16/01/2014
Taman Bungkul, Taman Serba Ada
Dikala terik sang mentari berada tepat di atas ubun-ubun, berbelok-lah saya ke Taman Bungkul di jalan Raya Darmo, Surabaya, Jawa Timur. Di taman ini, panasnya suhu udara kota dan kepenatan pikiran akan lenyap seketika karena rimbunnya pepohonan yang berada di Taman Bungkul. Semilir angin segar menerpa...
Seperti yang dilakukan Yudha, setelah memarkir motornya, laki-lakin ini langsung menuju salah satu sudut Taman Bungkul. Bapak pekerja keras ini langsung membuka laptopnya. ”Saya sering mampir di taman ini untuk memantau laporan bawahan dan mengecek surat elektronik. Di sini kan koneksi nirkabel atau Wi-Fi gratis, itung-itung sambil ngadem hehe,” ujar manager pemasaran perusahaan otomotif itu.
Menghabiskan waktu di Taman Bungkul sambil mengerjakan tugas kerjaannya dan menemani anak-anaknya bermain sepuasnya juga sering dilakukan Reni, yang bertempat tinggal lumayan jauh dari taman ini, di jalan Gayungsari, Surabaya. ”Kalau sedang banyak pekerjaan dan tetap bisa menemani anak bermain, memang Taman Bungkul pilihannya. Disini ada Wi-Finya. Kalau mau makan juga tinggal pilih, karena banyak warung di belakang dan tempatnya sangat teduh serta nyaman,” papar Ibu pekerja keras yang merangkap jadi Ayah untuk anak-anaknya ini.
Taman Bungkul, itulah namanya. Karena taman ini bersebelahan dengan makam Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul. Taman ini memang berbeda dengan taman lain. Taman ini selalu dipadati pengunjung untuk melakukan berbagai aktivitas, termasuk kegiatan sosial maupun kegiatan yang sifatnya menghibur. Di taman ini banyak ditemui sentra PKL (Pedagang Kaki Lima) yang menjual beraneka macam makanan, pentol cilok, soto ayam, dan yang terkenal yakni rawon kalkulator dan mie akhirat. Di Taman Bungkul ini juga menjadi tempat bermain bagi kalangan anak-anak, remaja, hingga dewasa. Disini juga terdapat perpustakaan gratis, jaringan internet gratis (Wi-Fi), jalur olahraga (jogging track), dan ruang terbuka hijau di pusat taman untuk warga berkumpul.
Beragam Aspek Ada
Taman Bungkul ini jika dibandingkan dengan taman lain di dunia sangatlah berbeda. Karena taman ini mampu memadukan aspek religi, budaya, ekonomi, wisata, olahraga, dan pendidikan dalam satu tempat. Jika dilihat dari aspek religi dan budaya, di taman ini terdapat makam Mbah Bungkul, ulama pada zaman Majapahit, sehingga taman ini tak pernah sepi dari para peziarah yang ingin ziarah ke makam ini.
Semua aspek terpenuhi di taman ini, faktor utama Taman Bungkul hingga mendapatkan penghargaan dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berupa The 2013 Asian Townscape Sector Award. Penghargaan itu telah diterima Wali Kota Surabaya Ibu Tri Rismaharini di Fukuoka, Jepang.
Seperti Senin 091213, matahari pun sudah pindah ke barat. Terlihat sepuluh anak sedang asyik bermain sepak bola di arena pertunjukan yang berada tepat di pusat Taman Bungkul. Mereka seolah-olah tak peduli dengan pengunjung lain yang duduk di pinggir-pinggir arena pertunjukan dan juga mereka terlihat asyik sendiri. Ada yang asyik mengobrol dengan temannya, bercanda dan bincang-bincang dengan pasangannya, sementara yang lain memainkan laptop dan gadget-nya.
”Setiap sore aku main bola ndek sini mbak bareng sama temen-temenku,” kata Arif yang mengenakan baju klub sepak bola dari Surabaya, Persebaya.
Keunggulan Taman Bungkul dibandingkan dengan taman lain juga diungkap oleh warga Surabaya yang lain, Heru. “Meski cuaca panas dan terik mentari sangat menyengat, Taman Bungkul ini tetep adem,” celotehnya. Cahaya terik matahari tak kuasa menembus hingga arena bermain anak-anak karena berada di bayangan pepohonan yang rindang. Itulah yang membuat Selvi dan anak-anak lain tetap asyik bermain kuda-kudaan, ayunan, dan seluncuran.
Heru duduk tak jauh dari tempat putri kecilnya, Selvi yang sedang asyik bermain kuda-kudaan. Sambil menyeruput segelas kopi hitam, dia sesekali mengingatkan putrinya agar berhati-hati.
Sementara itu, petugas kebersihan taman terus bekerja membersikan dan menyapu daun-daun dan ranting yang berjatuhan. Setelah menyemprot dan menyikat pelataran taman berlantai keramik, mereka menyapu dan mengepelnya. Daun yang rontok dan sampah pun tak terlihat mengotori pelataran taman.
Heru menuturkan, Taman Bungkul menjadi salah satu tempat andalan untuk menenangkan anak-anaknya saat rewel. Dengan sepeda motor, dia hanya butuh 10 menit untuk mencapai taman dari rumahnya yang terletak di kawasan Banyu Urip. Untuk menikmati suasana taman yang nyaman dengan sarana lengkap dan serba ada, dia cukup mengeluarkan ongkos parkir sepeda motor Rp 2.000. Selebihnya untuk jajan putrinya.
Beberapa pengunjung terlihat asyik membaca, termasuk meminjam buku dari perpustakaan keliling yang setiap hari hadir di taman itu. Pengunjung lain berjalan di atas bebatuan alam untuk kesehatan memperlancar peredaran darah tanpa alas kaki. Tidak sedikit p**a yang terlihat keluar masuk area makam Mbah Bungkul.
Menurut Heru, Taman Bungkul ini adalah taman terlengkap yang semua fasilitasnya bisa dinikmati secara gratis. “Taman Bungkul tidak sekedar taman biasa, taman ini banyak berisi pepohonan dan bunga-bunga yang indah serta air mancur, di sini juga dilengkapi berbagai fasilitas belajar seperti Wi-Fi dan arena bermain anak-anak,” imbuhnya.
Menjaga Norma
Tak bisa dipungkiri, taman masih sering disalah gunakan warga untuk perbuatan di luar batas kewajaran, terutama oleh kalangan anak muda. Hal itu tidak bisa dihindari karena zaman cepat berubah dan kebudayaan Barat banyak ditiru oleh anak muda Indonesia.
Untuk menghindari taman menjadi tempat perbuatan asusila, pemkot menugaskan petugas keamanan di taman. Taman ini dijaga dan dikontrol selama 24 jam. Semua kalangan, pada saat weekend akan berkumpul menjadi satu di taman ini. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, mulai dari berolahraga, main sepeda, main skate, jalan-jalan maupun hanya sekedar untuk cuci mata. Taman Bungkul mencairkan perbedaan status warga.
Ara Aita/ Novi **