungan Internasional.
2. Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si, selaku Dekan Fakultas Humaniora yang selalu mendukung dan memberikan kesempatan saya mengembangkan diri di sela-sela kesibukan dan tugas saya sebagai Subject Content Coordinator International Political Economy and Business Diplomacy Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara (BINUS).
3. Rangga Aditya., Ph. D., Rangga Aditya Elias selaku Kepala Jurusan Hubungan Internasiona Fakultas Humaniora Universitas Binus. Berkat support, arahan dan kebijaksanaanya menjadikan proses penyelesaian tugas belajar saya pada program doktoral dengan tugas-tugas saya di jurusan bisa terselesaiakan dengan baik dan mudah. Mas buoss Rangga adalah pejabat baru saat dengan beraninya menjaminkan dirinya untuk mendorong saya melanjutkan sekolah S3 di UNPAD, keberanian ini terbukti sampai dengan tuntas di hari saya melakukan sidang promosi. Sebuah keberanian seorang pimpinan yang harus dijawab oleh saya secara tuntas dengan menyelesaikan tanggung jawab sekolah sampai selesai. Serta teman-teman terjyosh di jurusan Aditya Permana Moch Faisal Karim Paramita S Ella Syafputri Prihatini Tangguh Chairil
Institusi UNPAD dengan ekosistem dan atmosphere pendidikanya menjadikan kita semakin faham bahwa proses sekolah S3 tidak terbatas hanya pada bidang akademik saja tetapi ada hal-hal lain yang menurut saya jauh lebih penting yaitu pendidikan kedewasaan dan kematangan sosial sehingga bagi saya sekolah S3 adalah proses meneter diri, manajemen ego dan tetap fokus dengan objectivitas keilmuan yang metodologios, logis dan valid. Ekosistem ini terbangun mulai dari :
1. Prof. Dr. Hj. Rina Indiastuti, S.E., M.SIE selaku Rektor Universitas Padjadjaran Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi strata 3 Ilmu Hubungan Internasional.
2. Prof. Drs. Yanyan M. Yani, MAIR., Ph.D, selaku Ketua Promotor yang telah membimbing saya sejak proses awal perkuliahan, proposal, penelitian, hasil penelitian hingga terselesaikannya disertasi dan studi doktoral Ilmu Hubungan Internasional di FISIP Universitas Padjadjaran ini.
3. Prof. Dr. Arry Bainus, M.A, kopromotor yang selalu memotivasi dan memberikan masukan kritis sejak masa seminar proposal, hasil penelitian hingga terselesaikannya disertasi ini.
4. Prof. Tirta Nugraha Mursitama, S.Sos., M.M., Ph.D, kopromotor sekaligus sponsor utama pada proses penyelesaian disertasi.
5. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, S.IP., S.Si., M.T., M. Si (Han), Pak Widya Setiabudi Aseli selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran sekaligus sebagai penguji disertasi ini atas kebijakan dan supportnya.
6. Dr. Wawan Budi Darmawan, S.IP., M.Si., selaku Ketua Program Doktor Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjadjaran yang selalu mendukung dan memfasilitasi selesainya studi saya.
7. Prof. Dr. Drs. H. Sam’un Jaja Raharja, M., selaku representasi Guru Besar dan penguji sejak seminar hasil penelitian, hingga terselesaikannya disertasi ini. Guru besar yang juga telah memberikan ilmu dan pengalaman yang berharga selama seminar hasil penelitian melalui pertanyaan menantang dan kritis sekaligus mengarahkan dengan masukan-masukan terutama dengan 10 ORnya yang sangat bermanfaat untuk memperkuat novelty penelitian ini.
8. Drs. Taufiq Hidayat, M.S., Ph. D, Dr. Arfin Sudirman, S.IP., MIR, Dr. Akim, SIP., M. Si selaku penguji yang memberikan pertanyaan kritis, fundamental dan masukan yang memperkaya disertasi ini.
9. Serta Pak Indra, Ibu Ary dan bu Yuyub dari admisi pascasarjana yang telah banyak membantu dan bersedia saya repotkan dengan berbagai permintaan dan pertanyaan
10. Para Narasumber dari ASEAN Secretariat, Kemenpar, Bea Cukai, Kemendag, BKPM, KADIN, HIPMI, Biro Kerjasama Pemprov DKI, Biro Kerjasama Pemkot Surakarta, Soemadipradja & Taher Law Firm, para pelaku pasar tradisional di pasark Klewer Solo serta para pengisi kuisioner dari jaringan UMKM, Startup, pokdarwis di area DKI, Jabar, Jateng dan DIY. Terimakasih sekali Yeppi Kusumawati bapak Juby Paskoro
Faktor Intelektual:
Faktor ini menurut saya merupakan hasil dari dinamika dan meleburnya antara faktor-faktor spiritual, sosial dan Institutional di atas. Pengalaman saya membuktikan bahwa faktor Intelektualitas adalah akibat bukan penyebab. Hal ini dikarenakan, saya berasal dari rumpun ilmu ekonomi dan manajement, selain itu cita-cita dalam dunia akademik seperti saat ini merupakan impian lama yang sudah saya kubur akibat tercemplung dalam dunia bisnis. Saat saya, sedang aktif di dunia bisnispun saya juga sempat menjadi pengajar di FE UII atas undangan mas Bro Arief Rahman sebagai prkatisi dan mengajar ini dengan motivasi sebagai pengabdian ke alumni dan menjalankan hobi untuk memkasa otak refreshing. ILMU berbasis LAKU merupakan kunci penting dalam perjalanan intelektualitas saya, dengan menempatkan diri serendah-rendahnya sebagai “gelas kososng” menjadikan inner peace sebagai penuntun untuk memahami semua proses belajar baik yang kepentingan akademik maupun pengembangan mentalitas saya. Sehingga, titik penyelesaian Disertasi saya sampai dengan Sidang Promosi Doktoral pada 19 Agustus 2022 di kampus Pascasarjana FISIP Universitas Padjadjaran pada pukul 15.30-18.00 merupakan puncak dari Revolution of Hopes(ROH) saya dari hobi menjadi sebuah pelabuhan akhir perjalanan karir dan hidup saya dalam bidang akademik.
Perjalanan Disertasi ini merupakan manifestasi dari sebuah ROH yang berproses dalam sebuah A JOURNEY OF MY MELING POT. Disertasi ini merupakan medium yang berfungsi sebagai connecting the dot puzle-puzle kehidupan saya. Disertasi merupakan anugrahwaktu dan ruang yang sudah diatur dengan sangat indah oleh Allah. Dari pengalaman ini, saya berkewajiban untuk mengimani bahwa Allah merupakan sehebat-hebat pengatur segala urusan umatnya, dan bagi saya hal ini adalah nyata.