08/01/2026
Tanya :
Kloset menghadap Qiblat, Bolehkah buang air besar disana ?
Jawab:
Buang air besar merupakan perkara mubah dalam islam, namun ada beberapa adab yang mesti di perhatikan diantaranya adalah larangan menghadap qiblat saat buang air besar, sebagaimana Rasulullah bersabda
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا»رواه البخارى ومسلم
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila kalian buang air besar atau kecil, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan p**a membelakanginya, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْقِبْلَةِ، فَكُنَّا نَنْحَرِفُ عَنْهَا وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ رواه أبو داود
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami datang ke negeri Syam, lalu kami dapati tempat buang hajat dibangun menghadap kiblat. Maka kami pun berpaling darinya dan memohon ampun kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)
Dua hadis diatas secara jelas bahwa terdapat larangan dari rasulullah untuk buang air menghadap qiblat bahkan abu ayyub al anshari beristighfar saat melihat tempat buang air besar menghadap qiblat, ini menunjukan bahwa perbuatan tersebut merupakan prilaku tercela dizaman nabi saw. Namun ada hadis lain yang justru menerangkan bahwa nabi sendiri pernah menghadap qiblat saat buang air besar:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ، ثُمَّ رَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَبُولُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ رواه أبو داود والترمذي
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ melarang kami menghadap kiblat ketika buang air kecil, kemudian setahun sebelum beliau wafat aku melihat beliau buang air kecil menghadap kiblat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: رَقِيتُ يَوْمًا عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ قَضَى حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ» رواه البخاري ومسلم
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Pada suatu hari aku naik ke rumah Hafshah, lalu aku melihat Nabi ﷺ buang hajat dengan membelakangi kiblat dan menghadap ke arah Syam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
عَنْ مَرْوَانَ الْأَصْفَرِ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، ثُمَّ جَلَسَ يَبُولُ إِلَيْهَا، فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ هَذَا؟ قَالَ: إِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فِي الْفَضَاءِ، فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا بَأْسَ رواه
أبو داود
Dari Marwān al-Aṣfar berkata: “Aku melihat Ibnu ‘Umar menghentikan untanya dengan menghadap kiblat, lalu beliau duduk buang air kecil ke arah kiblat. Aku berkata: ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, bukankah hal ini dilarang?’ Ia menjawab: ‘Larangan itu hanya berlaku di tempat terbuka. Jika antara engkau dan kiblat ada sesuatu yang menutupimu, maka tidak mengapa.’(HR. Abu Dawud)
Hadis diatas menerangkan:
1. Setahun sebelum Rasulullah wafat beliau sempat buang air dengan menghadap qiblat
2. Rasulullah buang Hajat di rumah Hafsah dengan menghadap qiblat
3. Keterangan ibnu umar sekaligus memberi petunjuk yang jelas dan menggabungkan antara dua jenis hadis yang kelihatanya kontradiktif antara larangan dan kebolehan buang air besar dengan menghadap qiblat. Yakni terlarang saat buang air besar tersebut jika di tempat yang tidak ada penghalang, adapun jika ditempat yang terhalang oleh bangunan ataupun lainya maka itu diperbolehkan.