29/10/2024
Masyumi didirikan pada masa pendudukan Jepang dengan dukungan tokoh-tokoh Islam seperti Kiai Haji Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, dan Kartosoewirjo. Awalnya, Jepang berharap Masyumi dapat memperkuat posisi mereka di Perang Pasifik, tetapi para pemimpin Islam memanfaatkannya sebagai wadah perjuangan kemerdekaan. Kartosoewirjo, yang aktif di MIAI, organisasi cikal bakal Masyumi, bekerja sama dengan Jepang untuk memperluas pengaruh Islam. Namun, setelah proklamasi kemerdekaan, Masyumi berubah menjadi partai politik dengan tujuan mendirikan negara berdasarkan hukum Islam.
Kartosoewirjo memainkan peran penting dalam Masyumi di Priangan, memperkuat organisasi dan mempersiapkan milisi Hizbullah dan Sabilillah. Namun, ketegasannya dalam menolak Perjanjian Renville dan Persetujuan Linggarjati menimbulkan ketegangan dengan kelompok politik lain. Pada akhirnya, Kartosoewirjo memutuskan untuk fokus pada perjuangan bersenjata berbasis Islam, mendirikan Majelis Umat Islam di Jawa Barat, dan membekukan cabang-cabang Masyumi. Keputusannya ini memisahkan jalannya dengan Masyumi yang lebih memilih jalur konstitusional, hingga akhirnya Kartosoewirjo menolak ajakan Natsir untuk kembali ke perjuangan dalam koridor hukum negara.
Penolakan Linggarjati oleh Kartosoewirjo adalah sikap tegas: ‘Kesepakatan yang hanya menguntungkan Belanda tak akan membawa kemerdekaan…