AMRI didirikan oleh para pemuda Rifa’iyah dalam rangka upayanya untuk memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Khususnya melalui pengembangan kapasitas pemuda. AMRI lahir melalui rekomendasi Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Rifa’iyah di Pekalongan pada tahun 1998. Dan Kongres pertama dilakukan pada 28 Oktober 2001 di Cirebon. Dalam perjalanannya, AMRI sebagai Badan Otonom (Banom)
Rifa’iyah, memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal dan meneruskan perjuangan Guru Besarnya, K.H. Ahmad Rifa’i dalam membawa masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap tanah airnya, dengan tetap berpegangan kepada nilai kebenaran dan nilai-nilai ke-Islaman. Ahmad Rifa’i merupakan seorang ulama berasal dari Kendal Jawa Tengah, yang gigih dalam melakukan perjuangan melawan penjajah pada masanya. Ahmad Rifa’i pada masa remajanya banyak menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu keagamaan, bahkan hingga ke negeri Arab. Sepulangnya dari negeri Arab, Ahmad Rifa’i komitmen dengan perjuangannya untuk melakukan dakwah dan berjuang untuk bangsanya. Perjuangan Ahmad Rifa’i dalam melawan penjajah tidak seperti kebanyakan pejuang lainnya yang melakukan perlawanan terbuka. Ahmad Rifa’i melakukan perlawanan kepada penjajah dengan menanamkan nilai dan ideologi di masyarakat. Sehingga diharapkan tercipta masyarakat yang sadar akan nilai dan tidak mudah dipengaruhi oleh penjajah. Ahmad Rifa’i melakukan perjuangan dan syiar agama dengan berdakwah dan mendirikan majlis pendidikan di pelosok-pelosok desa di negeri ini. Dalam upaya perjuangan dan dakwahnya, K.H. Ahmad Rifa’i berhasil menyusun lebih dari 60 judul kitab yang ditulis dalam huruf arab berbahasa jawa yang dikenal dengan sebutan ‘Kitab tarajumah’. Dari kitab-kitab inilah dapat dilihat nilai-nilai yang diajarkan K.H. Hingga pada akhirnya terciptalah sebuah basis masyarakat yang membentuk komunitas dengan berlandaskan nilai-nilai perjuangan K.H. Ahmad Rifa’i yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal jama’ah. Dan dalam perkembangannya, komunitas itulah menjadi embrio-embrio berdirinya organisasi Rifa’iyah. Dan karena perjuangannya inilah, KH Ahmad Rifa’i dianugrahi sebagai pahlawan nasional pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono. AMRI sebagai badan otonom Rifa’iyah memiliki peran yang sangat penting dan strategis terhadap perkembangan pemuda. Untuk itu, dalam proses gerakannya, AMRI memposisikan sebagai sentral komunikasi dan sentral gerakan pemuda, khususnya pemuda Rifa’iyah. Selain sebagai media komunikasi, AMRI juga memposisikan sebagai organisasi pemuda yang dapat mengakomodir sekaligus mengkoordisanisakan ide, gagasan dan pemikirian pemuda, khususnya pemuda Rifa’iyah. Posisi strategis yang demikian ini dimaksudkan untuk pengembangan kapasitas pemuda dan upaya mempersiapkan generasi pemuda yang kompeten dalam setiap bidangnya. Sehingga diharapkan di masa yang akan datang dapat tercipta sebuah tatanan masyarakat yang madani, adil dan makmur.