Surga ada di telapak kaki IBU

Surga ada di telapak kaki IBU Islam adalah agama kita .. kita harus menjaganya ...

Subhanallah !!!
28/02/2017

Subhanallah !!!

19/05/2016

POTRET KEMISKINAN KISAH NENEK TUA SANG PEMULUNG
Mendung masih menghiasi langit pagi, saat tubuh rentanya tertatih menyelusuri jalan setapak. Sementara sang mentari masih malu – malu menampakkan sinarnya. Namun tak berlangsung lama, sengatannya kemudian seakan marah membakar alam. Tapi sosok tua itu masih bertahan dengan semangat yang tak pernah padam.
Dialah Mak Wagiem, 80 tahun seorang pemulung yang bertahan dalam kilas potret kemiskinan. Seorang wanita tua renta yang tinggal bersama anak dan cucunya di RT2 RW 6 Kelurahan Kampung Jawa Kota Solok. Seharusnya ia saban hari istirahat dirumah, menghabiskan sisa usianya dalam indahnya kebersamaan dengan cucu tercinta. Tapi apa mau dikata, tindihan beban ekonomi memaksa nenek asal Jawa Tengah itu harus berjuang keras untuk mendapat sesuap nasi.
Ketika kami menghampiri dan menyapa nenek tua yang tengah bergelut dengan sampah – sampah di TPA pagi itu, ia tersenyum ramah. Pancaran keakraban dengan tawa khas nya mengembang memecah bingarnya lalat – lalat yang beterbangan. Namun wajahnya yang lelah dengan gurat letih tak dapat membantah kalau mak Wagiem menjerit dalam kesulitan hidup yang harus dijalani.
” Biasa ndok, ngumpulin rongsokan yang bisa ditukar dengan beras. Walau saya sudah tua tapi harus tetap bekerja memungut sampah. Ndak boleh males – malesan. Kalau ndak, mau makan dari mana. Anak saya satu — satunya juga susah.” Katanya menjelaskan dengan bahasa medok nya.
Kemudian ia mengambil sebuah botol minuman bekas dengan sedikit tertatih. Karena satu tangannya lagi harus memegang karung untuk meletakkan barang bekas yang mungkin laku terjual. Sejenak ia tertegun, menarik nafas dalam dan membuang kepenatan yang mulai bersarang.
Pekerjaannya mencari kaleng-kaleng bekas dan sampah-sampah plastik setiap hari harus ia lakoni. Sebab sebagai orang tua dia tak mau memberatkan hidupnya pada anak semata wayang nan hidup dalam standar ekonomi yang terbatas.
Dari penuturan mak Wagiem, anaknya hanya seorang pekerja kebersihan yang tiap bulannya hanya menerima gaji Rp600.000. Dari uang tersebut ia harus mencukupkan kebutuhan istri dan 4 anaknya yang masih sekolah dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tapi, dilihat dari ukurannya, jelas uang segitu tak dapat menutupi biaya hidup yang semakin tinggi. Tak tega melihat anaknya memikul beban keluarga sendiri, akhirnya mak Wagiem memutuskan untuk terus memulung dalam usia tuanya. Walau sang anak sudah melarang.
” Dia melarang saya, tapi saya tidak mau berhenti karena saya tidak tega dia cari duit sendiri.” Katanya menjelaskan.
Menurut mak Wagiem, walaupun dari hasil kerja kerasnya tidak menghasilkan uang yang banyak. Hanya Rp 150.000 perbulan, tapi dia cukup puas karena masih bisa membantu membeli beras dan memberi cucunya jajan. Dia mengaku akan sangat sedih kalau melihat cucunya tidak bisa jajan seperti anak – anak yang lain.
Untuk itu demi orang – orang yang ia sayang, mak Wagiem harus rela menghabiskan masa tua dalam perjuangan panjang yang melelahkan. Mengadu nasib dalam onggokan sampah yang terbuang. Namun siapa yang peduli dan mengasihani. Walaupun ada tapi tak merubah keadaan. Dia tetap harus menguras segenap tenaga yang tersisa demi segenggam beras.
Mentaripun mulai beranjak keperaduannya saat mak Wagiem melangkah pulang. Namun esok ia kan kembali bertarung dalam sampah – sampah yang menjadi saksi bisu kesusahannya. Mungkin tak hanya esok, lusa namun seterusnya hingga tubuh renta itu tak lagi sanggup menapak. Sampai kapan pun Mak Wagiem tak pernah putus asa, ia kan terus bekerja dan berusaha.(Gap91)
sumber: Radio Gapilar 97FM

26/04/2016

"Apabila kamu menasihati orang yang bersalah maka berlemah lembutlah agar dia tidak merasa di telanjangi"

Thales

26/04/2016

"Seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya telah melakukan satu kesalahan lagi. Confucius"

15/04/2016

BERUSAHA DENGAN MAKSIMAL
By Biznizmom On 4 June 2011 In Islam, Kesuksesan, Motivasi
Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung usaha maksimal

~Harun Al Rasyid~

05/04/2016

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.”Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. ” Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.”Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.”Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa’alaihi wasahbihi wasallim. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.

05/04/2016

Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian. (Nabi Muhammad SAW)

05/04/2016

Dalam suatu kesempatan Al-ghazali bertanya kepada murid-muridnya, wahai muridku, menurut kalian apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid-muridnya kemudian menjawab : Teman, sahabat, kerabat, dan orang tua.

'Semua jawaban kalian benar', kata sang Imam. Tetapi yang paling dekat dengan diri kita di dunia adalah kematian. Karena kematian sudah merupakan janji Allah, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya mati, dan itu sudah merupakan ketentuan.

Kemudian beliau melanjutkan dengan pertanyaan kedua, wahai murid-muridku apa yang paling jauh dengan diri kita di dunia ini?

Murid-muridnya kemudian ada yang menjawab, matahari, bulan, bintang.
'Benar bahwa matahari, bulan, dan bintang adalah sesuatu yang jauh'. tetapi yang paling jauh dari diri kita adalah masa lalu, kata Al-Ghazali.

Oleh sebab itu, jagalah hari kalian saat ini, raihlah masa depan anda, karena biar bagaimanapun tidak akan pernah ada suatu kenderaan yang akan mampu membawa kalian pada masa lalu.

Al-Ghazali kemudian melanjutkan dengan pertanyaan ketiga, 'wahai murid-muridku, apa yang paling besar di dunia ini?'

Murid-muridnya ada yang menjawab, gunung, bumi, dan matahari.

Jawaban kalian benar wahai muridku, tetapi yang paling besar di dunia ini adalah Nafsu. Karena nafsu yang tidak terkendali akan mampu menghancurkan diri kalian bahkan dunia ini pun sekalian.

Lalu beliau mengajukan pertanyaan keempat, wahai muridku apa yang paling berat di dunia ini?
Muridnya ada yang menjawab, baja, besi, dan gajah.

Al-ghazali kemudian menjelaskan, jawaban kalian hampir benar. Tetapi ketahuilah bahwa yang paling berat di dunia ini adalah memegang Amanah. Karena jika kalian gagal memegang amanah, maka kekacauan akan terjadi, kemelaratan akan menimpa, dan neraka adalah balasan bagi mereka yang mengkhianati amanah.

Beliau kemudian melanjutkan pada pertanyaan kelima, 'wahai muridku apa yang paling ringan di dunia ini?

Murid-muridnya kemudian menjawab : kapas, dedaunan, dan debu.

Benar, kata Al-Ghazali, tetapi ketahuilah bahwa yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Shalat. Begitu mudahnya manusia meninggalkan shalat karena pekerjaan dan aktivitas lainnya.

Kemudian , pertanyaan terakhir kata Al-ghazali, wahai murid-muridku apa yang paling tajam di dunia ini?

Serentak kemudian murid-muridnya menjawab, Pedang.

Benar, kata beliau. Tetapi yang paling tajam di dunia ini adalah lidah manusia. Karena dengan lidah itu, manusia akan melukai jiwa dan perasaan orang lain dengan tusukan yang sulit disembuhkan. Maka jagalah lidah kalian wahai murid-muridku.

Demikianlah renungan bermakna dari Imam Al-Ghazali, semoga menjadi bahan pembelajaran dan muhasabah diri bagi kita semuanya. Baca juga kata kata bijak islami lainnya jika anda masih membutuhkan inspirasi dan bahan renungan.

Karena tujuan dari sajian kata kata bijak ini tidak lain untuk membantu anda agar tidak tercengkram dalam belenggu dunia yang menyesatkan. Sekian Wassalam.

12/01/2016

Apa itu pemimpin ?

Dan apa bedanya antara pemimpin biasa dengan para pemimpin terbesar yang mampu mengubah dunia ?

Dalam sejarah manusia yang panjang telah banyak hidup pemimpin-pemimpin hebat. Dari yang terbesar Nabi Muhammad SAW, sampai presiden Amerika Franklin D. Roosevelt, atau Kennedy. Anda akan melihat banyak pemimpin besar seperti mereka nanti di buku ini.
Mereka mampu menginspirasi hidup orang lain, satu orang, ratusan bahkan berjuta-juta orang sekaligus. Mereka membangkitkan bangsanya dari keterbelakangan menjadi bangsa yang unggul, makmur, dan berat yang pernah dihadapi umat manusia. Mereka begitu dicintai dan keagungannya akan dikenang bahkan sampai akhir zaman. Bagaimana cara mereka bisa sehebat itu?
Kalau kita mempelajari mereka semua, para pemimpin terbesar itu, melihat perjalanan hidupnya, ajaran, dan ide-ide besar mereka, mungkin kita juga akan bisa memahami mereka dan mengerti rahasia asal-usul kebesarannya. Mungkin, nantinya kita juga akan bisa seperti mereka, memberikan inspirasi yang besar pada dunia.

22/10/2015

Besi (Al-Ĥadīd):23 - (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,

22/10/2015

Wanita (An-Nisā'):36 - Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

21/10/2015

Sapi Betina (Al-Baqarah):268 - Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Surga ada di telapak kaki IBU posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share