Mola Hijrah

Mola Hijrah Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Mola Hijrah, Bangkinang, Pekanbaru.

27/05/2020

Pengerti arti Bacaan Sholat

Sebenarnya jika kita tanya hati kita paling dalam. Apakah kita mengerti dengan semua bacaan Sholat yang kita baca?

Memang jika kita ingin mengetahui dan mengerti apa yg kita lafadzkan saat kita Sholat, maka hal itu akan sangat jauh lebih baik, malah mungkin jika kita resapi kita akan mendapatkan apa itu ke Khusyuk an dalam melaksanakan Sholat Fardhu kita.

Rasulullah Salallahu alaihi wassalam bersabda “sholatlah seakan-akan engkau sedang melihat Allaah atau Allaah sedang melihatmu” ( Rukun Ihsan ).

Mari kita mulai belajar meresapi arti dari bacaan Sholat kita.
Karena Sholat merupakan Dzikir yang sempurna.

Takbir
Takbiratul Ihram —-> ALLAAHU AKBAR

(Allah Maha Besar)

Iftitah

Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)

Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam).

Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.
(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)

Al Fatihah

Adapun Rasulullah pada waktu membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali.
Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya.

Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim)
(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Alhamdulillaah, Rabbil ‘aalamiin
(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta ‘alam)

Arrahmaan, Arrahiim
(Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Maaliki, yaumiddiin
(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)

Iyyaaka, na’budu, wa iyyaaka, nasta’iin
(Hanya KepadaMulah, kami menyembah, dan hanya kepadaMulah, kami mohon pertolongan)

Ihdina, asshiraathal, mustaqiim
(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)

Shiraath, alladziina, an’am, ta ‘alayhim
(Jalan, yang, telah Engkau beri ni’mat, kepada mereka)

Ghayril maghduubi ‘alaihim, wa laddhaaaalliiin.
(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)

Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Rasulullah bersabda “Apabila engkau berdiri utk shalat bertakbirlah lalu bacalah yg mudah dari al-Qur’an “.

Ruku’

Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan :

Subhaana, rabbiyal, ‘adzhiimi, Wabihamdihi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)

—-> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.
(Hadits Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)

Rasulullah sering sekali memperpanjang Ruku’, Diriwayatkan bahwa :

“Rasulullaah menjadikan ruku’nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”
(Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

I’tidal

Pada saat ketika kita i’tidal atau bangkit dari ruku, dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, seiring Rasululullah menegakkan punggungnya dari ruku’ beliau mengucapkan:

Sami’allaahu, li, man, hamida, hu
“Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)

“Apabila imam mengucapkan “sami’allaahu liman hamidah”, maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)

Hal ini diperkuat p**a dengan : Disaat Rasulullah sedang Sholat berjamaah, lalu ketika I’tidal beliau mengucapkan “Sami’allaahu, li, man, hamidah” lalu ada diantara makmun mengucapkan “Rabbanaa lakal hamdu”, Lalu pada selesai Sholat, Rasul bertanya “Siapakah gerangan yang mengucap “Rabbanaa lakal hamdu”, ketika aku ber I’tidal? Aku melihat para malaikat berlomba lomba untuk menulis kebaikan akan dirimu dari jawaban itu”.

Maka sudah cukup jelas bahwa mari kita mulai melafalkan :
Rabbanaa, lakal, hamdu
(Ya Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)

Kesempurnaan lafadzh diatas :

mil ussamaawaati, wa mil ul ardhi, wa mil u maa shyi’ta, min shai in, ba’du
(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)
(Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu ‘Uwanah)

Sujud

Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do’a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah.
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.

Subhaana, rabbiyal, a’laa, wa, bihamdi, hi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)

Duduk antara dua Sujud

Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita melafadzkan seperti yang dilakukan Rasulullaah, dan bacalah do’a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah Subhanahu wataala. Di dalam duduk ini, Rasulullah mengucapkan :

Robbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii
wahdinii, wa ‘aafinii, Wa’Fuanni

(Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)

Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim).

Duduk At-Tasyaahud Awal

Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu ‘Uwanah, Asy-Syafi’i, dan An-Nasa’i.
Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Rasulullaah telah mengajarkan At-Tasyahhud kepada kami sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepada kami. Beliau mengucapkan :

Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah.
Assalaamu ‘alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh.
Assalaamu ‘alayna wa ‘alaa ‘ibaadillaahisshaalihiin.
Asyhadu allaa ilaaha illallaah.

Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah.
(dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa, muhammadan, ‘abduhu, warasuuluh)

2. Menurut hadist yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Abi Syaibah.
Dari Ibn Mas’ud berkata, Rasulullaah telah mengajarkan at-tasyaahud kepadaku, dan kedua telapak tanganku (berada) di antara kedua telapak tangan beliau - sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepadaku : —-> (Mari diresapi setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk)

Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.
(Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan).

Assalaamu ‘alayka *, ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu , wahai Nabi, dan beserta rahmat Allah, dan berkatNya).

Assalaamu ‘alaynaa, wa ‘alaa, ‘ibaadillaahisshaalihiiin.
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami p**a, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh).

Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.
(Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allah).

Wa asyhadu, anna muhammadan, ‘abduhu, wa rasuluhu.
(Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya).

Notes : * Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan :
Assalaamu ‘alannabiy
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi).

Bacaan shalawat Nabi Muhammad di akhir sholat

Rasulullah mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari’atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya.

Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum/biasa kita lafadzkan, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.

Allaahumma, shalli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa, aali muhammad.
(Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad)

Kamaa, shallayta, ‘alaa ibrahiim, wa ‘alaa, aali ibraahiim.
(Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim).

Wa ‘barikh alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad.
(Ya Allah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad)

Kamaa, baarakta, ‘ala ibraahiim, wa ‘alaa, aali ibraahiiim.
(Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim).

Fil Allamina Innaka, hamiidummajiid.
(Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia).

Salam

“Rasulullah mengucapkan salam ke sebelah kanannya :

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh

(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah, serta berkatNya),

sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah

(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri.”

( Hadist Riwayat : Abu Daud, An-Nasa’i, dan Tirmidzi )

Mari di perhatikan, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih lengkap daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua )

————————————————————————————————————————-

Subhanallah dan Alhamdulillah, Maha Benar Allah atas segala FirmanNya. Luar biasa sekali ya arti dari bacaan Sholat ini. Makin merunduk kita, makin terlihat kecil kita, makin menangis kita.

Saya berharap agar ini menjadi bagian dari jalan kemudahan untuk kita di dalam menggapai khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan. Maka jika kita tahu dan mengerti akan nikmatnya shalat itu, mari kita share ke keluarga kita.

Selamat meresapi dan jangan lupa untuk share ke orang orang yang kita cintai.

(Sumber : Islamidiaris)

31/08/2019

Andai Yang Mati Bisa Bicara

Telah diberikan apa yang mencukupi, tapi tetap masih meminta apa saja yang bisa membuat diri melampaui batas...

Tidak pernah merasa puas dengan yang sedikit, dan tidak pernah merasa kenyang meskipun dengan yang banyak...

Maka sungguh aneh orang yang menyakini adanya tempat kebenaran (akhirat), tapi dia berusaha keras untuk tempat penipuan (dunia)...

Oh, alangkah celakanya diri...
Bagaimana mungkin ia lalai, sedangkan Allah 'Azza wa Jalla tidak pernah lalai...?

Bagaimana mungkin orang yang syahwatnya tidak pernah puas dan keinginannya tidak pernah berakhir bisa beramal untuk akhirat...?

Bagaimana hidup bisa memberi kenyamanan, sedangkan hari yang amat berat menunggu selalu dibelakang sebelum nyawa dicabut...?

Saat ini kita belum merasakan mati, tapi kedatangannya adalah pasti, meskipun tak seorangpun tahu, kapankah maut akan datang segera menghampiri...

Saat ini belum ada yang disesali, namun boleh jadi ia datang esok hari saat penyesalan dan kesedihan tak berguna lagi...

Kematian merupakan akhir dari kehidupan dunia, dan alam kubur merupakan tempat kehidupan akhirat yang pertama kali...

Andai orang yang mati dapat berbicara...
Andai bisa mendengar rintihan mereka...

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

"Dan (alangkah mengerikan), jika sekiranya engkau melihat orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata) : “Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami (sekarang) adalah orang-orang yang yakin"
(QS. As-Sajdah [32]: 12)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

"Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sebentar saja, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulailah menangisi diri kalian sendiri"

Wahai Saudaraku...

Saat ini Malaikat Maut sudah bersiap-siap untuk segera mencabut nyawamu...
Mengapa engkau tidak menangis atas sisa-sisa umurmu dari hidup ini...?
Berapa banyak orang yang diakhir hidupnya tergelincir dengan melakukan amalan buruk ketika ajal menjemputnya...?

Sampai kapankah kebaikan-kebaikan terus menghilang, dan maksiat-maksiat terus saja diperbarui dalam melakukannya...?
Sampai kapankah akan waspada terhadap satu hari ketika kulit berbicara dan akan memberikan kesaksian di dalamnya...?

Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang berdosa untuk segera bertaubat...?
Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang lalai untuk segera sadar...?
Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk segera berhijrah...?

Janganlah tahan air matamu, hingga melihat keuntungan yang pasti di akhirat...
Janganlah bertaubat lalu merasa gembira, sebelum mengetahui akibat dari segala amal perbuatan dan kesudahan di hari Kiamat...

Mu'min yang akan meninggalkan dunia ini tidaklah menangis karena dunia yang akan ditinggalkan, tapi mereka menangis karena akan memasuki akhirat, dan merasa belum banyak berbekal diri untuknya...

Ketahuilah, kebanyakan penghuni kubur itu disiksa, sedangkan yang selamat di antara mereka sangatlah sedikit. Yang tampak dari kuburan adalah tanah, sedangkan di dalamnya adalah kerugian, penyesalan, musibah dan bencana...

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Seandainya di masjid ada 100.000 orang atau lebih, dan di dalamnya ada SEORANG penghuni Neraka, lalu ia pun bernafas dan nafasnya mengenai mereka, tentulah nafas itu bisa membakar masjid beserta orang-orang yang ada di dalamnya"
(HR. Abu Ya'la no. 6640, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.3668)

Ya Allah, wafatkan kami husnul khatimah...
Ya Allah, selamatkan kami dari siksa kubur...
Ya Allah, selamatkan kami dari api Neraka...

➖Ustadz Najmi Umar Bakkar

====================

30/08/2019

HARI JUM'AT YANG PENUH ISTIMEWA

🔸 Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala berkata:

"Hari Jum'at adalah hari yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Dalam setiap hari dia memiliki keistimewaan dengan beragam bentuk ibadah, baik yang wajib maupun yang mustahab.

Allah subhanahu telah menjadikan satu hari khusus untuk umat setiap agama, yang mereka habiskan untuk beribadah dan menyingkir dari kesibukan dunia.

Maka hari Jum'at adalah hari untuk beribadah (bagi kaum muslimin, pen). Hari jumat dalam satu pekan, sebagaimana ramadhan dalam satu tahun.

Waktu yang mustajab pada hari Jum'at bagaikan lailatul qadr pada bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, barangsiapa yang sukses dan selamat dalam menjalani hari Jum'at maka akan sukses p**a seluruh hari dalam satu pekannya.

Barangsiapa yang sukses dan selamat menjalani Ramadhan, sukses p**a sepanjang tahunnya.

Barangsiapa yang sukses dan selamat dalam menunaikan haji, sukses p**a seluruh usianya.

Sehingga hari Jum'at merupakan timbangan satu pekan, Ramadhan adalah timbangan satu tahun, dan haji adalah timbangan sepanjang usia. Wabillahit taufiq."

📚 (Zadul Ma'ad, 1/386)

25/08/2019

APA YANG DAPAT DIBANGGAKAN ISTRIMU TENTANG DIRIMU?

Penulis : Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

Di Dammam, Saudi
《 Redaksi Salam Dakwah 》

Saya pernah membayangkan, ketika seorang istri menggandeng suaminya

Mungkin perasaan istri waktu itu adalah ia ingin memperlihatkan kepada semua orang, kepada dunia, ini loh suami saya, seakan ia ingin berkata:

“Wahai dunia lihatlah…,

Saya mempunyai suami yang taat kepada Allah.

Saya mempunyai suami yang tidak pernah meremehkan shalat apalagi sampai meninggalkannya.

Saya mempunyai suami yang sangat bakti kepada orangtuanya terutama ibunya.

Saya mempunyai suami yang bisa membaca Al Qur'an dan bahkan banyak hafalannya.

Saya mempunyai suami yang sangat baik akhlaknya bahkan bukan hanya sesama temannya tetapi terutama kepada istri dan anak-anaknya.

Saya mempunyai suami yang menafkahi saya, meski terkadang seadanya tetapi yang penting dia bertanggung jawab terhadap saya dan anak-anak."


Nah...

Wahai para istri…kira-kira bayangan saya benar atau tidak?

Dan untukmu Wahai para suami…Tidakkah kamu merasa malu, jika tidak ada yang dapat dibanggakan istrimu dari dirimu?

17/08/2019

📘 KETIKA MERASA BERAT MEMBANTU ORANG LAIN 📗

Oleh : Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc, MHI

Bila seorang di antara kita ada yang merasa berat untuk membantu menyelesaikan hajat atau kebutuhan saudaranya sesama muslim, hendaknya ia memperhatikan beberapa keutamaan dari perbuatan terpuji tersebut:

[1]. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lebih s**a menyelesaikan hajat seorang muslim dari pada i’tikaf selama sebulan penuh di Masjid Nabawi.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ (يَعْنِيْ مَسْجِدَ الْمَدِيْنَةِ) شَهْرًا

Sungguh sekiranya aku berjalan bersama seorang saudara untuk menyelesaikan urusannya, lebih aku cintai dari pada aku i’tikaf di masjid ini (yakni masjid Madinah) selama sebulan. (Hadis Hasan Lighairihi. lihat Shahih at-Targhib No. 2623 & ash-Shahihah No. 906)

[2]. Allah Ta’ala akan meneguhkan kedua kaki seorang muslim yang menyelesaikan urusan saudaranya.

Di lanjutan hadis yang sama dengan poin pertama di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:

وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيْهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى يَقْضِيَهَا لَهُ ثَبَّتَ اللَّهُ قَدَمَيْهِ يَوْمَ تَزُوْلُ الْأَقْدَامُ

Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk suatu kebutuhan hingga ia menyelesaikan kebutuhan bagi saudaranya itu, niscaya Allah akan meneguhkan kedua kakinya pada hari di mana banyak kaki yang tergelincir. (Hasan Lighairihi. Lihat Shahih at-Targhib No. 2623)

[3]. Allah Ta’ala akan memberikan pertolongan bagi orang yang membantu saudaranya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia terus menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Pada riwayat yang lain disebutkan beliau bersabda:

لاَ يَزَالُ اللَّهُ فِي حَاجَةِ الْعَبْدِ مَا دَامَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ

Allah senantiasa menyelesaikan hajat seorang hamba selama ia terus membantu menyelesaikan hajat saudaranya. (Hadis Sahih Lighairihi. Lihat Shahih at-Targhib No. 2619)

[4]. Perbuatan terpuji ini termasuk amalan yang paling utama.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَفْضَلِ اْلأَعْمَالِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُؤْمِنِ؛ تَقْضِيْ عَنْهُ دَيْناً، تَقْضِيْ لَهُ حَاجَةً، تُنَفِّسُ لَهُ كُرْبَةً.

Di antara amalan yang paling utama adalah, menyenangkan seorang mukmin; engkau lunasi hutangnya, engkau menyelesaikan kebutuhannya, engkau hilangkan kesulitannya. (Hadis Shahih. Lihat: ash-Shahihah No. 2291)

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyaAllahu 'anhu secara marfu’ :

أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُؤْمِنِ؛ كَسَوْتَ عَوْرَتَهُ أَوْ أَشْبَعْتَ جُوْعَتَهُ أَوْ قَضَيْتُ لَهُ حَاجَةً

Amalan yang paling utama adalah menyenangkan seorang mukmin; engkau tutupi auratnya (dengan memberinya pakaian), engkau kenyangkan rasa laparnya (dengan makanan) atau engkau menyelesaikan hajatnya. (Hadis Hasan Lighairihi. Lihat: Shahih at-Targhib No. 2621)

[5]. Menolong saudara sesama muslim bernilai sedekah.

Di dalam sebuah hadisnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:

وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ

Engkau menolong seseorang pada tunggangannya dengan membantu untuk menaikinya atau mengangkatkan barang ke atas tunggangannya maka bernilai sedekah. (HR. Muslim)

Setelah memperhatikan dan merenungi keutamaan amalan yang terpuji ini, semoga kita tidak ragu lagi untuk membantu menyelesaikan urusan dan hajat saudara kita sesama muslim.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan taufik dan kemudahan bagi kita untuk mengerjakan segala hal yang baik dan bermanfaat. Aamiin.

Punya Anak, Tapi Seperti Tidak Punya Anak?!PUNYA ANAK TAPI SEPERTI TIDAK PUNYA ANAK??!!Anakmu sekolah sekitar 4-8 jam......
28/07/2019

Punya Anak, Tapi Seperti Tidak Punya Anak?!

PUNYA ANAK
TAPI SEPERTI
TIDAK PUNYA ANAK??!!

Anakmu sekolah sekitar 4-8 jam...
masih tersisa waktu dalam sehari sekitar 16-20 jam untukmu sebagai orangtuanya...

- Untuk walau sekedar makan bersama
- Untuk walau sekedar bersenda gurau bersama
- Untuk walau sekedar mengusap keringat di dahinya
- Untuk walau sekedar menemani tidurnya
- Untuk walau sekedar memperhatikan perkembangan fisik dan sifat anakmu

Belum lagi yang lebih,
lebih dan lebih penting dari itu semua?!

- Memperhatikan Akidahnya
- Memperhatikan Ibadahnya
- Memperhatikan Keilmuan Agamanya yang jangankan Anakmu, Kamu sendiri haram untuk tidak tahu, seperti bacaan Al Qurannya, masalah bersuci, masalah haid dan junub, dsbnya...

AYO PARA ORANGTUA;

RUBAHLAH GAYA HIDUPMU TERHADAP ANAK-ANAKMU

LUANGKAN WAKTU LEBIH UNTUK MEREKA

INGAT ANAKMU TIDAK HANYA BUTUH SANDANG PANGAN DARIMU,

TETAPI MEREKA LEBIH MEMBUTUHKANMU!

MASA PEKERJAAN, GADGET DAN SMARTPHONE, MEDSOS,

LEBIH KAMU PERHATIKAN DIBANDING DARAH DAGINGMU!!!

YANG MUNGKIN NANTINYA DIA LAH ANAKMU YANG MENDOAKANMU TATKALA ANDA SUDAH MENJADI HANYA SATU TULANG EKOR!!!

عن عائشة - رضي الله عنها - ، قالت : قال رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - : " إن أولادكم هبة الله لكم..." .

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya anak-anakmu adalah Anugerah Allah bagi kalian..."
HR. Hakim

NB: Jangan jadikan Anugerah tersebut malah menjadi siksa

JANGAN JADI ORANGTUA YANG PUNYA ANAK TETAPI SEPERTI TIDAK PUNYA ANAK...!

Sungguh banyak orang yang ingin punya anak tetapi belum diberikan Anugerah tersebut.

Ditulis Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary

________________________________

26/07/2019

KISAH ISTRI SHOLEHAH

(BERHAK UNTUK DIBACA…!!)

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan p**ang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memas**annya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.

Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...

Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….

Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin (SELESAI…)

Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…

Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…

Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci

Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-11-1434 H / 25 September 2013

Ustadz DR Firanda Andirja, MA

Address

Bangkinang
Pekanbaru

Telephone

+6285265073789

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mola Hijrah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share