02/01/2019
KISAH PENEMUAN PECI PRODUKSI TGK WASLY..
Buah tidak jauh jatuh dari pohonnya begitulah pepatah yang bisa didiskripsikan untuk seorang Tgk Wasly pengusaha peci tanah rencong asal Teupin punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara,
yang sudah membuka usahanya sekitar 30 tahun lebih,dan Usaha yang dijalankannya tersebut itu adalah warisan dari orang tuanya Alm Tgk Masri (1920- 2008),
Tgk Wasly menceritkan sejarah panjang lebar perjuangan ayahnya dalam mendesaint peci yang kini telah tersebar keseluruh pelosok Aceh dan nusantara serta Manaca Negara berlebelkan Tgk Wasly, awalnya orang tua saya,
Tgk Masri ayah kandungnya sendiri masa kecilnya tinggal bersama orang tuanya membuka warung kopi di Panton Labu, memasuki masa remaja pada tahun 1942 saat terjadi penjajajahan koloneal jepang di Aceh Tgk Masri berhijrah ke Labuhan Haji ke Dayah Darussalam ABUYA SYECH H. MUDA WALY ALKHALIDI, guna menimba ilmu pengetahuan agama di dayah tersebut. Pada suatu ketika Tgk Masri didalam kamar tidurnya (bilek) di dayah darussalam labuhan haji pimpinan ulama kharismatik Aceh Abuya Syech Haji Muda Waly Al khalidy. Sambil ia mengulang- ngulang kitab dalam bilik dayah tersebut, Tgk Masri melihat sebuah peci dari timur Tengah, yg model atasnya bisa di lipat (lembek) kemudian timbul ide dan gagasan serta inspirasi untuk membongkar peci tersebut serta menirunya. Karena menurutnya meniru adalah lebih baik dari tidak mengerjakan apa- apa. Setelah ia membuka satu demi satu peci berasal dari timur tengah tsb, lahirlah inspirasi baru dalam hatinya untuk memprakarsai peci tanah rencong seperti yang kita pakai sekarang ini.
Dari sinilah Tgk Masri untuk mencoba mendesaint peci tersebut, Tgk Wasly selaku anaknya menanyakan langsung sama ayahnya, disaat ayahnya membuat peci kala itu hanya bermodalkan beldu kain jas yang dijual dikaki lima kala itu, sedangkan bahan- bahan lainnya diambil dari daun pisang kering(onkurusong), kulit kayu dan daun- daun yang diolah menjadi tikar. Kemudian peci hasil buatan Tgk Masri pada saat itu diminati oleh banyak orang pada saat itu sehingga ia meneruskan pembuatan peci tersebut hingga beliau kembali ke kampung halamannya Teupin Punti, Aceh Utara.
Ilmu yang diperoleh Tgk Masri tersebut kemudian diwariskan kepada semua anak- anak dan cucu- cucunya sampai saat ini. Tgk Wasly yang merupakan salah seorang anaknya yang mewariskan kerajinan peci yang berasal dari teupin Punti, Aceh Utara. Industri peci warisan orang tuanya itu telah masuk kepada seluruh kabupaten- kabupaten provinsi Aceh, nusantara dan manca negara. Kini ia harus memenuhi permintaan konsumen 7000 sampai 8500 setiap bulannya.
Usaha peci tanah rencong pusaka ayah tersebut sekarang telah menjadi produk unggulan di Aceh Utara dalam mengikuti pameran lokal nusantara dan manca negara sesuai dengan program pemerintah dalam mengatasi kemiskinan, dengan moto “ one village one product” dalam setahun ia mengeluarkan 85.000 sampai 120.000/bh pertahun dengan jumlah tenaga kerja 50 orang yang bekerja secara konveksi menurut keahlian masing- masing.
Dari sinilah pemerintah sudah seharusnya memikirkan dan melihat sisi apa yang mesti dibantu dalam mengurangi beban yang dipikul sosok Tgk Wasly yang kini telah mempekerjakan 50 karyawan. Dari sisi lain sebuah trobosan yang yang dilakukan Tgk Wasly adalah mengurangi tingkat kemiskinan yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Maka dalam hal itu harapan tgk wasly kiranya beban tersebut dapat dikurangi oleh pemerintah dengan membantu apa yang kurang pada industri yang dikelola oleh Tgk Wasly.