BAHTERA JIWA Human Resources & Psychology Consultant

BAHTERA JIWA Human Resources & Psychology Consultant BJ-Consultant adalah konsultan Sumber Daya Manusia & Psikologi Indonesia/BJ-Consultant is Indonesian Human Resources & Psychology Consultant.

Buruh dan Negara: Tawanan Kaum Pemodal (Oleh: Romo B. Herry-Priyono)Pada tahun 1991, Ichiro Oshima, pemuda berumur 24 ta...
21/03/2017

Buruh dan Negara: Tawanan Kaum Pemodal
(Oleh: Romo B. Herry-Priyono)

Pada tahun 1991, Ichiro Oshima, pemuda berumur 24 tahun, pekerja Japan’s Dentsu Inc, perusahaan reklame terbesar di dunia, menggantung diri. Ia sudah bekerja selama 18 bulan, rata-rata 80 jam per minggu. Biasanya ia baru bisa keluar kantor jam 6 pagi, buru-buru ke flat-nya untuk tidur barang dua jam, berganti pakaian, lalu bergegas kembali ke kantor. Berputarlah dia dalam roda produksi di hari berikutnya. Dan hari berikutnya lagi.

Sebulan sebelum bunuh diri, ia bilang pada atasannya tentang tekanan kerja yang begitu berat: ”Saya tidak bisa berfungsi lagi sebagai manusia.” Di Jepang saja, kira-kira terjadi sekitar 10.000 kasus bunuh diri semacam dalam setahun, sampai muncul istilah khusus untuk gejala itu: karoshi.

Tidak mudah untuk menetapkan bahwa tekanan kerja menjadi pelatuk bunuh diri. Motivasi adalah genangan danau yang gelap dalam hidup manusia. Namun tidaklah sulit melihat bahwa tekanan kerja itu merupakan lingkup yang menyeret sebuah jiwa ke keputusan terjauhnya. Sebuah jiwa bisa tegar. Sebuah jiwa bisa remuk, gugur oleh tekanan yang mematikan, sampai suatu titik di mana langkah yang diambil kelihatan sebagai takdir.

Para Tawanan

Kisah nyata itu barangkali hanya satu di antara sejuta. Ia muncul sebagai contoh dari apa yang terjadi di ujung kemungkinan. Namun ia juga kondisi yang sedang tumbuh bersama dengan janji kesejahteraan yang diproklamirkan oleh ekonomi moderen.

Yang lebih sering terjadi bukanlah bunuh diri, melainkan semakin mudahnya pemutusan hubungan kerja (PHK). PHK makin sering terjadi tanpa kaitan apapun dengan perilaku kerja, melainkan dengan seberapa besar laba bisa digelembungkan.

Misalnya, antara 1991-1995, untuk mengungkit dividen serta harga sahamnya, IBM memotong 33% anggaran gaji, dan memberhentikan 122.000 pekerjanya.

Apa yang naik bukan kesejahteraan buruh, melainkan harga saham dan gaji satu lapis kaum berdasi dan bersepatu hak-tinggi. Dari belajar di sekolah bisnis dan manajemen, mereka makin pintar menerapkan siasat mengungkit laba dan nilai kapitalisasi.

Di AS pada dasawarsa 1970, perbandingan gaji eksekutif dan buruh berkisar 40:1. Artinya, kalau buruh mendapat 500 ribu, eksekutif menerima 20 juta. Di tahun 1990, rasio itu melonjak menjadi 225:1.

Kalau buruh diupah 500 ribu, eksekutif mendapat 112,5 juta. Dan tentu, rasio itu terus naik. Michael Eisner, boss Disney, menerima US$ 576 juta gaji untuk tahun 1998. Tak seorangpun percaya bahwa kemampuan direktur 225 kali lipat ketrampilan buruh. Namun begitulah kisah proses ekonomi selama 20 tahun ini.

Maka sebaiknya kita hati-hati ketika mendengar para pemodal, pengusaha, direktur dan manajer bilang: ”tugas kami bagi bangsa ini adalah menciptakan lapangan kerja.” Bahkan dari logika yang paling sederhana, pidato semacam itu salah kaprah.

Mengapa? Karena mencampuradukkan antara ‘akibat’ dan ‘tujuan’. Tak ada pemodal yang berbisnis untuk menciptakan lapangan kerja. Ia berbisnis untuk mengejar laba dan akumulasi modal. Itulah motif utama dan ‘tujuannya’.

Bahwa dalam mengejar tujuan itu, ratusan/ribuan lapangan kerja dibuka bukanlah tujuan, melainkan ‘akibat’ di luar tujuan utama. Istilahnya: an unintended consequence. Sedang laba dan akumulasi modal adalah the intended consequence (akibat yang dimaksud). Karena itu, pidato seperti di atas adalah sebentuk plesetan berbahaya.

Yang terlibat di situ adalah ‘akibat-tak-disengaja’ yang diklaim sebagai ‘tujuan’. Ex post diaku sebagai ex ante. Namun mesti diingat, argumen ini tidak sama dengan mengatakan bahwa bisnis dan laba itu secara intrinsik buruk. Itu sebentuk kenaifan lain.

Lewat proses itulah para pemodal pelan-pelan menguasai hampir semua aspek hidup kita. Bahkan isi suka-duka kita. Iklan bukan hanya pengumuman, melainkan pembentuk yang makin dominan dari cuaca batin kita. Maka anak-anak kota akan sedih tidak bisa makan chicken nugget.

Para pelajar SLTA tak merasa bergengsi sebelum menggenggam mobile phone. Dampak itu adalah some unintended consequences dari proses pemburuan laba dan akumulasi modal, dan tidak pernah menjadi bagian dari perhitungan awal.

Buruh

Di ujung gejala, kita hanya bisa menyaksikan bahwa sukses marketing dari chicken nugget diarahkan pada pembentukan gengsi dan rasa ketagihan.

Lewat proses dan klaim itu pula para pemodal telah membuat para kepala negara, menteri, dirjen, gubernur, anggota DPR, dsb menjadi ”tawanan”. Mekanismenya melalui kata-kata keramat seperti ‘deregulasi’ dan ‘liberalisasi’. Dadakan bisa ditunjuk pada awal dekade 1980. Sebagai koreksi terhadap lemahnya produktivitas ekonomi negara-negara maju pada dasawarsa 1970, gelombang privatisasi, liberalisasi dan deregulasi diayunkan, dan terus berlangsung sampai hari ini. Jantung proses itu adalah minimalisasi biaya-biaya produksi yang datang dari berbagai regulasi. Berkurangnya biaya-biaya itu dimaksud sebagai insentif ekspansi produksi, inovasi, dan menekan harga konsumen. Brilian! Maka cukup naif untuk tidak melihat berkah yang dibawa oleh deregulasi. Tetapi, omongan tentang deregulasi biasanya cuma berhenti sampai di sini.

Let’s be honest, proses itu bukan hanya mengungkit produksi, tetapi juga melepaskan hak-milik atas modal dari kaitannya dengan kehidupan ekonomi warga lokal ataupun nasional. Artinya, hak-milik pribadi atas modal makin diloloskan dari berbagai patokan yang bisa dipakai untuk memajukan kesejahteraan mayoritas warga. Maka dengan mudah bisnis mengancam pemerintah lewat relokasi, disinvestasi, capital flight, atau sekadar parkir uang di bank-bank luar negeri. Dan, let’s be honest again, pemerintah dengan berbagai strategi pembangunan-nya semakin berada di telapak kaki para pemodal. Sekali lagi, kita bertemu dengan gejala ini: banyak kebijakan ekonomi, politik, sosial, hukum, budaya, dsb makin menjadi sekadar the unintended consequences dari hak prerogatif privat atas modal. Hakim boleh punya keputusan, polisi bisa punya peluit, tetapi pemodal dan staff-nya bisa membeli keputusan dan peluit.

Leviathan Baru

Kalau mesti diberi nama, itulah proses di mana pemerintah telah dimangsa oleh Frankenstein yang diciptakannya. Dengan asal mengutip Thomas Hobbes (1588-1679), filsuf Inggris itu, kita suka menyebut negara sebagai Leviathan. Yang benar, pemodal dan bisnis telah menjadi Leviathan baru. Apa yang juga menarik dari gejala ini adalah bahwa proses relokasi, disinvestasi, pelarian modal, PHK, dsb tidak pernah melalui proses demokratis. Seorang Gus Dur bisa kena Bullogate dan Bruneigate, tetapi berapa banyak pemodal yang melarikan modal tanpa kena apapun. Jadi siapa yang sebenarnya lebih punya kekuasaan? Pertanyaan sederhana ini begitu sentral, tetapi suka kita lupakan.

Itulah mengapa gambaran kaum buruh tentang ”aliansi pengusaha-penguasa” dalam demo besar di Bandung dan Jawa Timur samasekali tidak mengada-ada. Cuma, mungkin semasa rezim Orde Baru kita terbiasa menunjuk ”negara” sebagai biang keladi. Kali ini, tudingan semacam itu tidak tepat lagi. Mengapa? Karena pemerintah semakin menjadi tawanan para pemilik modal. Beberapa orang merayakan gejala ini, banyak yang lain meratapinya. Entah mau yang mana, sebuah gejala perlu dibuat eksplisit.

Dalam proses ekonomi-politik ini, kaum buruh memang kelompok yang langsung kena getah, karena merekalah yang terutama paling sering menjadi bulan-bulanan dalam pusaran logika modal dan proses produksi seperti itu. Namun konsekuensi yang semacam juga terjadi pada kelompok-kelompok lain: petani, kelompok etnik, anak-anak sekolah, guru-guru, dst. Dan juga pada berbagai bidang: lingkungan hidup, tata kota, pendidikan, dst. Bahwa konsekuensi itu tidak kasat mata samasekali tidak berarti tidak ada.

Maka, tarik-ulur Kepmenaker 21/2000 dan 150/2000 di satu pihak, dan Kepmenaker 78/2001 dan 111/2001 di lain pihak, bisa dikatakan sebagai momen menentukan dari tegangan yang sudah berlangsung lama. Pertama, solusi tegangan itu menyangkut soal sejauh mana kondisi material kaum buruh dalam proses industrial bisa diperbaiki. Kedua, solusi tegangan itu menyangkut soal tempat kaum buruh dalam proses ekonomi-politik di Indonesia. Ketiga, dalam bingkai perimbangan antara mekanisme pasar, negara, dan komunitas warga, solusi atas tegangan itu akan menjadi momen penting sejauh mana mekanisme pasar hanya meremuk kehidupan mayoritas warga, ataukah ia bisa dikelola untuk memperbaiki kondisi setidaknya satu kelompok sosial dulu, yaitu kaum buruh.

Tiga perkara itu boleh dilihat dalam kerangka gejala lain berikut. Dari World Wealth Report 2001 versi Merill Lynch/Cap Gemini Ernst & Young, akumulasi kekayaan yang dikontrol oleh para pemilik asset minimum US$1 juta melonjak 4 kali lipat dalam periode 1986-2000, dari $7.2 trilyun menjadi $27 trilyun. Lonjakan terbesar berlangsung di Asia (termasuk Indonesia), dengan pertumbuhan kontrol asset sebesar 600%. Maka tidak mengherankan kalau dalam skala global, gini koefisien (indikator kesenjangan ekonomi) dalam waktu 5 tahun saja melonjak dari 62.5 (1988) menjadi 66.0 (1993).

Karena sadar akan wajah rumit sebuah kepentingan, saya berusaha keras mencari apologia untuk membela gejala konsentrasi kekuasaan yang terlibat dalam angka-angka itu. Namun saya tidak juga menemukannya, karena bahkan dengan cara pikir yang paling dingin pun, sangatlah sulit membenarkan proses tidak terkontrolnya kekuasaan Leviathan baru itu. Di ujung renungan, pada akhirnya kita semua mengerti bahwa gerakan untuk mempertahankan Kepmenaker 150/2000 merupakan satu tindakan besar demokrasi. Hanya orang yang hidup di abad 19 yang masih berpikir bahwa demokrasi cuma urusan mengontrol kekuasaan pemerintah. Demokratisasi juga menyangkut civic accountability para Leviathan baru.

Sesudah kapasitas pemerintah dijarah Leviathan baru, demokrasi tidak mati di sungai waktu. Dukungan kita terhadap kaum buruh bukanlah sebuah tabu.

(B. Herry-Priyono, PhD (LSE, UK) adalah seorang peneliti lepas. Dia adalah Dosen di Sekolah Tinggi Filsafat "Driyarkara" di Jakarta dan juga mantan wakil direktur Institut Sosial Jakarta (ISJ). Dia juga menjadi dosen tamu di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan secara informal mengajar di beberapa kelas di berbagai institusi pendidikan tinggi di Indonesia.

Dia memusatkan penelitiannya pada relasi bisnis-dan-pemerintah dan merintis lahirnya beberapa kelompok diskusi dengan minat pada tata ekonomi global dan implikasi-implikasinya.

Dia menulis banyak artikel untuk surat kabar, majalah dan jurnal.)

Sekedar gambaran bahwa kesehatan jiwa & mental itu mahal. Jangan anggap remeh & jangan hina mereka yang mengalaminya.
24/08/2016

Sekedar gambaran bahwa kesehatan jiwa & mental itu mahal. Jangan anggap remeh & jangan hina mereka yang mengalaminya.

Pada 2012, WHO menyebutkan bahwa depresi adalah salah satu penyebab terbesar beban penyakit jiwa secara global. Saat itu WHO memperkirakan ada 350 juta orang yang mengalami depresi, baik ringan maupun berat.Depresi dan kecemasan membuat ekonomi dunia kehilangan 925 miliar dolar setiap tahunnya.

Important to understand. Trauma healing is not as simple as that.
06/08/2016

Important to understand. Trauma healing is not as simple as that.

Many people affected by horrific trauma—including abuse and rape—get stuck on the notion that forgiving their perpetrators is essential to healing. Not so.

Penting bagi orangtua, terutama yang anaknya masih di masa "golden age".
15/12/2015

Penting bagi orangtua, terutama yang anaknya masih di masa "golden age".

Dalam ilmu psikologi, terdapat empat kategori pola asuh anak. Masing-masing kategori memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Silahkan simak uraian berikut dan manakah kategori pola asuh yang telah Anda terapkan sebagai orangtua?

Jangan remehkan depresi dan tanda-tandanya! Depresi dapat berujung pada dua hal fatal: kematian atau kegilaan.
19/12/2014

Jangan remehkan depresi dan tanda-tandanya! Depresi dapat berujung pada dua hal fatal: kematian atau kegilaan.

Kesehatan tidur seharusnya menjadi dasar dari kualitas manusia. Segala potensi diri yang muncul di saat terjaga, dibangun pada saat tidur.

Nah, ini penting bagi orang seperti saya.... :-)
12/12/2014

Nah, ini penting bagi orang seperti saya.... :-)

Find something to respect.

Patut dicatat sebagai bahan mengejar karir.
12/12/2014

Patut dicatat sebagai bahan mengejar karir.

Kini perusahaan-perusahaan memilih SDM dengan latar belakang pendidikan S-2 untuk mengisi berbagai posisi penting dalam organisasinya.Mereka yang bergelar S-2 pasti menjadi pilihan utama. Tahu kenapa?

Understanding Bipolar DisorderBipolar Disorder: What Is It?Bipolar disorder, sometimes called manic depression, is a dis...
09/12/2014

Understanding Bipolar Disorder

Bipolar Disorder: What Is It?
Bipolar disorder, sometimes called manic depression, is a disorienting condition that causes extreme shifts in mood. Like riding a slow-motion roller coaster, patients may spends week feeling like they’re on top of the world before plunging into a relentless depression. The length of each high and low varies greatly from person to person. In any given year, bipolar disorder affects more than 2 % of American adults.

Depressive Phase Symptoms
Without treatmen, a person with bipolar disorder may experience intense episodes of depression. Symptoms include sadness, anxiety, loss of energy, hopelessness, and difficulty concentrating. Patients may lose interest in activities that were once pleasurable. They may gain or lose weight, sleep too much or too little, and contemplate suicide.

Manic Phase Symptoms
During a manic phase, patients tend to feel euphoric and may believe they can accomplish anything. This can result in inflated self-esteem, agitation, reduced need for sleep, being more talkative, being easily distracted, and a sense of racing thoughts. Reckless behaviors, including spending sprees, sexual indiscretions, fast driving, and substance abuse, are common. Having three or more of these symptoms nearly every day for a week may indicate a manic episode.

Bipolar I vs. Bipolar II
People with bipolar I disorder have manic episodes or mixed episodes and often have one or more depressive episodes. People with bipolar II have major depressive episodes with less severe mania; they experience hypomania, a condition that is less intense than mania or lasting less than a week. Patients may seem like the “life of the party” –full of charm and humor. They may feel and function fine, even if family and friends can see the mood swing. However, hypomania can lead to mania or depression.

Mixed Episode
People with mixed episode experience depression and mania at the same time. This leads to unpredictable behavior, such as sadness while doing a favorite activity or feeling very energetic. It’s more common in people who develop bipolar disorder at young age, particularly during adolescence. But some estimates suggest up to 70% of bipolar patients experience mixed episodes.

Causes of Bipolar Disorder
Doctors aren’t exactly sure what causes bipolar disorder. A leading theory is that brain chemicals fluctuate abnormally. When levels of certain chemicals become too high, the patient develops mania. When levels drop too low, depression may result.

Bipolar Disorder: Who’s at Risk?
Bipolar disorder affects males and females equally. In most cases, the onset of symptoms is between 15 and 30 years old. People are at higher risk if a family member has been diagnosed, especially if it’s a first degree relative, but doctors don’t think the disorder kicks in based on genetics alone. A stressful event, drug abuse, or other unknown factor may trigger the cycle of ups and downs.

Bipolar Disorder and Daily Life
Bipolar disorder can disrupt your goals at work and at home. In one survey, 88% of patients said the illness took a toll on their careers. The unpredictable mood swings can drive a wedge between patients and their co-workers or loved ones. In particular, the manic phase may scare off friends and family. People with bipolar disorder also have a higher risk of developing anxiety disorders.

Bipolar Disorder and Substance Abuse
About 60% of people with bipolar disorder have trouble with drugs and alcohol. Patients may drink or abuse drugs to relieve the uncomfortable symptoms of their mood swings. This is especially common during the reckless manic phase.

Bipolar Disorder and Suicide
People with bipolar disorder are 10 to 20 times more likely to commit suicide than people without the illness. Warning signs include talking about suicide, putting affairs in order, and inviting death with risky behavior. Anyone who appears suicidal should be taken very seriously. Do not hesitate to call one of the suicide hotlines: 1-800-SUICIDE (1-800-784-2433) and 1-800-273-TALK (1-800-273-8255). If you have a plan to commit suicide, go to the emergency room for immediate treatment.

Diagnosing Bipolar Disorder
A crucial step in diagnosing bipolar disorder is to rule out other possible causes of extreme mood swings. These may include brain infection or other neurological disorders, substance abuse, thyroid problem, HIV, ADHD, side effects of certain medications, or other psychiatric disorders. There is no lab test for bipolar disorder. A psychiatrist usually makes the diagnosis based on careful history and evaluation of the patient’s mood and other symptoms.

Medications for Bipolar Disorder
Medications are key in helping people with bipolar disorder live stable, productive lives. Mood stabilizers can smooth out the cycle of ups and downs. Patients may also be prescribed antipsychotic drugs and anticonvulsant drugs. Between acute states of mania or depression, patients typically stay on maintenance medication to avoid a relapse.

Talk Therapy for Bipolar Disorder
Talk therapy can help patients stay on medication and cope with their disorder’s impact on work and family life. Cognitive behavioral therapy focuses on changing thoughts and behaviors that accompany mood swings. Interpersonal therapy aims to ease the strain bipolar disorder may place on personal relationships. Social rhythm therapy helps patients develop and maintain daily routines.

Lifestyle Tips for Bipolar Disorder
Establishing firm routines can help manage bipolar disorder. Routines should include sufficient sleep, regular meals, and exercise. Because alcohol and recreational drugs can worsen the symptoms, these should be avoided. Patients should also learn to identify their personal early warning signs of mania and depression. This will allow them to get help before an episode spins out of control.

Electroconvulsive Therapy (ECT)
Electroconvulsive therapy can help some people with bipolar disorder. ECT uses an electric current to cause a seizure in the brain. It is one of the fastest ways to ease severe symptoms. ECT is usually a last resort when a patient does not improve with medication or psychotherapy.

Educating Friends and Family
Friends and family may not understand bipolar disorder at first. They may become frustrated with the depressive episodes and frightened by the manic states. If patients make the effort to explain the illness and how it affects them, loved ones may become more compassionate. Having a solid support system can help people with bipolar disorder feel less isolated and more motivated to manage their condition.

When Someone Needs Help
Many people with bipolar disorder don’t realize they have a problem or avoid getting help. If you’re concerned about a friend or family member, here are a few tips for broaching the subject. Point out that millions of Americans have bipolar disorder, and that it is treatable illness – not a personality flaw. There is medical explanation for the extreme mood swings, and affective treatments are available.

Source: http://webmd.com/bipolar-disorder/ss/slideshow-bipolar-disorder-overview?ecd=wnl_men_111914&ctr=w

Do you or someone you know suffer from bipolar disorder (sometimes called manic depression)? WebMD provides an overview of this disorienting condition that causes extreme shifts in mood.

Bagaimana pikiran mempengaruhi kinerja. Sebuah ulasan bagus dari kampus terbaik di planet ini.
09/12/2014

Bagaimana pikiran mempengaruhi kinerja. Sebuah ulasan bagus dari kampus terbaik di planet ini.

Ways to move from frustrated to energized.

Bagus untuk introspeksi dan menambah pengetahuan psikologi, tetapi jangan dijadikan justifikasi.
06/12/2014

Bagus untuk introspeksi dan menambah pengetahuan psikologi, tetapi jangan dijadikan justifikasi.

Sebanyak 40 persen manusia di bumi diperkirakan mengalami kesepian. Meski kesepian dinilai sebagai hal yang biasa, beberapa orang mengalami dampak yan

Ini contoh buruh yang bekerja baik penuh dedikasi dan memiliki ketrampilan tinggi. Tidak perlu demo segala upah sudah ti...
05/12/2014

Ini contoh buruh yang bekerja baik penuh dedikasi dan memiliki ketrampilan tinggi. Tidak perlu demo segala upah sudah tinggi. Makanya jangan mudah diprovokasi pimpinan serikat buruh yang cuma cari proyek (lihat saja mobilnya Mercedes boss). Lebih baik tingkatkan kompetensi diri supaya 'harga' kita mahal di mata pemberi kerja.

Berbeda dengan buruh migran perempuan yang banyak menyimpan cerita nestapa, para tukang las pulang dalam kehormatan dan kantong penuh dollar.

Address

Jalan Wolter Monginsidi 70
Jakarta

Opening Hours

Monday 09:00 - 16:30
Tuesday 09:00 - 16:30
Wednesday 09:00 - 16:30
Thursday 09:00 - 16:30
Friday 09:00 - 16:30

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when BAHTERA JIWA Human Resources & Psychology Consultant posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share