17/06/2022
GALI LOBANG TUTUP LOBANG
SEMAKIN BANYAK LOBANG
"Saya ada didepan rumah pakcik !" begitu rekanku menghubungiku untuk ketemuan.
Malam-malam kala itu, sepertinya ada hal penting yg harus diselesaikan. Kuperhatikan raut wajahnya, sepertinya ada pergumulan berat yg menekan hidupnya.
Temanku mengeluh didepanku. Ia bercerita panjang tentang dirinya terlilit hutang yang membuatnya begitu gusar. Memang sangatlah tidak nyaman kalau hal seperti ini membelenggu kita.
Akupun berusaha menyimak keluh kesahnya, dan ingin tau latar belakangnya. Sementara hening tanpa percakapan, dalam batinku aku bicara
"kita adalah sama, hanya saja tujuan dan penanganannya mungkin sedikit berbeda".
Terkadang, banyak orang sebenarnya menceritakan masalahnya ke orang lain hanya untuk curhat. Ingin mendapat simpati, bukan untuk mencari solusi. Ia hanya butuh pendengar bukan pemberi jalan keluar.
Ia bermaksud mendapatkan orang² yang prihatin dengan masalahnya dan membelanya meski ia salah . Akhirnya ia semakin lumpuh tak berdaya oleh segala elusan empati. Dia semakin sayang diri karena yang diajak bicara tanpa memberi solusi.
Akhirnya dia terdiam dan tiba giliranku untuk bicara.
Kalau kamu siap, sini kuberikan jalan keluar...! Wajahnyapun respon mendengar tawaranku. Mungkin berpikir aku menalanginya.
Begini kawan, "berutang menutupi utang, itu ibarat gali lobang tutup lobang".
Seperti perahu bocor dimana² yang dengan cepat akan segera tenggelam, jika hanya menambal kebocoran itu tanpa pernah berusaha memperbaikinya.
Kamu selama ini berhutang hanya untuk menutupi hutang. Terus begitu sehingga menjadi kebiasaan.
Bagaimana tidak?
Dengan hutang baru untuk menambal hutang lama, sebenarnya malah membuat lubang² yang baru. Tidak lama lagi perahu ekonomimu akan karam tenggelam.
"Kamu boleh berhutang tapi gunakan utang sebagai modal untuk membangun sumber pendapatan. Jadikan hutang itu produktif, bukan konsumtif.
Pikirannya mulai jalan, paradigmanya mulai terarah.
Selain itu, ini saatnya hidup sederhana, nikmati apa adanya. Turunkan gaya hidup. Hidup sederhana itu jauh lebih nyaman dari pada hidup bermewah padahal gak punya.
Mempertahankan gaya hidup oleh karena gengsi, tentu akan semakin rumit. Jangan takut diukur orang...!
Menang gaya supaya terlihat kaya, apalah gunanya?
Jangan pengeluaranmu segunung padahal penghasilan segayung.
Tak apalah, terlihat minus diluar asalkan plus di dalam itu jauh lebih terhormat.
Memandangku semakin antusias.
Menusuk, tapi baginya seperti mengurai benang kusut, yang selama ini tak tau lagi Ujung pangkalnya.
Sekarang saatnya melepaskan apa yg ada, daripada memilikinya tapi merana.
Jual segalanya, sebab kemerdekaan dari utang membuat harga diri tidak terjajah.
Apalah artinya berbagai barang yang masih punya, apalagi kalau semua itu hanya terpajang. Mulailah menjualnya dan menutupi kewajiban dari pada dikejar terlunta².
Hutang itu memang bisa membuat seseorang menjadi sangat hina karena perlakuannya yang salah.
Wajahnya menjadi cerah sekarang. Ada harapan baru dan semangat yang dulu hilang. Aku berhasil menularkan energi positif pada dirinya.
Semua memang tergantung kita, tergantung sudut pandang dan seberapa kuat kemauan untuk berubah. Tanpa itu, doa puasa sehari semalam pun tidak akan pernah merubah keadaan.
Akhirnya, kupeluk dia dan kudoakan, mudah²an ada perubahan menuju pemulihan.
Oh ya....
Akupun tersenyum mengingat diriku bertahun² dulu dalam kebodohan yang sama. Kebodohan yang terus berulang². Aku dulu mengalaminya 🤭