17/09/2020
DIKSAR PECINTA ALAM,
Bukan hal yang asing ditelinga. Yaitu sebuah proses perjuangan yang harus dijalani bagi calon anggota baru organisasi penggiat/pecinta alam yang seakan-akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi mereka sebagai calon anggota baru. Dengan persiapan yang tidak main-main, mulai dari persiapan fisik, fikiran, finansial, waktu, dan banyak lagi.
DIKSAR PECINTA ALAM, seolah-olah dihajar sesuatu yang belum pernah ditemui sebelumnya, fikiran diremas-remas, dilatih dengan kasus yang harus dihadapi saat itu juga. Lemah dan semakin lemah ketika Fisik di olah ( BUKAN KEKERASAN !!! ) yang menjadi makanan sehari-hari. Tak sedikit orang menganggap bahwa diksar tidak ada gunanya, tidak sedikit orang yang mencemooh, menghina, mengomentari apa yang sebenarnya mereka tidak tahu.
Terdapat beberapa point yang pasti ada dalam diksar pecinta alam,
1. Pembentukan karakter dan Mental yang Kokoh
2. Pembentukan sikap rendah hati, bijak, idealis dan beradab
3. Proses Transfer ilmu tentang kepecinta alaman
4. Pembentukan kesadaran akan rasa kekeluargaan
Beberapa pernyataan dibawah setidaknya menjelaskan poin-poin diatas
KETIKA HATI BERBICARA LUTUTPUN TAK BERDAYA
Manusia dilahirkan ke dunia ini tanpa ilmu, dalam keadaan tidak tahu apapun, akal yang lemah, dan fisik yang lemah. Kita akan bisa memahami sesuatu dengan belajar, sehingga kita mengerti satu persatu apapun yang kita perlukan, seolah angkuh dengan apa yang dia ketahui. Selalu lupa dengan asal isi otaknya. Sehinga dia lupa dengan kerendahan apa yang ada pada dirinya, tidak mau mendengarkan “Hati Nurani” nya. Dia lupa bahwa hati nurani benar-benar tidak bisa berkata bohong walaupun setitik.
Ada sepenggal pelajaran berharga ketika saya mengikuti DIKSAR, dimana fisik seolah-olah tidak seperti yang dirasakan sebelumnya, fikiran yang tidak menentu tidak seperti sebelumnya, semuanya kembali ke titik Nol, benar-benar titik Nol. Mulutpun ingin mengatakan apa yang benar-benar ingin dikatakan, namun tidak ada daya untuk mewujudkannya. Tanpa keangkuhan.
Apakah kamu lebih kuat disbanding batu karang ? itulah pertanyaaan yang sederhana namun sangat merusak hati dan fikiran saya, yang dituntut untuk mengenali siapa diri saya sebenarnya, tidak ada kelebihan sedikitpun yang saya rasakan. Batu karang hanya diam, namun dia mampu menghadang hentakan ombak yang beribu-ribu kali mencoba menghabcurkannya, dia tetap berada dimana dia mau, tidak mundur, tidak berpindah, sama sekali tidak hancur. Apa yang saya bisa lakukan ? sedikit coban pun mundur, sedikit goncanganpun lari menjauh, berontak, mundur dan menyerah. Secara tidak langsung sebagai makhluk hidup, syaa telah kalah dengan benda mati. Menimbulkan satu pertanyaan “mana otakmu ??? disimpan dimana ???. Sebuah analogi yang entah berapa ribu kali otak ini memutar-mutar memikirkan pertanyaan yang sederhana itu. Hanya ada satu keinginan ketika pertanyaan itu dilontarkan, yaitu berteriak sekeras-kerasnya. kita tidak bisa hidup tanpa ada yang membantu dan mendorong kita. Itukah diri kita yang sebenarnya.? Hilang semangat, hilang kerja keras, ketika tidak ada lagi orang ynag mendorong kita, ketika tidak ada lagi orang yang memahami kita. Kita tidak bisa sombong, diri kita tergantung dan sangat tergantung kepada orang lain.