05/11/2014
Bismillahirohmanirrohim..
Assallamualaikum
As Sayyid
Abdurrahman Ad
Diba’i (Shohibul
Maulid)
Sang Penyair yang Rendah Hati
(866 H. – 944 H.)
Wahai purnama yang memiliki segala
kesempurnaan
Dengan ucapan apa bisa kuungkapkan
kemuliaanmu
Maqbarah Syeikh Isma'il Jabarti
(Zabid) yang di dalamnya terdapat
maqam Abdurrahman Ad Diba'i
Pelantun syair pujian atas Nabi
Muhammad SAW. yang lebih dikenal
dengan Maulid Diba` ini, bernama
lengkap Abdurrahman bin Ali bin
Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf
bin Ahmad bin Umar Ad Diba`i Asy
Syaibaniy, beliau juga dikenal dengan
julukan Ibn Diba`. Sebenarnya kata
"Diba`" adalah julukan (laqob)
kakeknya yang bernama Ali bin Yusuf
Diba` yang dalam bahasa Sudan
berarti putih. Dalam kitabnya yang
berjudul Bughyatul Mustafid, beliau
menuliskan di bagaian akhir kitab
tersebut tentang sekilas riwayat
hidupnya. Disebutkan bahwa beliau
dilahirkan di kota Zabid (salah satu
kota di Yaman utara) pada sore hari
Kamis, 4 Muharram, 866 H.
Sekilas Geografis Zabidu
Zabid adalah salah satu kota tua
yang terletak di Yaman utara.
Sekarang kota Zabid termasuk dalam
kawasan propinsi Hudaidah. Letak
geografisnya berada di tengah-
tengah lembah Zabid, yang berjarak
40 kilometer dari laut merah. Dahulu
kota Zabid dikenal juga dengan nama
"Hushoib".
Zabid merupakan salah satu kota
pusat keilmuan di Yaman, di mana
sejarah mencatat banyak ulama-
ulama dari berbagai penjuru belahan
dunia yang datang untuk menuntut
ilmu atau sekedar mencari sanad hadis
di kota ini. Bahkan tak jarang dari
mereka yang akhirnya enggan kembali
ke daerah asalnya dan memilih untuk
tinggal di kota Zabid sampai akhir
hayatnya.
Kota ini sudah dikenal sejak masa
hidupnya Nabi Muhammad SAW,
tepatnya pada tahun ke-8 Hijriyah. Di
mana saat itu datanglah rombongan
suku Asy`ariah (di antaranya adalah
Abu Musa Al Asy`ari) yang berasal
dari Zabid ke Madinah Al Munawwaroh
untuk memeluk agama Islam dan
mempelajari ajaran-ajarannya.
Karena begitu senangnya atas
kedatangan mereka, Nabi Muhammad
SAW. berdoa memohon semoga Allah
SWT. memberkahi kota Zabid dan Nabi
mengulangi doanya sampai tiga kali
(HR. Al Baihaqi). Dan berkat barokah
doa Nabi, hingga saat ini, nuansa
tradisi keilmuan di Zabid masih bisa
dirasakan. Hal ini karena generasi
ulama di kota ini sangat gigih menjaga
tradisi khazanah keilmuan Islam.
Di Zabid terdapat masjid Asya`ir yang
dibangun sejak tahun ke-8 Hijriyah,
masjid yang dibangun oleh Abu Musa
Al Asy`ari ini merupakan salah satu
dari ketiga masjid yang dibangun oleh
sahabat Nabi di Negeri
Saba' (Yaman).
Masa Kecil Ibn Diba`
Pengarang Maulid Diba`i ini lahir
ketika ayahnya sedang bepergian, dan
sampai akhir hayatnya beliau tidak
pernah bertemu dengan ayahnya.
Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya
yang bernama Syeikh Syarafuddin bin
Muhammad Mubariz yang juga seorang
ulama besar yang tersohor di kota
Zabid saat itu. Meskipun demikian,
ketiadaan sosok ayah tidak menjadi
penghalang bagi Ibn Diba` untuk
menuntut ilmu pada ulama-ulama
besar Zabid.
Semenjak kecil, Ibn Diba` sudah
sangat giat dalam menimba ilmu
kepada para ulama. Beliau belajar
membaca Al Quran dibawah bimbingan
Syeikh Nuruddin Ali bin Abu Bakar lalu
berpindah kepada m***i Zabid Syeikh
Jamaluddin Muhammad Atthoyyib
yang masih terhitung pamannya
sendiri. Setelah gurunya melihat
bakat kecerdasan istimewa yang
dimiliki Ibn Diba`, maka sang M***i
menyuruhnya untuk membaca Al
Quran dari awal hingga akhir. Berkat
kecerdasan dan ketekunan, beliau
sudah bisa menghafal Al Quran saat
masih berusia sepuluh tahun.
Tak lama setelah beliau berhasil
menghatamkan Al Quran, Ibn Diba'
mendengar berita duka bahwa
ayahnya telah meninggal dunia di
salah satu daerah di daratan India.
Beliau mendapatkan harta warisan
sebanyak 8 Dinar. Meninggalnya ayah
beliau tak memadamkan motivasi Ibn
Diba` dalam menuntut ilmu, malah
sebaliknya beliau makin semangat.
Setelah peristiwa itu, beliau
memutuskan untuk belajar ilmu Qiroat
dengan mengaji Nadzom (bait)
Syatibiyah dan juga mempelajari ilmu
Bahasa (gramatika), Matematika,
Faroidl, Fikih, dengan masih di bawah
bimbingan pamannya. Atas arahan
pamannya, beliau disuruh untuk
mengaji kitab Zubad (nadlom Fiqh
madzhab Syafi`i) kepada Syeikh Umar
bin Muhammad Al Fata Al Asy`ari.
Ibn Diba' Menimba llmu
Kemudian setelah menghatamkan
kitab Zubad, dengan bermodal uang
harta warisan yang didapat dari
ayahnya, Ibn Diba` menempuh
perjalanan jauh menuju tanah Haram
Makkah untuk menunaikan ibadah
haji. Sepulang dari Makkah, beliau
disambut dengan berita duka bahwa
kakeknya meninggal dunia.
Sepeninggal kakeknya, Ibn Diba`
tinggal bersama pamannya sambil
tetap mengkaji beberapa ilmu di
bawah bimbingan pamannya.
Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke
Makkah lagi untuk menunaikan ibadah
haji yang kedua kalinya. Sepulang dari
Makkah, Ibn Diba` kembali lagi ke
Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis
dengan membaca Shohih Bukhori,
Muslim, Tirmidzi, Al Muwattho` di
bawah bimbingan Syeikh Zainuddin
Ahmad bin Ahmad Asy Syarjiy. Di
tengah-tengah sibuknya belajar
Hadis, Ibn Diba' menyempatkan diri
untuk mengarang kitab Ghoyatul
Mathlub yang membahas tentang
kiat-kiat bagi umat Muslim agar
mendapat ampunan dari Allah SWT.
Tak puas dengan hanya belajar Hadis,
Ibn Diba` lalu belajar Fikih dengan
membaca kitab Minhajuttholibin dan
Haawi Shoghir kepada Syeikh
Jamaluddin bin Ahmad bin Jaghman
dan membaca kitab-kitab hadis
kepada Syeikh Burhanuddin bin
Jaghman.
Pada tahun 896 H. beliau berangkat ke
Makkah untuk menunaikan ibadah haji
yang ketiga kalinya. Beliau berziarah
ke makam Nabi Muhammad SAW. di
Madinah. Setelah itu kembali lagi ke
Makkah untuk menuntut ilmu Hadis
kepada para ulama tanah Haram, di
antara gurunya Syeikh Syamsuddin
Muhammad bin Abdurrahman
Assyakhowi, seorang ulama Hadis yang
tersohor kala itu.
Sepulang dari Makkah beliau
mengarang kitab Kasyfu Al Kirbah
dan Bughyat Al Mustafid. Karena
kehebatan karangannya, beliau
mendapat pujian dari Sultan Dzofir
`Amir bin Abdul Wahab, dan
memintanya untuk hadir ke istananya.
Sulthan Dzofir lalu memberikan usulan
untuk menambal kekurangan-
kekurangan yang ada di kitabnya.
Sebelum pulang ke Zabid beliau diberi
hadiah sebuah rumah dan sepetak
kebun kurma di kota Zabid. Dan Sultan
tadi memintanya untuk mengajar ilmu
Hadis di masjid Jami` Zabid.
Kebiasaan dan Karya-karya Ibn
Diba'
Beliau adalah salah seorang ulama ahli
Hadis yang terkemuka pada abad ke-9
H. kehebatannya dalam bidang Hadis
telah diakui oleh para ulama, sehingga
banyak yang datang kepadanya
untuk meminta sanad Hadis dan
mendalami ilmu Hadis. Meskipun
demikian, Hal itu tak membuatnya
berbesar hati, tapi sebaliknya dia
makin tawaddlu` (rendah hati).
Ibn Diba' mempunyai kebiasaan untuk
membaca surat Al Fatihah dan
menganjurkan kepada murid-murid
dan orang sekitarnya untuk sering
membaca surat Al Fatihah. Sehingga
setiap orang yang datang menemui
beliau harus membaca Fatihah sebelum
mereka pulang. Hal ini tidak lain
karena beliau pernah mendengar
salah seorang gurunya pernah
bermimpi, bahwa hari kiamat telah
datang lalu dia mendengar suara, “
Wahai orang Yaman masuklah ke surga
Allah.” Lalu orang-orang bertanya,
“Kenapa orang-orang Yaman bisa
masuk surga ?” Kemudian dijawab,
"karena mereka sering membaca surat
Al Fatihah".
Ibn Diba` termasuk ulama yang
produktif dalam menulis. Hal ini
terbukti beliau mempunyai banyak
karangan baik di bidang Hadis
ataupun Sejarah. Karyanya yang
paling dikenal adalah syair-syair
sanjungan (madah) atas Nabi
Muhammad SAW. yang terkenal
dengan sebutan Maulid Diba`i,
Meskipun ada yang menisbatkan
Maulid ini kepada Ibn Jauzi, hanya saja
pendapat ini sangat lemah.
Di antara buah karyanya yang lain:
Qurrotul `Uyun yang membahas
tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj,
Taisiirul Usul, Bughyatul Mustafid dan
beberapa bait syair. Beliau
mengabdikan dirinya hinga akhir
hayatnya sebagai pengajar dan
pengarang kitab. Ibn Diba'i wafat di
kota Zabid pada pagi hari Jumat,
tanggal 26 Rajab, 944 H.