16/11/2016
Nih gan klo belum ngantuk
sambil baca2 kisah nabi lumayan
Kisah Para Nabi menerbitkan
sebuah catatan.
NABI AYUB A.S
Nabi Ayub a.s. menggambarkan
manusia yang paling sabar,
bahkan bisa dikatakan bahwa
beliau berada di puncak
kesabaran. Sering orang
mengagumi kesabaran kepada
Nabi Ayub. Misalnya, dikatakan:
seperti sabarnya Nabi Ayub. Jadi,
Nabi Ayub menjadi simbol
kesabaran dan cermin kesabaran
atau teladan kesabaran pada
setiap bahasa, pada setiap
agama, dan pada setiap budaya.
Allah SWT telah memujinya dalam
kitab-Nya yang berbunyi:"Sesun
gguhnya Kami dapati dia (Ayub)
seorang yang sabar. Dialah
sebaih-baik hamba.
Sesungguhnya dia amat taat
(kepada Tuhannya)." (QS. Shad:
44)Nabi Ayub AS adalah salah
seorang nabi dari nabi-nabi Bani
Israil dan salah seorang manusia
pilihan dari sejumlah manusia
pilihan yang mulia. Allah telah
menceritakan dalam kitab-Nya
dan memujinya dengan berbagai
sifat yang terpuji secara umum
dan sifat sabar atas ujian secara
khusus. Allah telah mengujinya
dengan anaknya, keluarganya
dan hartanya, kemudian dengan
tubuhnya. Allah SWT telah
mengujinya dengan ujian yang
tidak pernah ditimpakan kepada
siapa pun, tetapi ia tetap sabar
dalam menunaikan perintah Allah
dan terus-menerus bertaubat
kepada-Nya.Setelah Nabi Ayub AS
menderita penyakit kronis dalam
jangka waktu yang cukup lama,
dimana sahabat dan familinya
telah melupakannya, maka ia
menyeru Rabbnya, “(Ya Rabbku),
sesungguhnya aku telah ditimpa
penyakit dan Engkau adalah
Yang Maha Penyayang di antara
semua penyayang.” (Al-Anbiya’:
83). Dikatakan kepadanya,
“Hantamkanlah kakimu; inilah air
yang sejuk untuk mandi dan
minum.” (Shad: 42). Nabi Ayub AS
menghantamkan kakinya, maka
memancarlah mata air yang
dingin karena hantaman kakinya
tersebut. Dikatakan kepadanya,
“Minumlah darinya serta
mandilah.” Nabi Ayub AS
melakukannya, maka Allah Ta’ala
menghilangkan penyakit yang
menimpa bathinnya dan
lahirnya.Kemudian Allah
mengembalikan kepadanya;
keluarganya, hartanya, sejumlah
ni’mat serta kebaikan yang
dikaruniakan kepadanya dalam
jumlah yang banyak. Dengan
kesabarannya itu maka ia
merupakan suri teladan bagi
orang-orang yang sabar,
penghibur bagi orang-orang
yang mendapat ujian atau
ditimpa musibah serta pelajaran
berharga bagi orang-orang yang
mau mengambil pelajaran.*Keti
ka Nabi Ayub AS sakit, maka ia
menemukan kepingan uang milik
istrinya yang diperoleh dari hasil
pekerjaannya melakukan
sesuatu, sehingga ia bersumpah
akan mencambuknya seratus kali
cambukan. Kemudian Allah
meringankannya dari Nabi Ayub
AS dan istrinya, seraya dikatakan
kepadanya: “Dan ambillah
dengan tanganmu seikat
(rumput).” Yakni seikat jerami,
ilalang, tangkai atau yang lainnya
sebanyak seratus biji, kemudian
pukullah ia dengannya “… dan
janganlah kamu melanggar
sumpah.” (Shad: 44). Yakni
melanggar sumpahmu.Dalam
ayat di atas terdapat dalil bahwa
kifarat sumpah tidak
disyari’atkan kepada seseorang
sebelum syari’at kita, serta
kedudukan sumpah di hadapan
mereka adalah sama dengan
nazdar, yang mesti dipenuhi.Juga
dalam ayat tersebut terdapat
dalil, bahwa bagi orang yang
tidak mungkin dilaksanakan
hukuman had atasnya karena
kondisinya yang lemah atau
alasan lainnya, hendaklah
diberlakukan kepadanya
hukuman yang disebut dengan
hukuman tersebut, karena tujuan
dari pemberlakuan hukuman itu
ialah pemberian rasa jera, bukan
perusakkan atau
penghancuran.* Dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan dari
Anas bin Malik RA dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Sesungguhnya
Nabi Allah Ayub AS diuji dengan
musibah tersebut selama
delapan belas tahun, dimana
keluarga dekat serta keluarga
yang jauh telah menolaknya dan
mengusirnya kecuali dua orang
laki-laki dari saudara-saudaranya,
dimana keduanya telah
memberinya makan dan
mengunjunginya. Kemudian
pada suatu hari salah seorang
dari kedua saudaranya itu
berkata kepada saudaranya yang
satu, ‘Demi Allah, perlu diketahui,
bahwa Ayub telah melakukan
suatu dosa yang belum pernah
dilakukan siapa pun di dunia ini.’
Sahabatnya itu bertanya, ‘Dosa
apakah itu?.’ Saudaranya tadi
berkata, ‘Selama delapan belas
tahun Allah tidak merahmatinya,
sehingga menyembuhkannya
dari penyakit yang dideritanya.’
Ketika keduanya mengunjungi
Ayub AS maka salah seorang dari
kedua saudaranya itu tidak dapat
menahan kesabarannya,
sehingga ia menyampaikan
pembicaraan tersebut
kepadanya. Ayub AS menjawab,
‘Aku tidak mengetahui apa yang
kamu berdua bicarakan, kecuali
Allah Ta’ala telah
memberitahukan; bahwa aku
diperintah untuk mendatangi
dua orang laki-laki yang
berselisih supaya keduanya
mengingat Allah. Sedang aku
akan kembali ke rumahku dan
menutup diri dari keduanya,
karena merasa benci mengingat
Allah, kecuali dalam
kebanaran.’”Nabi SAW bersabda,
“Ketika Ayub AS pergi
menunaikan hajatnya maka
istrinya memegang tangannya
hingga selesai. Suatu hari istrinya
datang terlambat dan Ayub AS
menerima wahyu, ‘Hantamkanlah
kakimu; inilah air yang sejuk
untuk mandi dan minum.’ (Shad:
42) Ketika istrinya datang dan
bermaksud menemuinya, maka
ia melayangkan pandangannya
dalam keadaan tertegun, dan
Ayub AS menyambutnya dalam
rupa dimana Allah telah
menyembuhkan penyakit yang
dideritanya, dan rupanya sangat
tampan seperti semula. Ketika
istrinya melihatnya, seraya
bertanya, ‘Semoga Allah
memberkatimu, apakah engkau
melihat nabi Allah yang sedang
diuji? Demi Allah, bahwa aku
melihatnya mirip denganmu saat
ia sehat.’ Ayub AS menjawab,
‘Sesungguhnya aku ini adalah
dia.’ Ketika itu di hadapannya
terdapat dua buah gundukan
yaitu gundukan gandum dan
jewawut. Kemudian Allah
mengirim dua buah awan,
dimana ketika salah satunya
menaungi gundukan gandum,
maka tercurah padanya emas
hingga penuh, sedangkan pada
gundukan jewawut tercurah
mata uang hingga penuh.” (HR.
Abu Ya’la, 3617, yang
dishahihkan al-Hakim
(2/581-582) dan Ibnu Hibban
(2091) serta al-Albani dalam
kitab Shahîh-nya no. 17).