11/10/2019
[HIMABIO_INFO]
Pekanbaru, 11 Oktober 2019
Assalamualaikum Wr. Wb
Hidup Mahasiswa !
Hidup Biologi !
Salam Lestari !
Hari Anak Perempuan Sedunia mungkin tak terlalu terdengar gaungnya. Padahal setiap tahun, tepatnya tanggal 11 Oktober, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) gencar mengampanyekan hak-hak anak perempuan di seluruh dunia. Selain itu, organisasi internasional ini juga menyoroti realitas kehidupan anak perempuan dengan tantangan yang harus mereka hadapi.
Hal utama yang menjadi perhatian bersama adalah pendidikan, kesehatan, pernikahan anak, kesetaraan gender, dan kekerasan seksual. Setidaknya satu dari beberapa tantangan tersebut pernah dialami oleh anak perempuan di dunia. Dilansir dari Marie Claire dan The Daily Star, satu dari tiga perempuan di negara berkembang telah menikah sebelum usia mereka genap 18 tahun. Itu berarti kesempatan mereka untuk mengemban pendidikan dan karier terancam hilang. Bahkan, mereka justru menjadi rentan dengan kekerasan fisik dan seksual.
Tak hanya itu, di kebanyakan negara berkembang, 40 persen anak perempuan menikah dibawah usia 18 tahun. Hal itu yang mengakibatkan mereka harus mengakhiri masa pendidikan dengan cepat. Akibatnya, 511 juta perempuan di dunia tidak bisa membaca, dan 1,65 miliar perempuan hidup hanya dengan US$2 (Rp26 ribu) per hari.
Selain itu, meski saat ini hampir 15 persen populasi manusia di dunia adalah perempuan, namun banyak perempuan yang merasakan adanya diskriminasi, terutama 1,1 miliar anak perempuan di dunia. Diskriminasi tersebut bahkan terkadang justru datang dari orang tua mereka sendiri. Langkah untuk Perjuangkan Hak Anak Perempuan yang dapat dilakukan adalah dengan menyebarkan pijar pendidikan, menyebarkan kalimat motivasi dan menjadi inspirasi.
Bupati - Yozi Mandra
Wakil Bupati - M. Hadis
----------------------
Line@ :
Instagram :
Twitter :
Facebook : HIMABIO FMIPA UNRI
Youtube : HIMABIO FMIPA UNRI
Email : [email protected]
Website : himabio.fmipa.unri.ac.id