11/03/2013
VISI NAHDLATUL ULAMA (NU) DI TAHUN 2013
Berangkat dari berbagai persoalan yang
dihadapi bangsa ini sejak beberapa tahun
yang lalu, maka mulai awal tahun 2013 ini
hingga beberapa tahun sesudahnya
diharapkan ada kemajuan yang berarti bagi
bangsa ini baik di bidang sosial-politik,
bidang ekonomi dan bidang kebudayaan.
Oleh sebab itu, NU kembali mengajak seluruh
komponen bangsa baik pemerintah, kalangan
TNI, partai politik, kalangan bisnis, kelompok
profesional, kalangan Ormas, lembaga swadaya
masyarakat dan tidak ketinggalan p**a
kalangan agamawan agar bersatu padu untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan yang
dihadapi rakyat dan bangsa ini dengan
menggunakan cara dan sarana yang dimiliki
oleh bangsa ini sendiri.
Ke depan, kita ingin mencari soluasi yang
tepat dan relevan, karena itu kita harus
memulai berani dan percaya diri mencari
solusi dari khazanah filsafat dan budaya kita
sendiri serta menerapkan strategi yang
diwariskan oleh bangsa ini dalam menata
masyarakat, bangsa dan negara. Dalam
kenyataannya sistem sosial, sistem politik
ketetanegaraan kita, sistem ekonomi dan gerak
budaya kita telah menyimpang dari tata nilai
banagsa ini. Karena itu, harus diluruskan
kembali.
I.Bidang Politik Ketatanegaraan
Sejak masa reformasi, sistem politik
ketatanegaraan kita dibangun berdasarkan
falsafah liberalism dan individualism.
Demikian hanya struktur politik juga dibentuk
berdasarkan liberalism itu. Dipermukaan
memang menunjukkan kemajuan, tetapi secara
subtantif banyak menimbulkan persoalan.
Demokrasi yang dikembangkan berdasarkan
hak dan kebebasan tanpa batas telah memicu
terjadinya konflik antarkelompok. Karena itu,
sistem sosial dan politik perlu ditata kembali
berdasarkan falsafah dan tradisi bangsa ini.
Tahun-tahun mendatang, bangsa ini akan
dihadapkan pada situasi yang sangat politis.
Karena itu, semua pihak yang berkompetisi
meraih kekuasaan di tahun 2014 hendaklah
bisa menahan diri dan tetap menjaga norma
dan aturan main serta fatsun politik agar
masyarakat tetap rukun dan bangsa ini utuh
dan aman.
Penataan kembali struktur politik dan
dibarengi dengan perbaikan mental dan
perilaku para pelaku politik ini diharapkan
akan merupaklan dasar dari pemerintahan
yang bersih dari korupsi dan diharapkan
mampu memberikan kesejahateraan rakyat
dan mampu menjaga keutuhan dan
kewibawaan negara. Kembali pada semangat
revolusi dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur
Pancasila haruslah menjadi titik tolak dari
semua gerak dan langkah politik ini.
II. Bidang Ekonomi
Liberalisasi di bidang ekonomi yang lebih
mengutamakan kepentingan usaha besar dan
kepentingan asing dengan mengabaikan
usaha rakyat serta usaha nasional telah
meruntuhkan fundasi ekonomi nasional yang
beroroientasi kerakyatan. Apalagi setelah
pemerintah menjalankan agenda WTO secara
menyeluruh melalui proses importasi yang
tanpa batas, menjadikan negara ni dibanjiri
oleh produk asing. Tidak hanya barang
industri, tetapi juga bahan pertanian,
khususnya pangan, sehingga menghancurkan
usaha pertanian rakyat.
Pertumbuhan ekonomi makro nasional yang
diklaim sebesar antara 6 hingga 7 persen,
bukanlah pertumbuhan yang riil ada di
masyarakat. Itu hanya pertumbuhan di
kalangan skala kecil penguasaha yang
sebagaian besar juga dikuasai asing.
Sementara ekonomi rakyat semakin terupuk,
ketika tidak mendapatkan subsidi, serta tidak
mendapat perlindungan pemerintah dari
serbuan produk asing. KUR yang selama ini
dipropagandakan, hingga kini belum
menyentuh pada rakyat yang
membutuhkannya. Karena itu, PBNU berharap
agar pemerintah segera mengubah orientasi
dan kebijakan ekonominya, menjadi ekonomi
yang memperkuat ekonomi nasional
khususnya ekonomi rakyat, agar rakyat
sejahtera dan negara terbebas dari jerat
utang. Bantuan produktif di sektor pertanian
baik berupa teknik dan proteksi serta fasilitas
pasar, akan jauh lebih berarti dan lebih
dibutuhkan rakyat, ketimbang bantuan
langsung tunai (BLT) yang konsumtif yang
membuat rakyat pasif. Ekonomi akan tumbuh
bila rakyat bertindak kreatif dan ini perlu
fasilitas dan insentif yang memadai.
III. Bidang Kebudayaan
Bangsa Indonesia dan bangsa Timur lainnya
memiliki budaya tradisi yang adat serta norma
yang sesuai dengan kondisi ketimuran. Tetapi
dengan hadirnya globalisme yang
mempropagandakan budaya Barat bahkan
dipaksakan melalui pelbagai sarana dan
media seperti lembaga pendidikan, media
massa, seni budaya, ternyata telah mengubah
perilaku dan adat istiadat masyarakat.
Semuanya ini telah mengakibatkan terjadinya
“kaget budaya”. Kekagetan budaya ini
mengakibatkan masyarakat mengalami split
moral. Maka perlu adanya penataan di bidang
seni budaya, pendidikan dan media massa.
Semuanya harus diarahkan untuk membentuk
karakter dan menanamkan moralitas serta
kreativitas.
1. Dalam masyarakat Timur yang mengenal
falsafah mikul duwur mendem jero, yaitu
menjunjung tinggi moralitas dan menjaga
kerahasiaan, telah diubah manjadi masyarakat
transparan sehingga dengan alasan untuk
memperoleh kebebasan informasi maka setiap
individu bisa dikorek informasinya dengan
tanpa menghormati batas privasi seseorang.
Setiap orang yang berperkara diungkap
dengan sedetil-detilnya. Hal itu tidak hanya
terbukanya aib seseorang, tetapi lebih
berbahaya lagi adalah kejahatan tersebut
disosialisasikan sehingga ditiru oleh pihak
lain. Demikian juga dalam produksi seni
budaya baik dalam film, tari, musik serta
berbagai talkshow telah mempertontonkan
adegan erotis di depan umum seperti
berpelukan antara pria-wanita yang bukan
muhrim, membuka aurat dan gerakan erotis
lainnya, telah mewarnai dunia pertunjukan di
negeri ini dan disebarkan melalui TV dan
internet sehingga mengubah perilaku remaja.
Padahal perilaku semacam itu bertentangan
dengan norma ketimuran dan agama Islam.
2. Pendidikan nasional haruslah dikembalikan
pada filosofi dasar dan tujuan awalnya, yaitu
untuk memanusiakan manusia. Dengan
demikian, pendidikan perlu dijuahkan dari
unsur bisnis, karena hal yang demikian akan
menjauhkan masyarakat dari pendidikan.
Pendidikan haruslah dikembalikan sebagai
pusat pembudayaan, penanaman nilai budaya
dan pusat pengembangan budaya. Di situlah
pentingnya menempatkan lembaga pendidikan
di segala strata sebagi pusat pemebentukan
karakter. Ketika bangsa Indonesia mulai
mengalami memudar karakternya, maka dunia
pendidikan yang mengemban tugas
pembentukan karakter bangsa ini dengan
menggali, mengaktualisasi budaya nasional
yang ada, sehingga masyarakat bangga
terhadap budaya sendiri.
3. Mesdia massa merupakan sarana penting
untuk penyebaran informasi dan pendidikan
masal. Karena itu, media harus dikembalikan
pada tujuan awal, yaitu menanamkan nilai-
nilai, yang dalam hal ini adalah nilai
keagamaan dan adat ketimuran. Kebebasan
memperoleh informasi hendaklah tidak
digunakan untuk membongkar aib seseorang.
Demikian juga kebebasan memperoleh
informasi janganlah digunakan untuk
membongkar rahasia negara sehingga
mengancam kepentingan negara. Dalam
pemberintaan media massa hendaklah tetap
berpegang pada norma agama, norma susila
serta menjaga keamanan dan kerukunan
nasional.
Penutup
Sebagai organisasi sosial keagamaan, NU
berharap agar bangsa ini menjadi bangsa
yang maju dan berperadaban tinggi setara
dengan peradaban yang lain. Kemajuan ini
hanya bisa diperoleh bila bangsa ini memiliki
rasa percaya diri dan bangga dengan tradisi
dan budaya sendiri. Untuk menjadi bangsa
yang bangga terhadap budaya sendiri, perlu
usaha pembinaan dan pembentukan karakter.
Lembaga negara, lembaga pendidikan,
lembaga kesenian, termasuk lembaga ekonomi,
dan media masa, perlu digunakan sepenuh-
penuhnya dan seluruhnya untuk membangun
karakter bangsa ini. Dan sekaligus sebagai
sarana memajukan bangsa.
Jakarta, 9 Januari 2013
KH Said Aqil Siroj
Ketua Umum PBNU
* Disampaikan dalam kegiatan Refleksi Awal
Tahun 2013 di Kantor PBNU Jakarta, Rabu
(9/1).