01/08/2016
Salam Pramuka data tentang kedatangan
Baden-Powell pernah
diungkapkan dalam
buku Patah Tumbuh Hilang
Berganti - 75 Tahun
Kepanduan dan Kepramukaan yang
diterbitkan oleh Kwartir
Nasional (Kwarnas) Gerakan
Pramuka pada 1987. Di
halaman 25 buku tersebut
terdapat subjudul "Peristiwa kedatangan Baden Powell dan
Jambore Dunia".
Di situ dituliskan antara lain,
"Suatu peristiwa yang tidak
mudah dilupakan adalah
kedatangan Lord Baden Powell of Gilwell
dan Lady Baden Powell di
Indonesia, pada tanggal 3
Desember 1934, dalam rangka
kunjungan keliling ke
beberapa negara, waktu kembali dari Jambore di
Australia.Baden Powell
melihat keadaan dan
perkembangan organisasi
kepanduan di Indonesia, yang
biarpun pada waktu itu Indonesia dijajah oleh
Belanda, namun perkump**an
kepanduannya berkembang
sangat pesat dan
menggembirakan."
Pada alinea berikutnya dituliskan, "Penerimaan dan
acara kunjungan Baden Powell
itu diatur sendiri oleh
NIPV. Pandu-
panduIndonesia hendak ikut
serta menyambut kedatangan BadenPowell,
tetapi tidak diperkenankan
oleh pimpinan NIPV. Hal ini
mengakibatkan bertambah
besarnya ketegangan
hubungan kepanduan nasional Indonesia dan NIPV."
Data tersebut telah berulang
kali saya baca, tetapi hanya
sebatas itu saja. Apalagi data
dari buku itu telah sering p**a
dijadikan acuan dalam berbagai penerbitan Kwarnas.
Itulah sebabnya, pada
awalnya saya tak begitu
menaruh perhatian pada
keterangan itu. Tapi segalanya
berubah tanpa disengaja. Saya kembali tertarik
membaca buku itu, berkaitan
dengan tugas jurnalistik saat
wafatnya mantan Presiden
Soeharto. Ketika itu, saya
membuat tulisan berjudul "Soeharto dan Pramuka
Indonesia" untuk suratkabar
harian Suara Pembaruan,
tempat saya bekerja. Namun
saat akan dimuat, Asisten
Redaktur Kesra di harian tempat saya bekerja
mengatakan bahwa dia
sedang mencari foto Pak Harto
dengan seragam Pramuka.
Teringat buku Patah Tumbuh
Hilang Berganti - 75 Tahun Kepanduan dan
Kepramukaan yang ada di rak
buku saya dan seingat saya di
dalamnya cukup banyak foto
Soeharto yang mengenakan
seragam Pramuka, saya pun membawa buku itu ke
kantor. Salah satu foto dari
buku itu akhirnya dipilih
sebagai ilustrasi tulisan
"Soeharto dan Pramuka" -
berubah sedikit dari judul yang saya berikan awalnya -
yang dimuat di Suara
Pembaruan edisi 29 Januari
2008.
Itulah awalnya, tanpa sengaja
saya membuka-buka kembali buku terbitan Kwarnas
tersebut. Maka saya pun
kemudian mencoba melacak
kembali data sejarah
kedatangan Baden-Powell ke
Indonesia. Pelacakan saya lakukan dengan penelitian
kepustakaan terhadap bundel
fotokopi majalah
kepanduan Het
Padvindersblad, majalah
berbahasa Belanda yang merupakan majalah resmi
Nederlandsch-Indische
Padvinders Vereeniging,
organisasi kepanduan Hindia-
Belanda. Juga terhadap bundel
fotokopi majalah Pandoe, majalah berbahasa Melayu-
Indonesia (bahasa Indonesia
‘tempo doeloe') yang
merupakan majalah resmi
Kepandoean Bangsa Indonesia.
Bundel-bundel fotokopi dari majalah-majalah tahun 1930-
an itu sebenarnya telah cukup
lama disimpan di Kwarnas,
tetapi kurang diperhatikan.
Saya juga mengunjungi
Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.
Di bagian mikrofilm, saya
berhasil meminjam mikrofilm
suratkabar harian Bintang
Timoer edisi tahun 1934.
Suratkabar ini dipimpin oleh salah satu tokoh perintis pers
Indonesia, Parada Harahap.
Sejumlah buku kepanduan
dalam Bahasa Inggris dan
Bahasa Indonesia juga saya
telusuri datanya. Hasilnya, ternyata data yang termuat
dalam buku Patah Tumbuh
Hilang Berganti - 75 Tahun
Kepanduan dan
Kepramukaan banyak yang
kurang akurat. Nama Bapak Pandu Sedunia ditulis Baden
Powell, padahal seharusnya
Baden-Powell dengan garis
sambung.
Lalu tanggal kedatangan
Baden-Powell ke Indonesia yang ketika itu masih berada
dalam jajahan Belanda dan
dinamakan Hindia-Belanda
(Nederlands Indie/Dutch East
Indies) bukan 3 Desember 1934
melainkan 4 Desember 1934. Baden-Powell juga bukan
datang ke Indonesia, waktu
kembali dari Australia. Justru
Baden-Powell beserta istri dan
dua anak perempuannya ke
Indonesia terlebih dulu, baru ke Australia untuk
menghadiri jambore di "Negeri
Kanguru" itu.
Kurang tepat p**a bila
dikatakan tak ada pandu-
pandu Indonesia yang ikut menyambut Baden-Powell
dan keluarganya.
Kenyataannya, bahkan tarian
Jawa dan Baduy dari Banten,
ikut ditampilkan dalam
upacara menyambut kedatangan Bapak Pandu
Sedunia. Baden-Powell juga
mendapat gong berukir,
sementaranya istrinya, Lady
Olave Baden-Powell,
mendapat piala perak, sebagai hadiah kenang-kenangan dari
para pandu di Hindia-Belanda.
Hasil penelitian saya itu,
kemudian saya tampilkan
dalam buku berjudul B-P & I
(Baden-Powell & Indonesia) dengan subjudul "Melacak
sejarah kedatangan Baden-
Powell ke Indonesia" setebal
89 halaman. Buku itu
kemudian saya terbitkan
secara terbatas untuk memperingati Hari Baden-
Powell/Founder's Day pada 22
Februari 2008. Buku tersebut
telah saya bagikan kepada
sejumlah tokoh Gerakan
Pramuka seusai acara peringatan Hari Baden-Powell
di Cibubur, Jakarta Timur,
Jumat sore. Di antaranya
kepada Wakil Ketua Kwarnas,
Kak Amoroso Katamsi, lalu
kepada Sekretaris Jenderal Kwarnas, Kak Joedyaningsih,
dan Kepala Lembaga
Pendidikan Kader Nasional
Gerakan Pramuka, Kak Djoko
Mursito.
Inilah bingkisan kecil yang saya persembahkan di Hari
Baden-Powell tahun ini, yang
tanpa terasa telah 40 tahun
p**a saya menjadi anggota
Gerakan Pramuka sejak
pertama kali mendaftar sebagai Calon Pramuka Siaga
pada 1968.