10/02/2018
SUAMI, ADA TAPI TAK ADA .
Minggu kemarin,aku liat video di IG,
anak kecil yang badannya penuh biru karena kekerasan yang dilakukan ibunya sendiri.
Dan semua caci maki langsung tertuju pada wanita yang disebut bunda oleh sang anak.
Mulai dari caci maki yang it's really hurt to say,
sampe segala dalil cacian dibungkus kata bijak...
dan Aku diam,tidak berani komentar, tidak berani posting,
karena belum tau kebenaran dibalik itu.
Dan....boooom..!!!,
as i thought..
she's depression because her HUSBAND..
iyup...lakinya,suaminya...
dan semua depresi dia luapkan pada anaknya..
Minggu ini...
tersentak lagi membaca tentang seorang ibu yang memilih mengakhiri gelak tawa dan tangis anaknya di dunia,
bahkan ada yang masih bayi 4 bulan...
bayi itu bahkan belum memahami betapa kejamnya perlakuan orang pada ibunya.
Tapi dia sudah pergi,
berakhir ditangan ibundanya .
so sad...of course...
tapi yang lebih menyedihkan saat tahu kebenaran di balik tirai dibalik itu.
No...
aku tidak membela apa yang dilakukan sang bunda,
big NO..
tapi setelah tau apa yang mendasarinya,
aku kembali miris,
karena...
lagi lagi...,
dan lagi...
karena depresi
dan penyebab utama adalah suaminya.
Seorang istri dan ibu yang tidak didampingi suaminya,
berjuang dengan tiga anak yang terlahir dengan akte yang tidak lengkap,
bahkan dipertanyakan kesetiaannya lewat sang anak.
I can't imagine if its happen to me..
(nahan biar ga nangis,akhirnya jebol juga air mataku)..
Bisa kita tarik kesimpulan dari dua cerita nyata diatas
(diantara ribuan bahkan jutaan cerita sama yang tak terungkap..?).
Maaf..
jika aku harus kukatakan,mereka bernasib sedih
karena memiliki suami yang ada tapi tak ada.
Sejatinya...
suami adalah penopang rumahtangga,
dan Istri adalah tonggaknya,
bayangkan jika tonggaknya rapuh
dan penopangnya tak perduli,
apa yang bisa terjadi.
Moment rentan bagi istri adalah saat mereka melahirkan.
Believe me, rentan banget..
ga sedikit yang jadi gila karena depresi...
akibat gak ada dukungan, sokongan
dari keluarga dekat
terutama suami.
Alahhh...
baby blues aja kok,
gak usah sok dramatis deh...
jika ada yang berkata seperti itu,
aku doakan semoga yang ngomong gak pernah mengalaminya,
karena akan terlalu berat untuk otak picik kalian jika melewatinya.
Kenapa aku bisa berkata seperti itu..?
Yupp...
aku salah satu dari mereka...
aku pernah mengalaminya,
dulu aku ga paham apa itu baby blues,
yang aku tau...
yang aku rasakan...
stress...
depresi...
setiap lihat anak nangis aku ikut nangis.
Bahkan jeritanku lebih kencang dari bayi yg berusaha menarik perhatianku,
aku bahkan pernah menjambak rambutku,
memukuli wajahku,
bahkan menghantamkan kepalaku ke dinding
dan berharap aku mati.
Berat...??,
yup...it's so hard..
Bahkan aku pernah mengira aku gila
karena begitu lempengnya mukulin anak yang masih bayi,
nyuekin tangisannya.
Kemudian ikut nangis bersamanya dipenuhi rasa penyesalan.
Nggak mudah,baby blues itu,
menguras seluruh jiwa ragamu untuk tetap berlaku waras.
Bisa bayangkan..
saat perasaan cinta pada anak,
bercampur dengan rasa benci padanya,
ditambah rasa menyesal karena berpikir seharusnya aku gak menikah
kalau hanya akan melewati hidup seperti ini.
lalu...
dimana suamiku...?
Well...
dia ada,
tapi tak ada.
pulang kerja langsung tidur,
tidak ada waktu mendengarkan cerita betapa lelahnya aku melewati hari itu.
Karena dia gak paham,
Yang dia tau, dulu prinsipnya, suami nyari duit, Istri ngurusin rumah..
(anak pertama lahir ditempat mertua,
jd dia ga tau perjuanganku tiap malam bangun karena anaknya).
Dan semua berubah waktu kelahiran anak kedua,
kami menghandle sendiri semuanya.
Dan di sana...
dia baru tau,
urusan istri yang selama ini dia anggap sepele,
ah..cuma nyuci piring aja kok capek,
Akhirnya dia merasakan saat harus turun tangan sendiri.
Sampai demam anak orang ngurusin rumah,
nahh...
baru tau kan rasanya.
Tapi aku gak koment..
cukup dia paham, inilah yang aku lakukan setiap hari .
Sejak itu prinsipnya berubah,
tidak ada lagi urusan rumahtangga adalah kewajiban istri,
tapi kewajiban bersama.
dia Membawaku dan anak anak jalan jalan rutin,
meskipun cuma muter komplek tiap sore.
sekedar piknik tipis biar bininya ga stress...
Dan percayalah...
saat kelahiran anak kedua,no more baby blues..
i'm happy wife, a happy mother..
dan di kesempatan itu aku memohon ampunan anak pertamaku untuk semua yang kulakukan padanya...
Jadi...
jangan anggap enteng baby blues
dan jangan memandang rendah yang kena baby blues...
mereka sesungguhnya berjuang mengendalikan dirinya.
dampingi...
bukan malah menghujatnya..
jangan jadi manusia heartless deh,
bantuin kagak eh kok ngatain paling kenceng ..
Wahai suami...
jadilah suami yang ada tubuh dan hatimu untuk istrimu.
Pandangilah wanita yang engkau pilih sebagai ibu dari anakmu.
Tataplah gurat lelah dari sanggulan rambutnya
yang dulu tergerai penuh keindahan.
Rasakanlah setiap letihnya
yang tergambar dari garis di sudut matanya.
Sometimes..
dia hanya ingin tau..
kamu ada untuknya,
meski lewat sentuhan kecil di rambutnya
atau belaian penuh sayang lewat tatapanmu.
Dia hanya ingin tau,
bahwa kau adalah suami yang ada.
Tetaplah kuat para istri di dunia..
karena kita adalah tonggak rumahtangga.
Tetaplah bahagia para istri di dunia,
karena kita adalah nyawa rumahtangga.
Sumber:
Catatan Rani Ummu Bahran dengan perbaikan seperlunya
Silahkan share jika ada manfaatnya