11/01/2017
Di siang hari yang
cerah,tampak seorang ibu
didepan pintu rumahnya
kedatangan seorang
pengemis muda. Ia tampak
berpakaian lusuh, berbadan dekil, dan
sebelah tangannya cacat. Si
pemuda berkata sopan, ”
ibu yang baik, bolehkah
saya minta sedikit
makanan dan minuman, saya kelaparan dari pagi
belum makan. Tolong beri
sedekah makanan pada
orang cacat seperti saya,
bu.”
Dengan senyuman lembut tapi tegas, si ibu menjawab,
” Boleh, tetapi engkau
harus mengerjakan
sesuatu sebelum engkau
menikmati makanan itu.
Apakah engkau sanggup?” Si pemudapun menjawab, ”
Baiklah, pekerjaan apa
yang harus saya
kerjakan?” segera si ibu
menunjuk ke arah
setumpuk batu bata yang ada dihalaman rumah,
”Anak muda, pindahkan
semua batu bata itu
kebelakang rumah.” Dengan roman muka
kaget, si pemuda
menjawab. ” Maaf bu,
bagaimana saya dapat
memindahkan semua batu
itu dengan sebelah tangan saya yang cacat seperti ini ?
” tanya si pengemis
keberatan. “kalau engkau ingin
makan siang, engkau
harus membayar
harganya, silahkan
kerjakan, atau pergilah
dari sini. ” Mendengar ucapan si ibu, meski
dengan menahan lapar
yang melilit, si pemuda
mulai melakukan
pekerjaan yang diminta
oleh si ibu. Kira-kira satu jam
kemudian, dengan
keringat bercucuran, si
pemudapun akhirnya
dapat menkmati makan
siang paling nikmat yang pernah disantapnya. Ia
juga menerima uang
tambahan sebagai imbalan
hasil kerja kerasnya.
Selang beberapa hari
kemudian, pengemis itu datang lagi kerumah si ibu.
kembali, ia pun disuruh
melakukan pekerjaan
memindahkan batu bata.
Namun, kali ini ia harus
mengembalikan batu bata itu dari belakang ke
halaman depan. keluarga si
ibu heran dan tidak
mengerti, mengapa ibu itu
menyuruh si pengemis
cacat melakukan pekerjaan memindahkan
batu bata kembali ke
tempat semula. Si pemuda cacat tanpa
bertanya lagi segera
bekerja memindahkan
batu bata dengan
semangat dan
menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat. Ia
pun kembali mendapatkan
upahnya. setelah
menyantap makanan yang
lezat sambil mengantongi
upah, dia mengucapkan terimakasih dan
berpamitan pergi.
Waktupun terus berjalan
cepat. Lima belas tahun
kemudian, si ibu
kedatangan seorang tamu
muda yang mendesak ingin
bertemu dengannya.
Dengan mata tuanya, ia menatap pemuda
berpakaian rapi dan
berkesan mahal
dihadapannya. Dengan
senyum ramah, pemuda
menjabat tangan si ibu dan menyapa, “ ibu, masih ingat
saya? pemuda cacat yang
puluhan tahun lalu pernah
minta makan kemari ? ” Si ibu menganggukan
kepala dengan senang, “
Ya, ibu tentu ingat pada
anak muda yang rajin
memindahkan batu bata
dirumah ini. Sekarang engkau sudah berubah,
apa yang bisa ibu bantu
anak muda? ” “Saya menyempatkan diri
kemari ingin mengucapkan
terimakasih kepada ibu.
Berkat pelajaran tidak ada
makan siang gratis yang
ibu berikan kepada saya waktu itu, saya menyadari,
ternyata saya mampu
bekerja seperti layaknya
orang yang bertubuh
sempurna. Mulai saat itu,
saya bekerja keras dan bertekad untuk
membuktikan bahwa
tubuh cacat bukan berarti
harus menunggu belas
kasihan orang lain untuk
memberi makan. Dan saya merasa sangat
bersyukur, sekarang saya
telah barhasil menjadi
seorang pengusaha yang
sukses.” Sambil bercerita
kisah perjuangan hidupnya, ia
mengangsurkan selembar
cek kepada si ibu, “ Bu,
terimalah cek ini sebagai
tanda terimakasih saya.
Silahkan isi sendiri angkanya. Jika ibu
berkenan, saya juga telah
menyiapkan sebuah rumah
peristirahatan untuk ibu
memasuki masa pensiun
nanti.” Dengan mata berkaca-
kaca si ibu berkata,
“Terimakasih atas
perhatian dan niat baikmu
anak muda. Maaf ibu tidak
bisa menerima semua ini. ibu masih sehat tidak
kurang sesuatu apa pun.
Bisa melihat kamu sukses
ibu pun ikut berbahagia,
yang penting, tularkan
semangatmu pada orang lain,” Ucap si ibu sambil
mengembalikan cek
kepada si pemuda.