Dewi sangat menyenangkan sekali

01/12/2013

Ibumu… Kemudian Ibumu… Kemudian Ibumu…
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (p**a). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Begitu p**a dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

01/12/2013

Ciri-Ciri Orang Yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah Dan Rsulnya

Pasti kalian semua ingin masuk surga bukan? nah dari pada itu kita harus memenhi pintah-printah allah swt, sebagai berikut :
1. Memberi Makan.
Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi oleh masing-masing orang, namun karena berbagai persoalan dalam kehidupan manusia, maka banyak orang yang tidak bisa memenuhinya atau bisa memenuhi tapi tidak sesuai dengan standar kesehatan, karena itu, bila kita ingin mendapat jaminan masuk surga, salah satu yang harus kita lakukan dalam hidup ini adalah memberi makan kepada orang yang membutuhkannya.
Rasulullah saw bersabda: “Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu masuk surga dengan selamat ” (HR. Tirmidzi)

2. Menyambung Silaturrahim.
Hubungan antar sesama manusia harus dijalin dengan sebaik-baiknya, antara sesama saudara dalam iman, terutama yang berasal dari rahim ibu yang sama yang kemudian disebut dengan saudara dalam nasab.
Bila ini selalu kita perkokoh, maka di dalam hadits di atas, kita mendapatkan jaminan surga dari Rasulullah saw, sedangkan bila kita memutuskannya, maka kitapun terancam tidak masuk surga.
Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang s**a memutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya: yakni memutuskan tali persaudaraan ” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Ketika Rasulullah saw bertanya kepada pada sahabat tentang maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang akan menjadi penghuni surga? diantaranya beliau menjawab: Seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di penjuru kota dengan ikhlas karena Allah ” (HR. Ibnu Asakir, Abu Na’im dan Nasa’i).

3. Shalat Malam
Tempat terpuji di sisi Allah swt adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada terkira, karenanya salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa diberi tempat yang terpuji itu adalah dengan melaksanakan shalat tahajjud saat banyak manusia yang tertidur lelap, Allah swt berfirman: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji ” (QS Al Isra [17]:79).

Manakala seseorang sudah rajin melaksanakan shalat tahajjud, ia merasa menjadi seorang yang begitu dekat dengan Allah swt dan bukti kedekatannya itu adalah dengan tidak melakukan penyimpangan dari ketentuan Allah swt meskipun peluang untuk menyimpang sangat besar dan bisa jadi ia mendapatkan keuntungan duniawi yang banyak.

4. Memudahkan Orang Lain.
Dalam hidupnya, ada saat manusia mengalami kesenangan hidup dengan segala kemudahannya, namun pada saat lain bisa jadi ia mengalami kesulitan dan kesengsaraan.

Karena itu, sesama manusia idealnya bisa saling memudahkan, termasuk dalam jual beli. Manakala kita sudah bisa memudahkan orang lain, maka salah satu faktor yang membuat manusia mendapat jaminan surga telah diraihnya. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah memudahkannya di dunia dan akhirat ” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

5. Berjihad.
Islam merupakan agama yang harus disebarkan dan ditegakkan dalam kehidupan di dunia ini, bahkan ketika dengan sebab disebarkan dan ditegakkan itu ada pihak-pihak yang tidak menyukainya, lalu mereka memerangi kaum muslimin, maka setiap umat Islam harus memiliki semangat dan tanggungjawab untuk berjihad dengan pengorbanan harta dan jiwa sekalipun.

6. Tidak Sombong.
Takabbur atau sombong adalah menganggap dirinya lebih dengan meremehkan orang lain, karenanya orang yang takabbur itu seringkali menolak kebenaran, apalagi bila kebenaran itu datang dari orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya.

Oleh karena itu, bila kita mati dalam keadaan terbebas dari kesombongan amat mendapatkan jaminan masuk surga, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mati dan ia terbebas dari tiga hal, yakni sombong, fanatisme dan utang, maka ia akan masuk surga ” (HR. Tirmidzi).

7. Tidak Memiliki Fanatisme Yang Berlebihan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda, termasuk latar belakang kelompok, baik karena kesukuan, kebangsaan maupun golongan-golongan ber-dasarkan organisasi maupun paham keagamaan dan partai politik, hal ini disebut dengan ashabiyah.

8. Terbebas Dari Utang.
Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan utang.
Rasulullah saw bersabda: “Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari ” (HR. Baihaki)

9. Peka Terhadap Peringatan.
Peka terhadap peringatan membuat seseorang mudah menerima segala peringatan dan nasihat dari siapapun agar waspada terhadap segala bahaya dalam kehidupan di dunia dan akhirat, sikap ini merupakan sesuatu yang amat penting karena setiap manusia amat membutuhkan peringatan dari orang lain, karenanya orang seperti itu akan mudah menempuh jalan hidup yang benar sehingga mendapat jaminan akan masuk ke dalam surga.

10. Menahan Amarah
Al ghadhab atau marah merupakan salah satu sifat yang sangat berbahaya sehingga ia telah menghancurkan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Ada beberapa bahaya dari sifat marah yang harus diwaspadai.

Pertama, merusak iman, karena semestinya bila seseorang sudah beriman dia akan memiliki akhlak yang mulia yang salah satunya adalah mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak mudah marah kepada orang lain.
Rasulullah saw bersabda: “Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu ” (HR. Baihaki).

Kedua, mudah mendapatkan murka dari Allah swt terutama pada hari kiamat, karena itu pada saat kita hendak marah kepada orang lain mestinya kita segera mengingat Allah sehingga tidak melampiaskan kemarahan dengan hal-hal yang tidak benar.
Allah swt berfirman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi:
“Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah. Maka Aku akan mengingatmu jika Aku sedang marah (pada hari akhir) “.

Ketiga, mudah marah juga akan mudah menyulut kemarahan orang lain sehingga hubungan kita kepada orang lain bisa menjadi renggang bahkan terputus sama sekali. Oleh karena itu, seseorang baru disebut sebagai orang yang kuat ketika ia mampu mengendalikan dirinya pada saat marah sehingga kemarahan itu dalam rangka kebenaran bukan dalam rangka kebathilan.

Rasulullah saw bersabda: “Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengontrol dirinya ketika marah ” (HR. Bukhari dan Muslim).

11. Ikhlas Menerima Kematian Anak dan OrangYangDicintai.
Setiap orang yang berumah tangga pasti mendambakan punya anak, karena anak itu menjadi harapan masa depan dan kesinambungan keluarga. Karenanya bahagia sekali seseorang bila dikaruniai anak, baik laki maupun perempuan.

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah mati tiga anak seseorang, lalu dia merelakannya (karena Allah) kecuali dia rnasuk surga”. Seorang wanita bertanya: “atau dua orang anak juga, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “atau dua anak” (HR. Muslim).

12. Bersaksi Atas Kebenaran Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya oleh setiap muslim, namun kenyataan menunjukkan tidak semua muslim mau bersaksi dalam arti menjadi pembela kebenaran Al-Qur’an dari orang yang menentang dan meragukannya, bahkan tidak sedikit muslim yang akhimya larut dengan upaya kalangan non muslim yang berusaha meragukan kebenaran mutlak Al-Qur’an.

13. Berbagi Kepada Orang Lain.
Banyak kebaikan yang harus kita lakukan dalam hidup ini sehingga kebaikan-kebaikan yang kita laksanakan itu membuat kita menjadi manusia yang dirasakan manfaat keberadaan kita bagi orang lain sehingga apapun yang kita miliki memberi manfaat yang besar bagi orang lain apalagi bila hal itu memang amat dibutuhkan oleh manusia.

14. Hakim Yang Benar.
Dalam hidup ini banyak sekali perkara antar manusia yang harus diselesaikan secara hukum sehingga diperlukan pengadilan yang mampu memutuskan perkara secara adil, untuk itu diperlukan hakim yang adil dan bijaksana sehingga ia bisa memutuskan perkara dengan sebaik-baiknya. Bila ada hakim yang baik, maka ia akan mendapat jaminan bisa masuk ke dalam surga.

Rasulullah saw bersabda: Hakim-hakim itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam memberikan keputusan, maka dia di neraka (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’l, Ibnu Majah dan Hakim

30/11/2013

Ibadah tersembunyi yang dicintai oleh Allah SWT
Kita pasti sering mendengar perkataan, tangan kanan berbuat tangan kiri tidak tahu. Yang bisa diartikan sebagai, kita melakukan perbuatan baik tanpa ingin diketahui oleh orang lain, bahkan diri kita tidak ingin mengingat-ingatnya lagi–Ikhlas. Atau bisa dibilang, ibadah yang tersembunyi.

Banyak sekali ibadah-ibadah yang bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Diantaranya adalah:

Shalat malam (sunnah)
Membiasakan shalat malam meskipun hanya satu rakaat witir setiap malamnya. Lakukanlah langsung setelah Isya,atau sebelum tidur, atau sebelum fajar supaya dicatat disisi Allah sebagai bagian dari bangun malam. Karena pada malam hari, sedikit orang yang tahu dan Allah mencintai orang yang beribadah dimalam hari, sedangkan yang lain sedang lelap tertidur.

Rasulullah saw bersabda,” Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil. Karena itu lakukanlah shalat ganjil (witir) Wahai yang membaca AL Qur’an.

Mendamaikan perselisihan/perseteruan
berusaha mendamaikan dua orang yang berseteru, baik kawan, tetangga maupun suami istri. Rasulullah Saw bersabda,” Maukah kalian kuberi tahu amalan yang pahalanya lebih baik dari pada shalat, puasa dan sedekah?”

“Mau ya Rasulullah,” Jawab para sahabat.

Rasulullah melanjutkan,”Yaitu mendamaikan dua orang yang berseteru. Adapun merusak dua orang yang berseteru adalah ‘pencukur’ (pahala).

Berdizikir kepada Allah SWT
banyak berdzikir kepada Allah . Sesungguhnya tidak ada yang lebih dis**ai Allah melebihi kita mengingatNya. Rasulullah saw bersabda,” Maukah kau kutunjukkan amalan yang paling baik, paling suci di sisi sang Maharaja dan paling tinggi di derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh , kemudian kalian saling memukul leher?

“Mau”, jawab para sahabat. Rasulullah meneruskan ;: Berdzikir mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Bersedekah diam-diam
Sesungguhnya bersedekah diam-diam meredakan murka Tuhan. Jika shalat Fajar, Abu Bakar terbiasa pergi ke padang pasir, kemudian kembali lagi sejenak ke Madinah. Karena penasaran, suatuhari Umar bin Khatab membuntutinya . Ternyata yang dikunjungi abu Bakar adalah sebuah tenda kumuh di tengah padang pasir. Umar pun bersembunyi di belakang batu besar..dan tak lama kemudian Abu Bakar pun keluar dari tenda itu.

Setelah Abu Bakar berlalu, Umar masuk ke tenda terebut . Ternyata di dalamnya ada seorang wanita tua dan buta bersama seorang bayi kecil. Umar bertanya,” siapa yang datang tadi pada kalian?”

Wanita itu menjawab ,” Aku tidak tahu. Yang jelas ia seorang muslim. Setiap pagi ia datang kemari”

“ Apa yang ia perbuat?” kejar Umar

Wanita itu berkata,” Ia menyapu rumah kami, mencampur adonan kami , memeras susu ternak kami , lalu keluar.”

Sambil keluar Umar berkata” Engkau membuat lelah penggantimu wahai Abu Bakar. Engkau membuat lelah para pengganti mu wahai Abu Bakar.”

Suatu hari Thalhah ibn Ubaydilkah melihat Umar keluar di tengah kegelapan malam. Saat itu ia masuk ke sebuah rumah, kemudian keluar lagi. Begitu ia lakukan berulang kali dengan rumah yang berbeda. Thalhah penasaran ingin tahu apa yang diperbuat Umar di rumah-rumah itu. Pagiharinya , Thalhah pergi ke rumah pertama yang dimasuki Umar . Ternyata disana ada perempuan buta dan tidak bisa apa-apa karena sudah tua. Thalhah bertanya ” Untuk apa orang ini datang kemari?

Perempuan itu menjawab ,”Ia sudah terbiasa sejak dulu. Ia datang membawa sesuatu yang baik untukku dan mengeluarkan rasa sakit dariku. Sambil keluar Thalhah berkata,”Ibumu kehilanganmu , wahai Thalhah.”

Pada kesempatan lain, Umar pergi ke daerah pinggiran Madinah. Disana ada seorang musafir yang beristirahat ditengah jalan. Sebuah tenda kumuh didirikan, sedangkan ia duduk diambang pintu seperti kebingungan. Umar bertanya ,”Siapa?”

Orang itu menjawab “ Aku dari pedalaman. Aku ingin datang menghadap Amirul Mukminin untuk meminta kemurahan hatinya.

Dari dalam tenda terdengar rintihan seorang wanita , Umar menanyakannya. Orang itu menjawab,” Pergilah semoga Allah merahmati keperluanmu.”

“inilah keperluanku,” tukas Umar . Orang itu berkata,” Istriku akan melahirkan” . Tetapi aku tidak punya uang, makanan dan siapapun.”

“Umar segera berbalik p**ang. Setibanya di rumah , ia berkata kepada sang istri, Ummu Kultsum, ”Apakah engkau punya sesuatu yang dianugrahkan Allah kepadamu?”

“Untuk apa ?” tanya sang istri.

Umar pun segera menceritakan perihal laki-laki itu setelah itu sang istri membawa barang-barang, sedangkan Umar membawa ransel berisi makanan, panci dan kayu. Mereka pun berangkat menemui laki-laki itu.

Ummu Kultsum masuk ke dalam tenda menemui istri laki-laki itu sedangkan umar duduk bersam laki laki itu. Ia menyalakan api dan meniup kayu, lalu memasak makanan.

Tiba-tiba Ummu Kultsum berteriak dari dalam tenda,” Wahai amirul mukminin beri tahu temanmu bahwa anaknya sudah lahir”

Mendengar kata-kata ‘ amirul Mukminin’ , sontak orang itu kaget bukan kepalang.”engkaukah Khalifah Umar bin Al Khatthab? “katanya “Ya,” jawab Umar, kemudian berkata “tetaplah ditempatmu.”

Setelah itu Umar mengambil dan meletakkan panci di dekat tenda, kemudian berteriak pada ummu Kultsum” Beri ia makan.”Perempuan itu pun makan.

Tidak lama kemudian Ummu Kultsum membawa keluar makanan itu . Umar berdiri mengambilnya , lalu meletakkan di depan laki-laki itu sambil berkata,” Makanlah sudah semalam engkau tidak tidur. Besok temuilah kami. Akan kami perintahkan sesuatu yang baik untukmu “..

Semoga Allah merahmati “Umar . Ia begitu tawadlu, s**a melakukan ibadah tersembunyi demi menggapai ridho Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan (yaitu kebun-kebun dan buah anggur serta , serta gadis-gadis remaja yang sebaya dan gelas-gelas yang penuh berisi minuman. Didalamnya mereka tidak mendengar perkataan yan g sia-sia dan tidak p**a perkataan dusta, sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak (An_Naba “ 31-36)

30/11/2013

Tanda-tanda orang yg tidak di s**ai alloh swt

Assalamualaikum wr.wb

Tanda orang yang mutakallif atau memaksakan diri, mendebatkan sesuatu yang tidak diketahuinya, berupaya menyingkirkan orang yang ada di atasnya, menempatkan diri pada posisi yang tidak layak bagi dirinya, dan menaruh perhatian pada sesuatu yang tidak akan menyelamatkannya.

Tanda orang munafik yakni batinnya bersifat keji, apa yang di ucapkannya tidak sama dengan isi hatinya, kata-katanya berbeda dengan perbuatannya, dan saat sepinya berbeda dengan saat nyatanya.

Tanda orang yang dengki yaitu berlebih-lebihan dalam menunjukan cinta sementara hatinya membencinya, bergembira dengan musibah yang menimpa orang yang di dengkinya, s**a menggunjing.

Tanda orang zalim yaitu membenci kebenaran dan menampakkan zalim, menzalimi atasannya dengan melanggar perintahnya, menguasai bawahannya dengan cara paksa.

Tanda orang yang riya atau s**a pamer diri, apabila ada orang di sekitarnya dia akan bersungguh-sungguh beramal, apabila sendirian dia akan malas beramal, dia meningkatkan amalnya lantaran ada pujian, dan berusaha keras mengangkat namanya.

Tanda orang musrif atau berlebih-lebihan, menganggap semua orang belajar darinya, berbangga dengan perbuatan yang batil, sedikit melakukan perbuatan yang makruf, makan sesuatu yang bukan hak miliknya.

Tanda orang yang fasik, membuang-buang waktu, melakukan sesuatu yang sia-sia, bersikap memusuhi, dan membuat omongan.

Tanda orang yang berkhianat, melanggar perintah Allah, mendekat pada orang zalim, s**a mengganggu orang.

Tanda orang yang malas, mengundur-undur kewajiban hingga akhir waktu sedemikian hingga terabaikan.

Tanda orang pendusta, apabila berbicara dia tidak jujur, apabila dikatakan sesuatu kepadanya dia tidak percaya, bersikap memusuhi, dia s**a mengumbar omongan dan s**a membuat omongan.

Tanda orang yang lalai, membuang-buang waktu dan melupakannya, buta hati, dan s**a lengah.

“sungguh NERAKA lah tempat kembalinya mereka”

Wassalamualaikum wr.wb

30/11/2013

Empat Amalan Yang Dapat Menyelamatkan Dari Api Neraka
أًلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbuatan yang engkau lakukan tidak akan menyelamatkan engkau dari api neraka”, mereka berkata, “Bahkan tuan sendiri ya Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bahkan aku sendiri, kecuali Allah melindungiku dengan kasih dan rahmatNya. Oleh kerana itu lakukanlah perbuatan baik sepatut mungkin, setulus mungkin, sedapat mungkin dan beribadahlah kepada Allah pada pagi dan petang hari, pada sebagian dari malam hari dan bersikaplah al-qashd (mengambil pertengahan dan melaksanakannnya secara tetap) kerana dengan cara itulah kamu akan mencapai (syurga)”.
Berdasarkan hadis di atas jelaslah kepada kita bahawa perbuatan yang akan menyelamatkan kita daripada seksaan api neraka adalah :

Pertama : Perbuatan sebaik mungkin.
Kedua : Perbutan setulus mungkin (bersungguh-sungguh ikhlas)
Ketiga : Perbuatan sedapat mungkin (bersungguh-sungguh hingga semaksima mungkin)
Keempat : Beribadah dengan cara sederhana dan istiqamah (berterusan).

Huraiannya :

Pertama : Perbuatan sebaik mungkin (peringkat ihsan)
Allah SWT berfirman bermaksud: “Berbuat baiklah (kepada hamba Allah) seperti mana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmat-Nya yang melimpah-limpah).” (Surah al-Qasas, ayat 77)
Ihsan adalah tonggak yang menegakkan kerangka agama seiring iman dan Islam. Namun, umat Islam kini memandang remeh konsep ihsan ini sehingga tidak mengambil endah kepentingannya dalam kehidupan seharian.

Ihsan bererti berbuat baik dan didefinisikan sebagai ajaran atau konsep mendukung etika kerja yang baik. Berdasarkan perspektif ini, ihsan dapat difahami sebagai produktiviti kerja secara optimum dengan hasil sumbangan terbaik dan berkualiti tinggi. Konsep ihsan menjurus kepada dua matlamat utama. Pertama, ihsan dalam ibadat dan kedua, ihsan dalam muamalat.
Ihsan dalam ibadat ialah beribadat kepada Allah dengan penuh khusyuk dan tawaduk di samping ikhlas seolah-olah ketika itu sedang berhadapan dengan Allah SWT.

Jika perasaan itu ada, sudah tentu manusia gerun untuk melanggar larangan Allah SWT.
Menurut Ibnu Hajar, sekiranya manusia tidak dapat melihat Allah, maka hendaklah dia meyakini Allah melihat dan mengawasinya. Justeru, setiap muslim hendaklah menyempurnakan ibadat dengan sebaiknya bertepatan landasan digariskan Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Perlu diingat konsep ihsan bukan sekadar memelihara hubungan baik dengan Allah SWT dalam urusan ibadat semata-mata kerana ihsan turut merangkumi setiap perlakuan sesama manusia sama ada bersangkutan perkara duniawi mahupun ukhrawi.

Ihsan dalam muamalat adalah bersifat ihsan sesama manusia dan juga sesama makhluk Allah SWT yang lain.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “Wahai Aisyah! Kamu hendaklah menaruh kasihan belas (berihsan). Sesungguhnya apabila ihsan masuk ke dalam sesuatu, maka hendaklah ia menghiasinya. Dan apabila ihsan terkeluar daripada sesuatu, maka ia akan rosak.” (Hadis Riwayat Muslim)

Kedua : Perbutan setulus mungkin (bersungguh-sungguh ikhlas kerana Allah SWT)

Ikhlas bermaksud melakukan amal ibadat sama ada secara khusus atau umum semata-mata memburu keredhaa Allah. Bagi orang yang hatinya berpaut dengan rasa keikhlasan tidak akan melakukan sesuatu mengharapkan pembalasan. Pepatah ada mengatakan, "Ada ubi ada batas aku beri jangan lupa di balas". Seseorang yang ikhlas juga tidak mengharapkan pujian dan sanjungan daripada manusia,jauh sekali menunjuk-nunjuk atau riak.

Ikhlas selalunya lahir dari hati yang luhur dan mengharapkan reda Allah SWT. semata-mata. Inilah akan menjadi kunci kesempurnaan dan kejayaan segala amal. Allah SWT. akan menerima perbuatan atau amal yang dilakukan dengan ikhlas.

Firman Allah SWT maksudnya : "Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran ini kepadamu wahai Muhammad dengan membawa kebenaran, oleh itu hendaklah engkau menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat kepadaNya"


Rasulullah SAW bersabda maksudnya : "Sesungguhnya nilai perbuatan itu bergantung dengan niatnya,dan sesungguhnya bagi setiap orang, buah atau ganjaran sesuai bagaimana niatnya.barang siapa hijrahnya kerana menuruti perintah Allah dan RasulNya nescaya hijrahnya diterima oleh Allah dan RasulNya (dan diberi pahala) dan barang siapa hijrahnya kerana keuntungan dunia yang dikejarnya atau kerana perempuan yang akan dikahwininya,maka hijrahnya sampai
kepada yang diniatnya itu." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ketiga : Perbuatan sedapat mungkin (bersungguh-sungguh hingga semaksima mungkin)

Sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Allah SWT menyukai apabila seseorang kamu bekerja dan melakukan pekerjaan itu dengan tekun."
(Hadis Riwayat Abu Daud).
Menurut hadis ini, apabila seseorang muslim s**a membuat sesuatu pekerjaan dengan tekun sehingga selesai dan sempurna pekerjaannya, maka dia termasuk dalam kategori manusia yang dis**ai oleh Allah SWT.
Mungkin kita tertanya-tanya, kenapakah Allah SWT s**akan muslim yang bersikap tekun dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya? Mungkin.. salah satu sebabnya ialah kerana Tuhan sendiri bersikap tekun dan bersungguh-sungguh tatkala Dia mencipta makhluk dengan serba kesempurnaan.

Hal ini disokong oleh sebuah hadis lain; “Sesungguhnya Allah itu cantik dan indah. Dan, dengan sebab itu, Dia s**akan keindahan.”
Barangkali sebab itu juga Allah SWT benci manusia yang ‘mencacatkan’ kesempurnaan . ciptaanNya. Jika sesuatu perbuatan dibuat sambil lewa maka tidak bersungguh-sungguh maka perbuatan tersebut pasti rendah kualitinya dan pelakunya akan mengalami kegagalan.

Keempat : Beribadah dengan cara sederhana dan istiqamah (berterusan) diwaktu pagi, petang dan sebahagian malam.

Islam tidak s**a umatnya melakukan sesuatu ibadah yang banyak tetapi berhenti ditengah jalan dan tidak mampu dilakukan secara berterusan dan istiqamah. Sesuatu ibadah itu lebih baik dikerjakan sederhana tetapi berterusan dan istiqamah.

Islam menuntut setiap insan supaya berusaha mengejar dan mencari sedapat mungkin keperluan bagi menyempurnakan sebuah kehidupan sama ada di dunia mahupun di akhirat nanti. Cara paling sesuai dianjurkan Islam ialah dengan bersederhana.
Ibadah yang dilakukan sedikit tetapi istiqamah adalah lebih baik daripada ibadah yang banyak tetapi berhenti ditengah jalan.

Diriwayatkan dari Aisyah ra : "Seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Apakah amal (ibadah) yang paling dicintai Allah?” Nabi Muhammad SAW bersabda,” Amal (ibadah) yang dilakukan secara tetap meskipun sedikit”(Hadis Riwayat Bukhari)
Pada masa sama, perlu ada keseimbangan supaya kedua-dua tuntutan dunia dan akhirat dapat disempurnakan sebaiknya seperti sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Beramallah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati besok pagi.” (Hadis riwayat Ibn Asakir)

Istiqamah bermaksud kita menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri mahupun ke kanan. Istiqamah ini mencakupi pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah samaada zahir dan batin dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Apabila hati telah istiqamah dalam makrifat kepada Allah, dalam takut pada-Nya, pengagungankan-Nya, malu pada-Nya, cinta pada-Nya, berhajat pada-Nya, keinginan pada-Nya, harapan pada-Nya dan berdoa dan bermunajat pada-Nya, tawakkal pada-Nya dan berpaling dari selain-Nya maka organ tubuh lainnya akan istiqamah. Kerana sesungguhnya hati adalah komanden seluruh organ tubuh dan yang lain adalah prajurit.

Jika kita ingin anggota tubuh badan kita istiqamah maka istiqamahkanlah hati kita dengan Iman. Dan iman ini tidak akan berlaku istiqamah, kecuali lisan kita telah istiqamah terlebih dahulu, sebagaimana yang pernah Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya :"Tidaklah iman seorang hamba itu lurus (istiqamah) hingga hatinya istiqamah, dan hatinya tidak akan istiqamah kecuali lisannya telah istiqamah." (Hadis Riwayat Ahmad)

Sahabat yang dimuliakan,
Marilah sama-sama kita melakukan amal ibadah soleh, amal ibadah dan amal kebajikan secara bersungguh-sungguh, ikhlas, sederhana dan berterusan (istiqamah). Setiap amalan kita akan dinilai dan diberi ganjaran pahala oleh Allah SWT. Ingatlah bahawa hidup di dunia ini hanya sementara dan kehidupan di akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi.

Address

Padalarang
Bandung Satu
082234

Website

http://www.bandungbarat.com/

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dewi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share