13/05/2019
TAUBATNYA SANG JAWARA
Tidak terasa hampir tiga bulan sejak diskusi dengan seorang kawan yg sedang gundah gulana karena salah satu familnya sedang sakit cukup berat dan dari semua usaha yg dilakukan belum ada yg membuahkan hasil.
Kawan saya bilang "pamanku ada sakit aneh akhi, entahlah.. menurut laporan medis cuma ada keluhan kolesterol dan gula darah tapi sekarang harus cuci darah sepekan dua kali.
Belakangan kondisi sering marah-marah bahkan menantang "siapa yg lebih sakti dari saya ?" ini aneh.. Naséhat dari siapapun tidak ada lagi yg bisa beliau terima..
Tibalah hari dimana team menyempatkan kunjungan ke beliau di kawasan Jakarta Utara, sebuah lokasi yg lumayan crowdit.. Panas dan macet serta bisingnya suasana nampak sudah bukan lagi menjadi keluhan warga. Tapi bagi kami yg hidup di selatan Jakarta sungguh terasa penatnya..
Saat tiba di lokasi beliau dalam keadaan lemah, terbaring dan sudah beberapa hari tidak sanggup berdiri dan berjalan lagi..
Setelah pihak keluarga menjelaskan kepada beliau tentang siapa kami dan mengapa hari ini datang berkunjung, nampak diraut wajah beliau sesuatu yg terpendam dalam tetapi sangat ingin ada yg memahami akan kondisi yg beliau rasakan..
Dan beliau mulai mengadu, "ustadz pinggang dan perut saya sakit".. Ada lagi bapak yang rasa sakit selain pinggang dan perut ?.. Iya ustadz kaki saya sudah tidak bisa digerakkan lagi..
Dan mulailah kami melakukan pendalaman.. Karena beliau sudah nampak terbuka membutuhkan empati dan kawan yg sudah lama beliau ingin berbagi..
Belakangan banyak yg datang ustadz.. Mereka langsung membentak saya dan marah-marah, itu kenapa saya jadi sering marah-marah juga. Mereka (yg datang) bilang "kamu akan sengsara !!!".. Apakah bapak punya hutang ke mereka ?.. Beliau menjawab "Saya selama ini hanya percaya sama Allah ustadz, jadi memang sy tidak pernah memperdulikan (hak) mereka"..
Siapa yg datang sebenarnya dan mengapa mereka langsung marah-marah bahkan mengancam ?..
Setelah pendalaman Konseling dilakukan kurang lebih sekitar satu setengah jam diskusi yg siapapun melihat diskusi kami akan melihat sesuatu yg Ganjil, sebenarnya siapa yg kami sedang diskusikan dan siapa yg dimaksud oleh beliau yg sedang sakit sebagai orang-orang yg datang dan menekan beliau..
Al kisah keluhan panjang beliau baru muncul saat kondisi fisik sudah mulai melemah sekitar satu tahun terakhir. Meski tahun sebelumnya sempat cukup berat tetapi beliau sempat sembuh dan di tahun terakhir ini ternyata kembali sakit dengan keadaan yg jauh lebih berat..
Beliau menuturkan bahwa sepanjang hidup hampir tidak pernah sakit, "saya jarang sakit ustadz".. Tapi sekarang sakit seberat ini.. Beliau melanjutkan "Alhamdulillah sy punya posisi lumayan di tempat kerja sebelum sy pensiun.. Sy juga dekat dengan beberapa Kolonel.. Karena sy s**a dimintai tolong sama mereka. Di lingkungan ini ustadz tahu kan ? Ini lingkungan yg keras, sy tinggal di daerah yang orang bilang "kerasnya kota Jakarta" beliau menuturkan kondisi Jakarta di era tahun sebelum reformasi hingga puncaknya tahun 1998..
"Beruntung sy pindah ke sini karena ikut istri kalau tidak, tahu sudah jadi apa saya"... Beliau menuturkan mengapa sering diminta tolong oleh aparat ternyata karena beliau termasuk punya ilmu (kanuragan) yg membuat beliau disegani dan ditakuti para preman..
Saya mencoba menanyakan "Bapak belajar karena kebutuhan apa waktu itu ?.. Saya belajar bukan karena saya ingin hebat ustadz.. Juga bukan karena saya ada dendam.. Beliau mulai menangis mengenang masa-masa awal mengapa jadi masuk ke dunia baru yang tidak wajar..
"Ustadz.. Ayah saya mati dibunuh dengan teluh.. Saya sakit hati dan takut.. Sepeninggal ayah kami semua masuk Islam hingga saya akhirnya menikah dengan beliau (sambil menunjuk ke istri)..
" Pengalaman pahit itu (ayah terkena teluh) membuat saya berfikir bahwa saya harus mencari bekal (perlindungan), tetapi saya tidak ada dendam ustadz !" beliau kembali menjelaskan tujuan belajar ilmu kanuragan.
Selanjutnya beliau harus melewati kondisi-kondisi berat karena konsekuensi dari level keilmuan yang harus dikuasai.. Tetapi karena kuatnya keyakinan beliau semua bisa dilewati dan berhasil meraih tingkatan tertinggi.. "Jadi saya kepakai ustadz ketika Jakarta rusuh"..
Seiring tingginya kanuragan yg dikuasai maka seiring juga rasa malas ibadah mulai datang, hingga lama-kelamaan terbiasa meninggalkan shalat.. "Begitu berlangsung sekian tahun hingga akhirnya jaman berganti.. Karena hari ini berbeda dari jaman dimana saya dibutuhkan oleh orang-orang tertentu dan sekarang tidak perlu lagi keadaan dimana orang harus takut dengan saya"...
"Sejak saya mulai tidak berdaya mereka datang ustadz.. Para pembantu saya (jin-jin khodam) menuntut apa yang selama ini tidak saya berikan (persembahan) sesuai perjanjian.." Mereka marah-marah dan mengancam saya ustadz.. Tapi saya tidak takut saya percaya sama Allah, saya tidak butuh mereka (lagi)"...
Allahu Akbar.. Kita mengenal ungkapan "Tidak ada makan siang gratis tuan !".. Masya Allah padahal penyesalan baru datang saat nasi sudah menjadi bubur..
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua untuk tetap istiqomah di jalan-Nya... Ya Allah sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami, jika engkau tidak mengampuni dan memberikan rahmat kepada kami maka niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi..
Bogor, 6 Ramadhan 1440 H.