17/05/2021
“Tidak Ada yang Instan”
(Bahasa Inggris, Salah satu Modal Meraih Beasiswa S2 dan S3)
Belajar Bahasa Inggris itu butuh proses. Bertahap. Saya sendiri bukan anak yang pintar berbahasa Inggris saat masih sekolah. Namun melihat pentingnya Bahasa Inggris, saat kuliah di semester akhir di IPDN, saya berani merogoh tabungan hingga 3 juta rupiah (angka yang besar untuk anak kuliah saat itu) agar bisa kursus Bahasa Inggris. Saya harus menggunakan waktu pesiar saya untuk ke kelas, mengorbankan beberapa kesenangan, dan saya baru bisa dapatkan hasilnya setelah sekian tahun.
Sekarang banyak beasiswa yang bertebaran baik pertukaran pelajar, Beasiswa S1 maupun pasca sarjana dan doktoral. LPDP baru saja mengumumkan pembukaan beasiswa bagi putra/i terbaik bangsa dengan jumlah yang tak terbatas. Namun salah sayu yang tetap yang dibutuhkan adalah: kecakapan berbahasa Inggris.
Untungnya saya sudah cukup siap dengan bekal bahasa Inggris yang ada, sehingga bisa meraih beasiswa kuliah S2 dan S3 saya di Washington DC, Amerika Serikat. Hanya seorang pemuda biasa yang bertekad untuk bisa meraih mimpi besar.
Saya dan teman-teman di yayasan yang saya bentuk sementara membuka Kursus Bahasa Inggris, Alorinda English Course di Alor NTT biar banyak anak-anak Alor, dan kita semua bisa persiapkan diri dari jauh-jauh hari.
Belajar bisa dari mana saja, bisa gratis, bisa berbayar. Jika berbayar, orang tua, kita, harus rela berkorban, walaupun ada sedikit biaya yang harus dikeluarkan dalam proses belajar. Kata seorang tokoh yang saya kenal baik, ADA HARGA YANG HARUS DIBAYAR jika kita mau mengejar mimpi kita.
Tidak ada yang instan, karena mie instan pun butuh proses dalam menyajikan.
Semoga di tempat teman-teman ada tempat kursus Bahasa Inggris. Jika tidak, bisa coba belajar sendiri ya.
(Tidak hanya bahasa Inggris, bahasa lain juga bisa jadi modal dalam melamar beasiswa: Jerman, Arab, Mandarin, dll)
EL ASAMAU