Stasiun Kereta Mini Trangkil

Stasiun Kereta Mini Trangkil Hiburan Anak

Sepurnya wisata alam dulu :)
11/03/2018

Sepurnya wisata alam dulu :)

25/01/2018
11/01/2018

Dependensi atau Ketergantungan

Ada satu contoh pola terburuk dalam hidup. Orang menjadikan materi sebagai sumber kebahagiaan. Tapi ia tidak punya penghasilan, sehingga sehingga tidak punya akses langsung kepada sumber kebahagiaannya. Ia hanya bisa berharap orang lain seperti suami atau orang tua untuk mewujudkan hal-hal yang membahagiakan dia.

Kita menetapkan sumber-sumber kebahagiaan, dan kita menciptakan akses menuju sumber itu. Kita memastikan bahwa kita bisa mencapainya, dan menjadi bahagia. Selama kita menempatkan diri pada posisi tidak punya akses langsung, maka kita akan menjadi orang dependen yang tidak bahagia.

Jadi, cara mudah untuk bahagia adalah mencari sumber-sumber yang kita punya akses langsung. Atau membuat terobosan untuk mencapai sendiri sumber itu.

Banyak orang yang tidak sadar apa sumber kebahagiaannya, dan tidak berusaha mencari akses langsung ke situ. Ia terjebak dalam ketidakbahagiaan, tidak tahu bagaimana keluar dari situ. Itulah orang dependen. Jalan keluarnya cuma satu, memerdekakan diri.

11/10/2017

Universal Value vs Private Value

"Ayah, minum bir itu jelek, ya?" tanya Ghifari.

"Nggak."

"Tapi, kan haram."

"Ya. Yang haram itu tidak selalu jelek."

"Maksudnya gimana?"

"Kita tidak minum bir karena kita beragama Islam. Kita memilih untuk tidak minum bir, karena kita percaya bahwa Tuhan melarang kita. Orang lain yang tidak sama imannya dengan kita boleh minum bir."

"Tapi kan bir itu bikin mabuk."

"Mabuk itu tidak dilarang. Yang dilarang itu mengganggu orang lain. Misalnya, menyetir dalam keadaan mabuk. Itu membahayakan diri sendiri dan orang lain."

"Jadi, minum bir itu tidak jelek?"

"Tidak. Demikian pula halnya dengan makan daging babi."

Anak-anak saya ajari untuk melihat nilai-nilai dalam prespektif luas. Ada nilai universal, yang berlaku untuk semua orang. Ada nilai personal atau private, yang kita pilih untuk kita terapkan pada diri kita sendiri, tidak boleh kita paksakan untuk orang lain.

Tidak boleh mencuri, tidak boleh mengganggu orang lain, itu nilai universal. Semua orang harus menganutnya. Tapi tidak boleh makan babi, itu nilai private.

Nilai-nilai yang bersumber dari agama banyak yang merupakan nilai private, sehingga tidak boleh dipaksakan kepada orang lain. Bagaimana terhadap orang yang seagama dengan kita? Menganut agama yang sama tidak membuat kita jadi individu yang sama dengan orang lain. Artinya, kita tetap tidak boleh melintasi batas private dia. Kita tidak boleh mengusik atau mengatur nilai yang dia anut.

Salah satu sumber kekacauan di Indonesia ini adalah orang-orang yang tidak bisa membedakan 2 jenis nilai inii. Bagi yang tidak makan babi, perbuatan itu dianggap kejahatan yang harus diberantas. Yang tidak minum bir menganggap minum bir itu keburukan yang harus dihalangi. Padahal itu semua adalah nilai private yang tidak boleh dipaksakan berlaku untuk semua orang.

Mind your own business.

18/04/2017

Media Sosial, untuk Apa?

Tahun lalu dalam kunjungan ke Jepang, saya bertemu dengan seseorang yang sudah agak tua, usianya 60 tahun lebih. Sambil makan malam, obrolan kami masuk ke bahasan soal media sosial. Orang ini tidak punya akun media sosial apapun. Ia heran dengan orang yang main media sosial.

"Kenapa saya harus membagikan foto saya saat makan, atau bepergian, untuk dilihat orang lain?" tanyanya heran. Saya tak heran dengan pertanyaan itu. Ada begitu banyak orang yang heran dengan perilaku manusia di dunia maya. Untuk apa itu semua?

Suka atau tidak, media sosial adalah kebutuhan sebagian orang. Kalau bukan kebutuhan, produk ini tidak akan jadi industri, bukan? Sebagaimana produk lain, ada yang tidak membutuhkannya. Itu pun biasa saja.

Tapi pertanyaan tadi penting untuk dijawab. Untuk apa kita membagikan foto saat kita makan? Atau, makanan yang kita makan. Untuk apa kita membagikan foto anak kita? Atau, foto liburan keluarga kita?

Jawabannya bisa beragam. Kadang kita ingin memamerkan kebahagiaan kita, atau keberadaan materi kita. Ada juga yang ingin memamerkan, dengan siapa saja dia bergaul. Baik dengan kalangan elit, maupun dengan kalangan pinggiran, keduanya ingin memamerkan. Kita sedang membangun citra diri. Ada yang mencitrakan dirinya sebagai orang sukses dan kaya, ada pula yang membangun citra sederhana. Masalah? Tidak. Membangun citra, itu hal yang biasa saja. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sedang membangun citra.

Yang tidak bagus adalah membangun citra palsu. Orang miskin berlagak kaya. Korup, tapi sok suci. Atau, membangun citra yang berlebihan. Kalau isi media sosial Anda hanya pamer kekayaan, apakah Anda tidak punya hal lain dalam hidup?

Tapi tidak sedikit orang yang sekadar menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi kabar dengan teman, atau sanak saudara. "Kami sedang berkunjung ke sini, lho." Atau,"Kami sedang melakukan ini, lho."

Ada pula yang menggunakan media sosial untuk mempengaruhi orang lain. Ia melakukan propaganda. Propaganda bisa positif, bisa pula negatif secara absolut, bisa pula secara relatif. Tujuan propaganda adalah untuk menggiring orang pada suatu pemikiran, nilai, atau bahkan untuk bertindak.

Propaganda dengan mudah bisa kita temukan di media sosial. Bahkan, mungkin ini salah satu komponen terbesar media sosial kita. Propaganda politik, agama, kepentingan golongan. Hal terpenting pada propaganda adalah, ia tidak begitu mementingkan basis fakta, atau kebenaran. Yang penting adalah bagaimana menggiring orang.

Ada begitu banyak pengguna media sosial yang ambil bagian dalam permainan propaganda. Ingat, kunci terpenting pada media sosial adalah pada peran para pengguna. Suatu muatan tidak akan bermakna kalau tidak diteruskan secara massal, menjadi viral. Kekuatan media sosial bukan sekedar pada pembuat muatannya, tapi justru pada penyebarnya.

Tanpa disadari, banyak orang yang menjagi bagian sebuah propaganda. Ikut menyebar sesuatu, yang ia sendiri mungkin tidak tahu. Korban propaganda, mencari korban lain.

Sebaiknya bagaimana? Tetapkanlah nilai, lalu bermainlah di dunia sosial media berdasar nilai itu. Lebih penting lagi, jadikan media sosial sebagai tempat untuk mengevaluasi nilai-nilai yang kita anut. Persis seperti saat bergaul di dunia nyata, di mana kita hidup dengan nilai, Dalam interaksi, kita mengubah nilai kita, atau membuat orang lain mengubah nilainya.

Dalam media sosial, saya banyak membuat posting tentang nilai yang saya anut, misalnya soal ketertiban sosial, kebersihan lingkungan, good governance, self development, toleransi, pendidikan, kehangatan keluarga, dan sebagainya. Saya posting foto makanan, kemudian saya berbagi pengetahuan tentang makanan itu, resep, tempat kuliner, atau seluk beluk lain terkait dengannya. Demikian pula saat liburan, saya berbagi informasi tentang tempat liburan, serta nilai tentang bagaimana kehangatan keluarga saat liburan.

Tapi, seperti saya ungkap di atas, saya juga narsis, membangun citra, pamer dan sebagainya. Hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang di media sosial.

Ingat, media sosial adalah tempat di mana orang bisa melihat kita. Apa yang ingin kita perlihatkan? Dalam istilah keren, ini adalah tempat untuk melakukan personal branding. Maka, biasakan untuk menghasilkan dan membagikan gagasan di media sosial. Orang akan mengenal Anda melalui gagasan itu.

Saya menikmati hasil dari kegiatan di media sosial. Saya menjadi penulis, baik kolom maupun buku. Bahkan ada yang berminat mengumpulkan meme buatan saya menjadi sebuah buku. Saya juga diundang ceramah di banyak tempat, dengan tema yang bervariasi

Nah, penting bagi setiap orang untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang dia hasilkan dari aktivitas media sosial.

ABDURAKHMAN.COM

Paling tidak menjadikan gemar membaca. - Adm

09/04/2017

*Ajar Ikhlas soko wong Samin*

*Parjo* : Kang, sampeyan ngenehi duit Joyo?
*Samin* : Iyo.
*Parjo* : Sampeyan diapusi. Joyo kuwi sugih.
*Samin* : Ngapusi iku dudu urusanku. Kuwi urusane dekne karo Gustine Joyo.
*Parjo* : Lho sendalmu endi kang? Kok cekeran?
*Samin* : Ilang.
*Parjo* : Ora mbok golek'i sopo sing nyolong?
*Samin* : Ora, aku biyen lahir yo ora sandalan.
*Parjo* : Kang, sampeyan dirasani karo Joyo.
*Samin* : Ben wae.
*Parjo* : Sampeyan ora nesu
*Samin* : Lha saiki kowe yo ngrasani Joyo. Joyone yo ra nesu.
*Parjo* : Kang, pitikmu dipangan asune Joyo.
*Samin* : Wes ben.
*Parjo* : Kok sampeyan biasa wae? Ora njaluk ganti?
*Samin* : Aku malah kaget nek pitikku sing mangan asune si Joyo.
*Parjo* : Kang, wes mangan?
*Samin* : Durung.
*Parjo* : Mreneo tak wenehi duit.
*Samin* : Wegah. Aku ra doyan. Panganen dewe yen kowe doyan duit.
*Parjo* : Kang, tanduranmu rusak dipangan weduse Joyo.
*Samin* : Ben wae. Untung doyane tanduran. Yen weduse doyan papan, malah omahku sing dipangan.
*Parjo* : Kang, kowe ki ket mau mlaku ngalor ngidul..... ora jelas?
*Samin* : Lha yo kuwi. Nek jelas, mesthi aku mlaku ngalor thok opo ngidul thok.
*Parjo* : Kang, klambi sing mbok pepe dicolong uwong.
*Samin* : Ben. Wong salahku dewe, aku mepe klambi tak pamer2ke ning njobo.
*Parjo* : Kang, kok mlaku? Sapi sing biasa mbok tumpaki endi?
*Samin* : Ilang.
*Parjo* : Kok malah ngguya ngguyu?
*Samin* : Lha untunge dicolong pas ora tak tumpaki. Nek pas tak tumpaki aku yo katut ilang no.....😄
*Parjo* : Kang, bayarane Joyo luweh gede timbang bayaranmu lho.
*Samin* : Ben.
*Parjo* : Kan ora adil.
*Samin* : Adil ora kudu podo. Kowe tak pakani katul podo karo pitik yo emoh to?
*Parjo* : Kang, pelem-mu dicolong Joyo.
*Samin* : Ben.
*Parjo* : Kok ben?
*Samin* : Lha kowe kok iyik to? Biasane yen dicolong codot aku yo meneng wae....
*Parjo* : Kang, jare wingi omahmu kelebon maling?
*Samin* : Iyo.
*Parjo* : Lho, kok iyo? Berarti sampeyan ngerti?
*Samin* : Ngerti. Tapi aku mumpet mergo isin ra duwe barang sing iso dimaling....
*Sopo yoo sing sanggup duwe nalar koyo Samin? Nek sanggup koyo Samin, kayane uripe bakal ayem tentrem.....*

Copas

Escape VelocityKita semua yang berada di muka bumi ini terikat oleh suatu gaya atau kekuatan, yaitu gravitasi. Cobalah A...
16/03/2017

Escape Velocity

Kita semua yang berada di muka bumi ini terikat oleh suatu gaya atau kekuatan, yaitu gravitasi. Cobalah Anda meloncat ke atas, maka Anda akan kembali jatuh ke bumi. Lemparkan sesuatu ke atas, ia akan jatuh lagi. Pesawat terbang tinggi, akan mendarat di muka bumi. Kita semua terikat sangat erat oleh kekuatan maha besar yang benama gravitasi tadi.

Tapi kekuatan maha besar itu bisa dilawan. Bila kita mampu melempar sesuatu dengan kecepatan sebesar 40.270 km/jam dari permukaan bumi, maka benda tersebut akan bergerak ke atas, terus ke atas. Kecepatannya akan berkurang secara perlahan oleh tarikan gravitasi bumi. Tapi ia masih akan cukup cepat untuk mencapai suatu titik di mana gravitasi bumi tidak lagi cukup kuat untuk menariknya kembali ke muka bumi. Ia akan terbebas dari pengaruh gravitasi, melayang bebas di ruang angkasa. Dalam fisika kecepatan itu disebut kecepatan kabur, atau escape velocity.

Dalam kenyataan manusia bisa meninggalkan bumi, mencapai tempat yang bebas dari gravitasi bumi. Caranya tidak dilempar dengan kecepatan tinggi, tapi dengan membawa bekal tenaga, berupa bahan bakar roket. Bahan bakar itu dibakar secara bertahap, diubah menjadi tenaga gerak yang dikeluarkan terus menerus, hingga titik gravitasi nol dicapai. Itulah yang dilakukan oleh para astronot.

Kita, bangsa Indonesia ini, masih berada dalam ikatan "gravitasi" kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Ekonomi kita masih belum cukup untuk membuat kita menjadi bangsa yang makmur, terlebih merata. Sains dan teknologi kita masih tertinggal jauh, bahkan masih tertinggal bila sekedar dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang sedang berkembang. Cara berpikir kita, cara hidup kita, semangat dan etos kerja kita masih rendah. Lebih parah lagi, kita korup. Kita masih terbelakang.

Kita membutuhkan tenaga sebesar tenaga gerak benda yang bergerak dengan kecepatan kabur tadi untuk membawa kita lepas dari belitan persoalan-persoalan tadi. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Caranya dengan membuat lompatan besar pada setiap generasi.

Saya teringat pada Emak dan Ayah saya. Emak saya buta huruf, tidak pernah sekolah. Ayah saya hanya sekolah sampai kelas 2 Sekolah Rakyat. Tapi saya, bisa sekolah sampai jenjang doktoral. Saudara-saudara saya ada yang jadi sarjana, juga S2. Ini adalah lompatan besar antar generasi. Tidak hanya dalam tingkat pendidikan, tapi juga dalam hal kemakmuran. Emak dan Ayah memulai hidup dari sebuah gubuk di tepi hutan saat mereka mulai membangun kebun. Saat mereka tua, mereka sudah jauh lebih makmur. Kami memulai hidup dengan tingkat kemakmuran yang Ayah dan Emak punyai, dan melanjutkan hidup lebih makmur lagi.

Ada banyak orang seperti saya. Berasal dari keluarga miskin di kampung, tumbuh berkembang menjadi lebih berpendidikan dan lebih makmur. Tentu saja ada pula yang menurun. Orang tuanya makmur dan berpendidikan, anak-anaknya jauh di bawah taraf itu. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak orang-orang yang meningkat, dan mencegah orang-orang untuk menurun.

Persoalan yang mungkin akan menggagalkan kita melakukan kabur atau escape adalah keterlenaan. Ketika kita sudah makmur, kita merasa sudah di puncak, lalu berhenti. Seharusnya kita bisa membuat lompatan lebih besar lagi, tapi kita tidak melakukannya. Kita berpuas diri.

Ada pelajaran penting yang bisa kita lihat saat ini, soal Jepang dan Korea. Jepang tadinya negara hebat. Korea tadinya adalah jajahan Jepang. Kini mulai mengalahkan Jepang di berbagai bidang. Apa yang sedang terjadi? Korea adalah orang yang sedang mendaki. Mereka sedang bersemangat. Adapun Jepang, mereka sudah di puncak. Orang-orang yang sekarang membangun Jepang adalah generasi yang dibesarkan dalam lingkungan puncak. Mereka bukan para pendaki.

Celakanya, kita ini sering bermental orang puncak, bukan mental pendaki, saat kita belum benar-benar di puncak. Seperti saya tulis di atas, kita sudah berpuas diri sebelum waktunya.

Lebih celaka lagi, kalau kita memanjakan anak-anak kita. Kita mengira tugas kita selesai dengan menghidupi mereka dengan kemakmuran. Lalu anak-anak kita menjadi anak-anak malas, yang di kemudian hari tidak tahu mereka akan hidup menjadi apa. Jadilah mereka generasi gagal. Gagal untuk sekedar mengulangi sukses orang tuanya. Kalau ini terjadi secara massal, bangsa kita akan jadi roket gagal. Terbang sejenak, lalu jatuh tak berdaya, terhempas hancur di muka bumi. Kita jadi negara gagal.

Bagaimana mencegah ini semua? Pertama, teruslah berkarya. Teruslah belajar, mengasah diri, meningkatkan kemampuan, memperbaiki kemakmuran, dan meningkatkan kontribusi di bidang-bidang yang kita geluti. Jangan pernah puas dengan pencapaian kita sekarang. Jangan merasa hebat. Jangan cepat-cepat jumawa, ingin terkenal, ingin dipuja dengan kontribusi kecil kita saat ini. Masih banyak yang harus kita kerjakan sebelum kita mati 20 atau 30 tahun lagi.

Kedua, siapkan anak-anak kita untuk membuat lompatan yang lebih besar dari yang sudah dilakukan oleh generasi kita. Kalau Emak saya buta huruf, saya bisa jadi doktor, setidaknya anak saya harus melakukan lompatan sebesar itu. Tentu saja anak-anak saya tidak harus jadi doktor. Tapi mereka harus bisa berkontribusi jauh lebih besar dari yang sudah dan akan saya lakukan. Demikian pula anak-anak Anda semua.

Bagaimana caranya?
Dengan pendidikan. Kita mulai dengan peran kita mendidik anak-anak kita di rumah, mendampingi mereka, memudahkan kesulitan-kesulitan mereka, menjadikan mereka pejuang tangguh. Tidak bisa tidak, kita harus menjadi guru bagi mereka.

Tapi mungkinkah?
Kita dulu punya modal semangat besar karena kita miskin. Kini sebagian besar dari kita sudah makmur, bagaimana mendidik anak-anak untuk tetap bisa bersemangat? Bukankah hukum alam bahwa kalau kita sudah di puncak, kita akan cenderung loyo?

Tidak. Tidak ada hukum alam yang begitu bunyinya. Yang ada hanyalah kelalaian kita belaka. Mari kita pinjam filosofi puasa. Kita tidak perlu menjadi orang miskin untuk merasakan lapar. Kita melakukannya dengan berpuasa. Sama halnya, kita tidak perlu menjalani hidup miskin agar anak-anak kita jadi pejuang tangguh. Kita hanya perlu menghindari hal-hal yang bersifat memanjakan, dan memberikan mereka hal-hal yang menumbuhkan semangat. Detilnya tidak bisa saya tulis dalam tulisan singkat ini. Tapi intinya, masa depan bangsa ini di mulai dari rumah kita masing-masing.

Saya berharap kita semua mengingat itu setiap pagi saat kita bangun dari tidur, dan menjadikannya sebagai pengingat sampai kita tidur kembali di malam hari. Kita bukan sekedar hamba-hamba perut yang bekerja untuk sekedar mengisi perut kita sehari-hari. Kita adalah mesin-mesin roket pendorong, yang harus membebaskan bangsa ini dari tarikan gravitasi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Bangunlah setiap pagi dengan semangat itu!

http://abdurakhman.com/escape-velocity/

23/02/2017

Pesan untuk anak remaja yang ulang tahun :

"Kamu sudah 15 tahun. Itu usia transisi antara anak-anak dan dewasa. Tahu apa beda antara anak-anak dan orang dewasa?"

"Nggak."

"Anak-anak tak punya kebebasan, orang tua punya. Karena itu anak-anak tak dimintai tanggung jawab. Orang dewasa harus bertanggung jawab atas hal-hal yang ia pilih dan ia lakukan."

"Jadi, Ayah tidak akan banyak-banyak mengontrol kamu. Tidak akan mengomel. Kamu atur diri kamu sendiri, khususnya mengenai alokasi waktu. Mau main gitar, chatting, nonton TV, semua silakan aja. Cuma ingat. Setiap detik yang kamu habiskan di usia kamu sekarang, akan menentukan kamu akan jadi apa saat kamu dewasa kelak."

-Kang Hasan-

Address

Jalan PG Trangkil
Pati
59153

Opening Hours

Monday 16:00 - 21:00
Tuesday 16:00 - 21:00
Wednesday 16:00 - 21:00
Thursday 16:00 - 21:00
Friday 16:00 - 21:00
Saturday 16:00 - 21:00
Sunday 16:00 - 21:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Stasiun Kereta Mini Trangkil posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share