Umat Buddha

Umat Buddha Persahabatan umat buddhist dari seluruh Vihara di INDONESIA

JANGAN CARI MUSUH DI SINI

dan kami selalu memberi edisi spesail dari Op Media

Nammo Buddhaya _/|\_ kawan

kami Para pengurus Dari Fans Pages umat Buddha bersama Op Media Menghimbau temen-temen disini u/ tidak melakukan tindakkan atau kata-kata yang mengandung SARA,PORNOGRAPHI, ATAU TIDAK SESUAI ATTITUDE Bangsa Indonesia Dan juga umat Beragama

apabila ada melanggar pasti kami laporkan ke Pihak Yang Berwajib

Terima Kasih

21/09/2017

Sekedar untuk menambah wawasan tentang meditasi vipasanna.

*ENAM BELAS MACAM ÑANA*

Ñana berarti pengetahuan. Apabila orang tekun melaksanakan Vipassana Bhavana, maka akan berkembanglah ñana di dalam dirinya. Ñana itu ada enam belas macam, yaitu :

1.Nama-Rupa Pariccheda Ñana, ialah pengetahuan mengenai perbedaan nama (batin) dan rupa (materi).

2.Paccaya Pariggaha Ñana, ialah pengetahuan mengenai hubungan sebab dan akibat dari nama dan rupa.

3.Sammasana Ñana, ialah pengetahuan yang menunjukkan nama dan rupa sebagai Tilakkhana (Tiga Corak Umum), yaitu anicca (ketidak-kekalan), dukkha (derita), anatta (tanpa aku).

4.Udayabbaya Ñana, ialah pengetahuan mengenai timbul dan lenyapnya nama dan rupa.

5.Bhanga Ñana, ialah pengetahuan mengenai peleburan/pelenyapan nama dan rupa.

6.Bhaya Ñana, ialah pengetahuan mengenai ketakutan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa.

7.Adinava Ñana, ialah pengetahuan mengenai kesedihan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa.

8.Nibbida Ñana, ialah pengetahuan mengenai keengganan yang berkenaan dengan sifat nama dan rupa.

9.Muncitukamyata Ñana, ialah pengetahuan mengenai keinginan untuk mencapai kebebasan.

10.Patisankha Ñana, ialah pengetahuan mengenai penglihatan akan jalan yang menuju kebebasan, yang menimbulkan keputusan untuk berlatih terus dengan bersemangat.

11.Sankharupekkha Ñana, ialah pengetahuan mengenai keseimbangan tentang semua bentuk-bentuk kehidupan.

12.Anuloma Ñana, ialah pengetahuan mengenai penyesuaian diri dengan Ariya-Sacca (Empat Kesunyataan Mulia), sebagai persiapan untuk memasuki magga (Jalan), mencapai phala (hasil) dari magga itu, dan mendekati Nirvana, dengan melalui anicca, dukkha, dan anatta.

13.Gotrabhu Ñana, ialah pengetahuan mengenai pemotongan atau pemutusan keadaan duniawi, dan Nirvana sebagai obyek dari pikiran.

14.Magga Ñana, ialah pengetahuan mengenai penembusan terhadap magga, dimana kilesa atau kekotoran batin telah dilenyapkan.

15.Phala Ñana, ialah pengetahuan mengenai pembabaran phal

17/09/2017

Persembahan tertinggi? Apa itu?

Aṅguttara Nikāya

Buku Kelompok Dua

xiii. Pemberian

2.141

“Para bhikkhu, ada dua jenis pemberian ini. Apakah dua ini? Pemberian benda-benda materi dan pemberian Dhamma. Ini adalah kedua jenis pemberian itu. Di antara kedua jenis pemberian ini, pemberian Dhamma adalah yang terunggul.”

2.142

“Para bhikkhu, ada dua jenis persembahan ini. Apakah dua ini? Persembahan benda-benda materi dan persembahan Dhamma. Ini adalah kedua jenis persembahan itu. Di antara kedua jenis persembahan ini, persembahan Dhamma adalah yang terunggul.”

2.143

“Para bhikkhu, ada dua jenis kedermawanan ini. Apakah dua ini? Kedermawanan benda-benda materi dan kedermawanan Dhamma. Ini adalah kedua jenis kedermawanan itu. Di antara kedua jenis kedermawanan ini, kedermawanan Dhamma adalah yang terunggul.”

2.144

“Para bhikkhu, ada dua jenis pelepasan ini. Apakah dua ini? Pelepasan benda-benda materi dan pelepasan dengan memberikanDhamma. Ini adalah kedua jenis pelepasan itu. Di antara kedua jenis pelepasan ini, pelepasandengan memberikan Dhamma adalah yang terunggul.”

2.145

“Para bhikkhu, ada dua jenis kekayaan ini. Apakah dua ini? Kekayaan benda-benda materi dan kekayaan Dhamma. Ini adalah kedua jenis kekayaan itu. Di antara kedua jenis kekayaan ini, kekayaan Dhamma adalah yang terunggul.”

2.146

“Para bhikkhu, ada dua jenis kenikmatan ini. Apakah dua ini? Kenikmatan benda-benda materi dan kenikmatan Dhamma. Ini adalah kedua jenis kenikmatan itu. Di antara kedua jenis kenikmatan ini, kenikmatan Dhamma adalah yang terunggul.”

2.147

“Para bhikkhu, ada dua jenis keberbagian ini. Apakah dua ini? Berbagi benda-benda materi dan berbagi Dhamma. Ini adalah kedua jenis keberbagian itu. Di antara kedua jenis keberbagian ini, berbagi Dhamma adalah yang terunggul.”

2.148

“Para bhikkhu, ada dua cara ini untuk memelihara hubungan yang menyenangkan. Apakah dua ini? Memelihara hubungan yang menyenangkan melalui benda-benda materi dan memelihara hubungan yang menyenangk

12/09/2017

"Jangan merubah lagi tekad yang sudah dipupuk jauh-jauh hari. Jalan terus, lanjutkan latihan 8 sila (Attasila), HANYA SEBULAN empat kali saja, cuma 1 hari 1 malam. Ayok ... Siapkan diri kita!".

13 September 2017 adalah uposatha Lunar-23?

Uposatha is coming. Mari simak dua cuplikan sutta mengenainya :

Dalam Anggutara Nikaya 8.42 Sabda Buddha tentang Vitthathuposathasutta :
……………………“Adalah dengan cara ini, para bhikkhu, maka uposatha dijalankan lengkap dalam delapan faktor, sehingga berbuah dan bermanfaat besar, luar biasa cemerlang dan menyebar.

“Sejauh mana hal ini berbuah dan bermanfaat besar?
Sejauh mana hal ini luar biasa cemerlang dan menyebar?

Misalkan seseorang menguasai dan memerintah enam belas negeri besar ini yang berlimpah dalam hal tujuh harta berharga, yaitu, [negeri-negeri] Aṅga, Magadha, Kāsi, Kosala, Vajji, Malla, Ceti, Vaṅga, Kuru, Pañcalā, Maccha, Sūrasena, Assaka, Avanti, Gandhāra, dan Kamboja: hal ini tidak sebanding dengan seperenam-belas-bagian dari pelaksanaan uposatha yang lengkap dalam delapan faktor itu. Karena alasan apakah? Karena kerajaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
…………………….. Seseorang seharusnya tidak membunuh makhluk-makhluk hidup atau mengambil apa yang tidak diberikan; ia seharusnya tidak berkata bohong atau meminum minuman memabukkan; ia harus menahan diri dari aktivitas seksual, dari ketidak-sucian; ia seharusnya tidak makan di malam hari atau pada waktu yang tidak tepat. Ia seharusnya tidak mengenakan kalung bunga atau mengoleskan wangi-wangian; ia harus tidur di tempat tidur [yang rendah] atau alas tidur di lantai; ini, mereka katakan, adalah uposatha berfaktor delapan yang dinyatakan oleh Tataghata, Yang telah mencapai akhir penderitaan. Sejauh matahari dan rembulan berputar, memancarkan cahaya, begitu indah dipandang, penghalau kegelapan, bergerak di sepanjang cakrawala, bersinar di angkasa, menerangi segala penjuru. Kekayaan apa pun yang ada di sini— mutiara, permata, dan beryl yang

Buta 500 kehidupan? Apa penyebabnya?Kisah Cakkhupala TheraSuatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana unt...
12/09/2017

Buta 500 kehidupan? Apa penyebabnya?

Kisah Cakkhupala Thera

Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki, Sang Thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga sehingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali serombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan Sang Thera bermaksud mengunjunginya. Di tengah jalan, di dekat tempat Sang Thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati.

“Iiih…, mengapa banyak serangga yang mati di sini?” seru seorang bhikkhu. “Aah, jangan jangan…”, celetuk yang lain. “Jangan-jangan apa?” sergah beberapa bhikkhu. “Jangan-jangan ini perbuatan Sang Thera!” jawabnya. “Kok bisa begitu?” tanya yang lain lagi. “Begini, sebelum Sang Thera berdiam disini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin Sang Thera terganggu oleh serangga-serangga itu. Karena jengkelnya ia membunuhinya.”

“Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu kita laporkan kepada Sang Buddha!” seru beberapa bhikkhu. “Benar, mari kita laporkan kepada Sang Buddha, bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya”, timpal sebagian besar dari bhikkhu tersebut.

Alih-alih dari mengunjungi sang thera, para bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong menghadap Sang Buddha untuk melaporkan temuan mereka, bahwa “Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya!”

Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, “Para bhante, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu?”

“Tidak bhante”, jawab mereka serempak.

Sang Buddha kemudian menjawab, “Kalian tidak melihatnya, demikian p**a Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta. Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk membunuh.”

“Bagaimana seorang yang telah mencapai arahat tetapi matanya buta?” tanya beberapa bhikkhu.

Maka Sang Buddha menceritakan kisah di bawah ini:

Pada kehidupan lampau, Cakkhupala pernah terlahir sebagai seorang tabib y

11/09/2017

*NASEHAT DHAMMA*
Oleh _Luang Po Inthawai Santussako_

Jika menjadi orang yang memiliki Dhamma di dalam batin, akan selalu memandang ke dalam diri sendiri; memandang orang lain sebagai 'pelajaran', memandang diri sendiri sebagai 'solusi'.

Jasmani, ucapan dan pikiran kita, ada kekurangan dimana, atasilah - perbaikilah, bagaimana mengatasinya.

Kita sebagai orang yang belajar, ketika dapat mendengarkan Dhamma - ajaran Sang Buddha, kita mendengarkan Dhamma dari guru-guru, mereka menasehati, mengajar kita; setelah itu kita menggunakan ajaran untuk memperbaiki - mengatasi jasmani, ucapan, batin kita agar menjadi suci - murni - sempurna, agar selalu berada dalam kendali sila - Dhamma.

🙏

Kami Membantu sesama
07/09/2017

Kami Membantu sesama

BESOK CANDI BOROBUDR SUDAH DI SIAGAKAN POLISI
06/09/2017

BESOK CANDI BOROBUDR SUDAH DI SIAGAKAN POLISI

Polda se-Jawa melakukan rapat koordinasi terkait rencana aksi bela Rohingya yang akan digelar di kawasan Candi Borobudur. Sejak Kamis hingga Sabtu (7-9/9) nanti, Jawa Tengah dinyatakan sebagai kawasan siaga 1. Sebanyak 2.200 pasukan Polri dan 300 pasukan TNI akan melakukan penjagaan berlapis untuk m...

RI Siap Membantu Banglades
06/09/2017

RI Siap Membantu Banglades

Di tengah arus deras kecaman dunia terhadap krisis Rakhine, Indonesia aktif hadir dan melibatkan diri dalam diplomasi kemanusiaan. Pemerintah RI juga akan melobi para kepala negara, melalui Organisasi Kerja Sama Islam dan PBB, untuk membantu penyelesaian krisis. KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO Men...

04/09/2017

Ini yang membuat berita ROHINGYA Memanas
TERNYATA ada.....

04/09/2017

*Kisah Tissa Thera*

Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatti. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.

Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah. Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.

Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, “Mereka sedang merusak jubahku!” Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan para bhikkhu, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.

Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu, mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera.
Kepada mereka, Sang Buddha berkata, “Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal dunia, dan karenanya ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut. Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa, si kutu akan merasa sangat membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya). Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu, Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.

“Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu p**a kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 240 berikut :
_Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri,_
_begitu p**a perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan._

_Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (240)_

Address

Jakarta
15229

Opening Hours

Monday 06:00 - 01:00
Tuesday 06:00 - 01:00
Wednesday 06:00 - 01:00
Thursday 06:00 - 01:00
Friday 06:00 - 01:00
Saturday 06:00 - 01:00
Sunday 06:00 - 01:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Umat Buddha posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share