BOGAS (Bocah Nggragas) menurut sumber yg kurang dapat dipercaya keabsahanya awal mulanya dicetuskan oleh saudara Diono (Bebek) untuk menyebut anak-anak yg baru tumbuh mau gede (ABG) khususnya negara bagian pindi kidul. Sepintas mungkin kata Bogas seperti ejekan namun itu bukan sebuah masalah besar bagi anak-anak yg pada jaman itu masih akrab-akrabnya dgn berbagai kenakalan remaja, mulai dari nyolo
ng pelem e mbah Paiman, maling jagung e mbah Mento Rakimin, Nyuri sandal keluar daerah dan kenakalan lainya yg tidak terekpose media. Seperti halnya remaja yg diliputi rasa ingin tau serta ingin menjadi perhatian banyak orang, segerombolan bocah bandel ini pun tidak luput dari jerembab lembah hitam korban candu Oplosan dari hasil patungan Rp.2.000/org (Keterangan : sekitaran tahun 2003 ciu harganya masih Rp.10.000). Seiring waktu berjalan, sekumpulan brandal desa ini semakin menjadi-jadi. Dari ulahnya yg acap mengambil buah warga aksinya pun konyol-konyol setiap habis menenggak Miras. Dari pembakaran Tiang Gawang, Tertidur dilapangan sampe pagi, Tidur dikuburan atau sekedar teriak meribut dilapangan waktu menjalankan oplosan sehingga warga yg tinggal disekitar lapangan terganggu tidurnya malam itu. Seperti tidak ada ungkapan yg pas untuk menggambarkan kenakalan masa itu. Walopun STIGMA MASYARAKAT kepada Bogas saat itu begitu kejam, namun Bogas tetaplah makhluk Sosial yg tdk hanya selalu dijalan keburukan. Buktinya setiap ada Kerja bakti desa Bogas selalu datang (tentunya utk bekerja bukan sekedar ngabisin makanan sama rokok). Dan seiring waktu jg ketika Bogas (generasi 1) mulai dewasa , Bogas tidak lg menjadi Momok utk desa. Pandangan warga (khususnya orang tua-tua) yg dulu sinis sekarang mulai ramah (walopun belum semuanya). Puncaknya ketika muncul ide untuk menghibur desa melalui pembicaraan beberapa orang (Bogas region sumatra) maka tercetus sebuah acara "BOGAS SALAMAN" yg pertama dilaksanakan awal lebaran Tahun 2011 dan BOGAS SALAMAN JILID 2 Tahun 2013. Inti dari acara tersebut selain utk menghibur desa adalah untuk :
1. Ajang Temu Kangen karena kebanyakan pemudanya perantau dan lama berpisah.
2. Mempersatukan Warga baik yg Tua, kecil maupun Muda. Dan Seiring waktu lagi nih (seiring waktu melulu ), Bogas tidak lg sebutan untuk beberapa pemuda yg berkumpul melainkan layaknya Ikatan Keluarga bagi sebagian besar lapisan Pemuda dipindi. Terbukti, Ide untuk membuat Kaos yg sedianya akan kesulitan mencari 15 anggota malah tembus 40 baju lebih, itu pun ada yg pingin punya tapi tidak kebagian.
*maaf untuk harga yg kurang bersahabat bagi yg pesan diedisi kedua :'-(
Terakhir, saya selaku penulis berharap Bogas akan membawa Pindi ke puncak kejayaanya dari generasi kegenarasi. BOGAS SALAMAN JILID 3 besok giliran Bogang dkk yg ngadain, hehehe
NB: Seperti yg tertera diatas, artikel ini disadur dari beberapa Sumber seperti Ulama, perangkat desa, buruh tani serta sumber lain yg tidak bisa dipercaya keakuratanya. Jadi kalo ada sejarah yg menurut anda tidak sesuai silahkan di protes