JASSPRO (Jaringan Santri dan Mahasiswa Progresif)

JASSPRO (Jaringan Santri dan Mahasiswa Progresif) Jaringan Intelektual Zaman sebagai kanvas peradaban, terlalu luas untuk sekedar dilukis dengan satu macam warna.

JASSPRO (Jaringan Santri dan Mahasiswa Progresif) adalah suatu ikatan emosional dan intelektual talenta-talenta putera zaman (Santri dan Mahasiswa) dalam mewujudkan obsesi, mimpi, dan visi-visi masa depan yang humanis, inklusif, dan progresif. V I S I

Gerak dinamika sejarah terus melesat sporadis, yang tidak memberi ampun menggilas dan melempar generasi yang terasing dengan zamannya. Butuh inklus

ivitas yang harmonis terhadap aneka warna kebenaran (logika) dan kebaikan (etika), untuk mencipta keindahan (estetika) peradaban kemanusiaan yang madani. Pesantren dan kampus, dua basis pendidikan intelektual dan moral-spiritual bangsa Indonesia, betapa dewasa ini terjebak dalam lingkaran dekotomis. Pesantren menjadi kian terukhrawikan, dan sebaliknya kampus menjadi sangat terduniawikan. Pesantren cenderung eksklusif, bahkan skeptis dan melarikan diri dari kenyataan modernitas yang seharusnya ia berada di garda terdepan memimpinnya. Sementara kampus, mengalami gejala leberalisasi intelektual yang membawanya kering spiritualitas. Dalam konteks demikian, santri dan mahasiswa, sebagai representasi generasi terdidik, sangat perlu merapatkan barisan untuk membangun suatu keakraban intelektual dan emosional, agar termungkinkan mendialogkan kekayaan khazanah kepesantrenan dan nilai-nilai akademik dunia kampus secara harmonis dan progresif, sehingga tercipta aras pemikiran generasi-generasi yang ideal, integral, dan holistik. M I S I

Mobilisasi progresivitas talenta-talenta putra zaman (Santri dan Mahasiswa) menjadi generasi-generasi ilmuwan (profesional), budiman (bermoral), dan seniman (visioner), yang secara massif akan bergerak menjadi agen-agen perubahan positif dalam mewarnai sejarah peradaban kemanusiaan seindah MEJIKUHIBINIU. G E R A K A N

JASSPRO akan bergerak di tiga bidang penting: keIslaman, kemanusiaan dan keIndonesiaan. Ketiganya akan direalkan dalam bentuk gerakan pendidikan, pemikiran, sosial, dan ekonomi.

Karya-karya santri Lirboyo tahun 2015 (AGHITSNA)
26/06/2015

Karya-karya santri Lirboyo tahun 2015 (AGHITSNA)

14/12/2014

JASSPRO (Jaringan Santri dan Mahasiswa Progresif) adalah suatu ikatan emosional dan intelektual talenta-talenta putera zaman (Santri dan Mahasiswa) dalam mewujudkan obsesi, mimpi, dan visi-visi masa depan yang humanis, inklusif, dan progresif.

17/08/2014

Di ke-69 tahun kemerdekaan bangsa ini, kita masih terjajah dan dikuasai oleh pandangan hidup "feodalisme absolut". Diantaranya, ambisi menjadi priyayi dan berpangkat.

26/07/2014

الإسلام بيقى مع الإمام العدل ولو كافرا ويفني مع الإمام الظلم ولو مسلما

Islam akan tetap eksis dengan imam yang adil meskipun kafir, dan akan hancur dengan imam yang zhalim meskipun Muslim.

وكفى بالموت وعيظا
09/06/2014

وكفى بالموت وعيظا

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN...

Diberitahukan kepada segenap santri dan alumni Lirboyo, serta kaum muslimin wal muslimat dimanapun berada,,, bahwa Syaikhina wa murobbi ruhina, KH. AHMAD IDRIS MARZUQI, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur telah pulang ke rahmatulloh pada hari Senin, 11 Sya'ban 1435 H./ 09 Juni 2014.
Jenazah insya Allah akan dimakamkan pada pukul 19.00 WIB...

Mohon do'a dari semuamya...
LAHU AL-FATIHAH.....

16/03/2014

TEMA DEBAT AKHIR TAHUN
PP. Lirboyo Kota Kediri 2014

1. SANTRI HARUS BERANI MISKIN ATAU HARUS KAYA?

Abstraksi
Sabda Nabi, “kefakiran nyaris menyebabkan kekafiran”. Sahabat Ali mengatakan, “kalau saja kemiskinan itu berwujud manusia, pasti aku yang akan membunuhnya”. Nabi bersabda, “Ya Allah, matikan aku dalam keadaan miskin”. Mbah KH. Abdul Karim dawuh, “santriku kudu wani melarat”. Sebagai orang pesantren, manakah yang harus kita jadikan pilihan hidup, berani miskin, atau harus kaya?

2. PERLUKAH RELEVANSI FIQIH PESANTREN?

Abstraksi
Rumusan hukum Islam yang terkodifikasi dalam khazanah fiqih pesantren, adalah produk dari interpretasi para fuqaha sebagai refleksi terhadap dinamika sosial-politik dan sosial-ekonomi di abad pertengahan yang berada di bawah bayang-bayang eksistensi pemerintahan Islam Timur Tengah. Karena itu, hari ini, di Indonesia, tidak sedikit rumusan-rumusan fiqih pesantren, khususnya tentang hukum publik, yang dirasa kehilangan relevansi.

Sekedar menyebut contoh, dalam tema siyasah masih mengacu pada konsep negara-agama, padahal paham negara-bangsa (nation-state) sudah diterima hampir semua masyarakat dunia; klasifikasi non-Muslim menjadi harbi, dzimmi, musta’man, dan mu’ahad, dimana masyarakat modern mulai sadar asas kesetaraan, sadar kerukunan, dan merindukan hubungan antar umat beragama yang harmonis dan manusiawi; tentang hukum perbudakan yang masih bertebaran dalam kajian fiqih pesantren dimana masyarakat dunia telah sepakat menolak segala bentuk perbudakan; dll. Akibatnya, banyak isu-isu keIndonesiaan dan isu-isu kontemporer yang sulit dijumpai dalam kajian fiqih pesantren. Fiqih pesantren seolah menyeret para santri hidup di abad pertengahan, dan menjauhkan dari realitas dunia kontemporer. Pertanyaannya, perlukah melakukan usaha relevansi atau peremajaan khazanah fiqih pesantren dengan perspektif kekinian dan keIndonesiaan?

3. MODERNITAS, HARUS DITINGGALKAN ATAU DITAKLUKKAN?

Abstraksi
Ada sebagian orang yang anti terhadap modernitas, sehingga memilih melarikan diri dari kenyataan dunia modern dengan mengasingkan dan menutup diri (ekslusif) dalam romantisme masa lalu. Dalam mindset kelompok anti-modern, modernitas bukan suatu realitas yang menantang untuk dihadapi, melainkan hantu sejarah yang menakutkan dan harus dijauhi atau ditinggalkan.

Ada juga orang yang bersikap lain, yakni terbuka (inklusif) terhadap modernitas. Dalam mindset kelompok ini, modernitas bukanlah hantu sejarah yang harus dijauhi, melainkan realitas sejarah yang menantang untuk ditaklukkan. Kendati embrio modernitas lahir dan besar dari rahim peradaban Barat, namun modernitas bukanlah monopoli dunia Barat, sehingga modernisasi tidak berarti westernisasi (pembaratan). Modernisasi adalah fitrah evolusi semua peradaban manusia. Karena itu, kelompok ini tidak menutup diri atau lari dari realitas dunia modern, namun berani menantang dan menaklukkannya. Lantas, santri harus bagaimana?

4. ISLAMISASI, HARUS MELALUI PENDEKATAN ARABISASI ATAU PRIBUMISASI?

Abstraksi
Islamisasi Jawa, bahkan Nusantara, yang diprakarsai oleh Walisanga, menggunakan pendekatan dakwah yang memiliki spirit kearifan lokal, yakni pribumisasi. Pribumisasi Islam adalah upaya memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang disesuaikan dengan konteks tradisi, budaya, dan kultur masyarakat Nusantara, bukan masyarakat Arab, sehingga membidani bagi kelahiran asimilasi dan akulturasi antara nilai-nilai ajaran Islam dengan tradisi-budaya Nusantara. Pribumisasi lebih menekankan nilai-nilai substantif dari ajaran Islam, bukan simbol-simbol lahiriah-formal yang dipengaruhi oleh budaya Arab.
Namun belakangan, pendekatan dakwah Islam mulai bergeser dari tren pribumisasi menjadi tren Arabisasi. Arabisasi adalah usaha peng-Araban umat Islam. Artinya, umat Islam dipengaruhi untuk melepaskan tradisi-budaya lokalnya berganti dengan tradisi-budaya dan simbol-simbol ke-Arab-an, baik dalam segi gaya, dialek, pakaian, dll. Arabisasi telah menanamkan opini pada masyarakat awam bahwa, seolah segala yang Arab adalah Islam, dan segala yang non-Arab adalah bukan Islam. Sebagai generasi pewaris Walisanga, pendekatan manakah yang harus dipilih santri dalam berdakwah?

5. DEMOKRASI, ISLAMI ATAU JAHILI?
Abstraksi

Dalam wacana politik, demokrasi dikenal sebagai konsep terbaik yang pernah ditemukan manusia dibanding dengan konsep teokrasi maupun oligarki. Demokrasi dipercaya sebagai sistem yang paling efektif untuk menjamin keadilan sosial dan menghindarkan terjadinya tindakan politisasi agama, deskriminasi, dan kezhaliman yang diperankan oleh penguasa, sebab dalam konsep demokrasi kekuasaan berada di tangan rakyat.

Namun menurut sebagian orang, demokrasi adalah ciptaan manusia, produk Barat, produk kufar, thaghut, sehingga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Menurut Kang Santri, demokrasi itu islami atau jahili?

6. DI ALAM MODERN, APAKAH SANTRI MASIH MEMILIKI MASA DEPAN?

Abstraksi
Ada yang memelesetkan lirik lagu kasidah Jilbab Putih menjadi “di balik jilbabmu, ada jiwa yang taqwa... di balik sarungmu, tersimpan masa depan cerah…” . Jika membaca plesetan lirik tersebut, santri diklaim memiliki masa depan yang cerah. Masa depan di sini tentu bukan dalam pengertian ukhrawi, tapi keberadaan, keterlibatan, dan peran strategis santri dalam kancah dunia global-modern.

Kita tahu, bahwa dunia global-modern dikendalikan setidaknya oleh tiga kelompok: pengusaha, penguasa, dan pemikir. Dengan kata lain, arah peradaban berada di tangan orang-orang kaya, para penguasa, dan orang-orang cerdas atau pemilik ide. Pertanyaan besarnya adalah, apakah santri disiapkan untuk menguasai job-job itu? Jika tidak, apakah santri masih memiliki masa depan yang hebat di alam modern?

7. BENARKAH OTOKRITIK BERAKIBAT KUWALAT?

Abstraksi
Banyak yang menuding daya kritisisme telah mati di lingkungan santri. Kematian daya kritis ini ditengarai akibat doktrin ta’zhim yang tidak proporsional. Doktrin ta’zhim kepada guru, kyai, ulama-ulama terdahulu yang tidak proporsional, dianggap mempengaruhi psikologi santri menjadi minder, tidak percaya diri, bahkan takut dan dihantui kuwalat ketika hendak melakukan otokritik apapun terhadap internal pesantren. Karena itu, di lingkungan santri sangat familier doktrin-doktrin seperti “aku adalah budak orang yang mengajariku…”, “murid di hadapan guru itu seperti mayit di pangkuan orang yang memandikannya”, kisah Nabi Musa yang tidak boleh bertanya apapun terhadap perilaku Nabi Hidlir, dll. Doktrin-doktrin demikian, disinyalir telah membunuh daya kritisisme santri, sehingga filosofi hidup yang berkembang di lingkungan santri adalah “bilâ kaifa!” dan “sami’nâ wa atha’nâ”.

8. APAKAH GENERASI SALAF PASTI LEBIH HEBAT DARI GENERASI KHALAF?

Abstraksi
Di kalangan santri memang populer adegium, “al-muhâfazhah alâ al-qadîm ash-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd al-ashlah”. Yakni, melestarikan produk-produk klasik yang relevan dan adoptif terhadap nilai-nilai modernitas yang positif. Namun, ibarat api jauh dari panggang, kecenderungan santri malah bersikap eksklusif terhadap segala hal yang baru (al-jadîd), dan lebih nyaman dengan romantisme masa lalu (al-qadîm). Dengan kata lain, segala produk masa lalu senantiasa diapresiasi (mu’tabarah), dan segala produk yang baru senantiasi dicurigai (ghairu mu’tabarah). Alibi yang kerap dikemukakan atas kecenderungan tersebut adalah, “khairul qurun qurnî wa mâ yalawnahu…”. Alibi ini menumbuhkan kepercayaan di kalangan santri bahwa karya-karya ulama masa lalu memiliki supremasi kualitas yang tak tertandingi oleh generasi berikutnya.

Pertanyaan nakalnya adalah, apakah supremasi tersebut lantaran terlalu hebatnya ulama-ulama terdahulu sehingga sulit ditandingi oleh generasi berikutnya, ataukah generasi berikutnya yang dilanda krisis kualitas sehingga sulit untuk menandingi kehebatan ulama-ulama terdahulu. Dengan kata lain, apakah generasi salaf pasti lebih hebat dari generasi khalaf?
LIRBOYO PONPES LIRBOYO

14/02/2014

Kultweet di seputar CITRA TOKOH/PAHLAWAN SEJARAH

1. Semua orang yg terlanjur jadi tokoh/pahlawan dlm suatu sejarah, pasti tidak lepas dari unsur fakta dan fiksi.

2. Campuran unsur fiksi tersebut, akan mampu citrakan seorang tokoh/pahlawan masa lalu menjadi sosok yg lebih istimewa dr fakta sebenarnya.

3. Dalam titik ekstrem, bahkan akan mengesankan tokoh/pahlawan masa lalu sebagai manusia2 super yang tak tertandingi.

4. Citra istimewa atau kesan manusia super yg dibentuk oleh unsur2 fiktif, bisa menipu generasi dan pengaruhi mentalitasnya tumbuh kerdil.

5. Mental generasi yg tumbuh kerdil, akan memandang superior pada tokoh/pahlawan masa lalu, dan memandang rendah pada diri sendiri.

6. Pandangan demikian, tdk selamanya berarti sikap generasi yg tawadhu', tapi boleh jadi cerminan dari mentalitas generasi yang kerdil.

7. Mentalitas generasi yg tumbuh kerdil, sangat berperan dalam menciptakan kemandekan bahkan kemunduran dinamika peradaban.

02/02/2014

Kultweet di tentang

0. Berikut kultweet saya tentang . Silakan diresapi. Insya Allah tidak malati. :-)

1. Ada kepercayaan yg sudah mengakar di lingkungan santri terhadap fenomena yg disebut kuwalat.

2. Kepercayaan tentang kuwalat ini, sama mengakarnya dg kepercayaan tentang barokah yg familier di lingkungan santri itu.

3. Sebab istilah barokah, bisa dikatakan merupakan bentuk anti-tesis dari istilah kuwalat itu sendiri.

4. Artinya, ketika seseorang diklaim kuwalat, berarti ia dianggap tidak mendapatkan barokah.

5. Kuwalat sendiri adalah, keadaan negatif yg dialami seseorang sebagai "balasan gaib" akibat zhalim thd sesuatu yg dipercaya keramat/agung.

6. Hal-hal yg dikeramatkan/diagungkan, dg demikian, akan dipercaya sebagai obyek yg "malati".

7. Obyek malati ini, di lingkungan santri bisa berupa guru, kyai, keluarga kyai, ulama, wali, dan obyek2 lain yg dikeramatkan.

8. Kepercaan malati atas obyek2 tersebut, sanggup memobilisasi kepatuhan, penta'zhiman, bahkan pengkultusan santri terhadapnya.

9. Namun pd titik ekstrim, kepercayaan kuwalat jg sanggup pengaruhi psikologis santri merasa dicekam oleh bayang2 ketakutan.

10. Bayang2 kuwalat yg mencekam psikologi santri ini, tdk jarang menggeser perasaan ta'zhim/hormat berubah mjd perasaan takut.

11. Padahal konotasi antara istilah ta'zhim atau hormat dengan istilah takut, sangat jauh berbeda.

12. Ta'zhim atau hormat merujuk pd keagungan atau kemuliaan. Sedangkan takut merujuk pd keburukan, kejahatan, atau bahaya.

13. Secara lahiriah, ekspresi orang yg ta'zhim dg ekspresi orang yg takut, memang nyaris sama. Namun secara motivasi, tentu jauh berbeda.

14. Motivasi orang yg hormat adalah krn dorongan naluri dr pengakuan atas keagungan atau kemuliaan seseorang.

15. Sedangkan motivasi org yg takut adalah, mencari selamat atau menghindari keburukan, kejahatan, atau bahaya dr seseorang (ittiqa'a syarrihi).

16. Karna ekspresi lahiriah yg nyaris sama ini, kadang mjd sulit utk bedakan antara orang yg BENAR2 ta'zhim/hormat, dg orang yg SEBENARNYA ketakutan.

17. Ini juga bisa berarti, sulit membedakan antara orang yg BENAR2 agung/terhormat, dg orang yg SEBENARNYA menakutkan.

18. Namun jika jeli, mudah saja bedakan keduanya. Org yg BENAR2 ta'zhim/hormat, ia akn bersikap elegan, baik di depan atau di belakang.

19. Sementara org yg SEBENARNYA takut, hanya akan bersikap elegan ketika di depan. Begitu di belakang, atau ketika merasa aman, ia akan bersikap lain. Munafiq!

20. Begitu jg jk cermat, gampang saja bedakan antara orang yg BENAR2 agung/terhormat, dg org yg SEBENARNYA menakutkan.

21. Kehormatan/keagungan seseorang, dipengaruhi olh kualitas yg dimilikinya. Sedangkan org yg menakutkan, dipengaruhi olh bahaya atau ancaman yg dilakukanya.

21. Seorang yg berkualitas, akn pancarkan aura wibawa yg secara psikologis akan pengaruhi naluri org lain menghormatinya.

22. Dan orang yg berbahaya atau jahat, akan pancarkan aura angker yg secara psikologis akn pengaruhi naluri org lain menakutinya.

23. Ta'zhim/hormat jelas berbeda dg takut. Sikap ta'zhim/hormat dipengaruhi olh obyek yg agung/terhormat.

24. Sementara sikap takut, dipengaruhi olh obyek yg buruk atau berbahaya.

25. Dg demikian, istilah kuwalat yg dipahami sbg "balasan gaib" itu, hy relevan jk dihubungkan dg org yg BENAR2 agung/terhormat. Bukan dihubungkan dg orang yg SEBENARNYA menakutkan.

26. Dg kata lain, hanya orang yg BENAR2 agung di sisi Tuhan yg malati, bukan orang yg SEBENARNYA hy menakutkan di mata manusia.

27. Dan org yg BENAR2 agung/terhormat di sisi Tuhan, adalah spt dlm firmanNYA: inna akraamakum indaLlahi atqaakum.

28. Dan yg perlu ditegaskan, karna kuwalat dipahami sbg "balasan gaib", maka ia sebenarnya mirip seperti karma.

29. Karma dipercaya sbg "balasan alamiah" yg diberlakukan Tuhan akibat dosa dr kezhaliman tertentu. Begitu jg dg kuwalat.

30. Zhalim adalah segala sesuatu yg tidak proporsional. Spt lecehkan orang yg BENAR2 agung/terhormat. Atau sebaliknya, ta'zhimi orang yg SEBENARNYA tdk agung.

31. Karna itu, tak perlu takut kuwalat thd orang yg SEBENARNYA hanya menakutkan dan tidak BENAR2 agung/terhormat.

32. Dan penangkal kuwalat paling ampuh adalah: PASTIKAN IA BUKAN OBYEK MALATI, atau PASTIKAN KITA TIDAK ZHALIM PD OBYEK YG BENAR2 AGUNG DI SISI TUHAN.

33. Termasuk jika kita lakukan oto-kritik thd guru, kyai, atau ulama2 agung, maka pastikan itu bukan sikap zhalim, insya Allah tdk kuwalat.

34. Percayalah, orang yg BENAR2 agung/terhormat, akan sangat terbuka bahkan apresiatif terhadap kritik dr siapapun, dan sekeras apapun.

34. Orang yg BENAR2 agung, tdk akn lihat kritik sbg sikap tak beradab, tp justru manifestasi dr watawaasau bil haqq watawaasau bis shabr.

35. Bahkan org yg BENAR2 agung tdk pernah terbersit keinginan lihat orang lain kuwalat akibat menzhaliminya. Syafaqahnya jauh lbh besar dr amarahnya.

24/01/2014

Kultweet di

1. Diantara pemikiran Mbah Sahal yg menurutku unik adalah, dukungan beliau thd pluralisme, demokrasi, modernisasi, kontekstualisasi, kebebasan, keadilan, dan kesetaraan.

2. Isu-isu kemanusiaan kontemporer yg selama ini diusung oleh Islam Liberal, dan "disatroni" olh sebagian santri itu, ternyata Mbah Sahal justeru mengamininya.

3. Bahkan ketika MUI haramkan Pluralisme, jauh sebelumnya Mbah Sahal tlh tunjukan pandangan dan dukunganya thd pluralisme. Padahal, saat itu beliau tercatat sbg ketua MUI. Unik!

4. Sy katakan unik krn, kapasitas Mbah Sahal sebagai "SESEPUH FIQIH PESANTREN", ternyata miliki pandangan yg tdk klise, tdk kuno, bahkan mengglobal.

5. Pemikiran Mbah Sahal yg mengglobal inilah yg mustinya diwarisi generasi pesantren, agar paradigma fiqih santri tdk terjebak dlm romantisme masa lalu.

6. Selamat jalan, sang Faqih Nusantara yg dinamis. Semoga kami bisa warisi progresivitas pemikiran panjenengan. Amien.

21/01/2014

Kaki untuk berpijak di atas kenyataan, tangan untuk menggapai impian. Gapai impian besar dengan kedua tangan, agar kedua kaki berpijak di maqam yang terus meninggi. Impian harus melangit, dan aksi harus membumi. Itulah parameter sukses!

29/12/2013

Shaleh saja, alim saja, atau kaya saja, itu biasa. Udah gak zaman. Santri shaleh, alim, dan kaya, itu baru keren. Zaman biasa2 udah selesai. :-)

Address

Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Ngawi, Madiun, Kediri, Malang, Jombang, Pasuruan, Sidogiri, Surabaya
Madura

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JASSPRO (Jaringan Santri dan Mahasiswa Progresif) posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to JASSPRO (Jaringan Santri dan Mahasiswa Progresif):

Share