Zello Dunia Syariah

Zello Dunia Syariah Adalah sebuah komunitas dari aplikasi Zello yang menamakan dirinya dengan Channel "Dunia Syariah" Tempat untuk Share Ilmu dalam Halaqah Islami.

Komunitas Zello Radio Live Streaming DUNIA SYARIAH

Program Channel DS yang ditawarkan meliputi:
1. Program Khusus, yakni diskusi dengan materi yang dibawakan oleh narasumber (Selasa & Jumat malam) pkl 20:00 WIB (GMT+7)
2. Program khusus Muslimah, yakni diskusi yang dikhususkan untuk membahas problematika wanita muslimah dan hanya untuk user muslimah. (Rabu malam) pkl. 20:00 WIB (GMT+7)
3. Pengaji

an Kitab Minhajul Abidin dilengkapi dengan makna jawa (Rabu siang) pkl. 11:00 WIB (GMT+7)
4. Pembacaan surah Yasin (Kamis malam selepas maghrib) pkl. 18:00 (GMT+7)
5. Pengajian Tafsir al-Jalalin (Jum'at selepas Jum'atan) pkl. 13:00 WIB (GMT+7)
6. Bahtsul Masa'il, membahas pertanyaan yang sudah diagendakan dilengkapi dengan ibarat/ referensi dari kutubussalaf (Kamis malam, 2 bulan sekali) pkl. 20:00 WIB (GMT+7)
7. Diskusi Umum/Bebas (setiap hari/ kapanpun kecuali agenda yang disebut di atas)

Selengkapnya... https://www.facebook.com/groups/Dunia.syariah

Support http://www.zello.com

https://youtu.be/AgEZbFXiRQg
29/10/2021

https://youtu.be/AgEZbFXiRQg

Assalamualaikum Wr Wb...Om Swastiastu... Salam Sejahtera Untuk Kita Semua...Salam Semangat Sahabat... untuk Keluarga anak dan istri tercinta 🙏🙏🙏Ok Sahabat...

https://youtu.be/f1Ev0-0Xa04
26/10/2021

https://youtu.be/f1Ev0-0Xa04

Assalamualaikum Wr Wb... Om Swastiastu Salam Sejahtera Untuk kita Semua... Selamat Siang Sahabat Sahabat...Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan s...

27/08/2020

Sebuah tulisan dari Gus Nadirsyah Hosen...ketua PCI-NU Australia.

DAN MASIHKAH KALIAN MABOK DENGAN FAHAM KHILAFAH...??!!!
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Lelaki itu berusia sekitar 58 tahun.
Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 H, selepas menunaikan shalat subuh, dia bergegas keluar tenda dan menaiki kuda kesayangannya. Pria itu menatap pasukan yang tengah mengepungnya. Mulailah dia berpidato yang begitu indah dan menyentuh hati...
ﻗﺎﻝ :
ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ، ﻓﺎﻧﺴﺒﻮﻧﻲ ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ ﻣﻦ ﺃﻧﺎ، ﺛﻢ ﺍﺭﺟﻌﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﻋﺎﺗﺒﻮﻫﺎ، ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ، ﻫﻞ ﻳﺤﻞ ﻟﻜﻢ ﻗﺘﻠﻲ ﻭﺍﻧﺘﻬﺎﻙ ﺣﺮﻣﺘﻲ؟ ﺃﻟﺴﺖ ﺍﺑﻦ ﺑﻨﺖ ﻧﺒﻴﻜﻢ ﺹ ﻭﺍﺑﻦ ﻭﺻﻴﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﻤﻪ، ﻭﺃﻭﻝ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻤﺼﺪﻕ ﻟﺮﺳﻮﻟﻪ ﺑﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻪ ! ﺍﻭ ﻟﻴﺲ ﺣﻤﺰﺓ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻋﻢ ﺃﺑﻲ ! ﺃﻭﻟﻴﺲ ﺟﻌﻔﺮ ﺍﻟﺸﻬﻴﺪ ﺍﻟﻄﻴﺎﺭ
ﺫﻭ ﺍﻟﺠﻨﺎﺣﻴﻦ ﻋﻤﻰ ! ‏[ ﺍﻭ ﻟﻢ ﻳﺒﻠﻐﻜﻢ ﻗﻮﻝ ﻣﺴﺘﻔﻴﺾ ﻓﻴﻜﻢ : ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺹ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﻭﻷﺧﻲ : ﻫﺬﺍﻥ ﺳﻴﺪﺍ ﺷﺒﺎﺏ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ [! ﻓﺈﻥ ﺻﺪﻗﺘﻤﻮﻧﻲ ﺑﻤﺎ ﺃﻗﻮﻝ - ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺤﻖ - ﻓﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺗﻌﻤﺪﺕ ﻛﺬﺑﺎ ﻣﺬ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻤﻘﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﻳﻀﺮ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺍﺧﺘﻠﻘﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺬﺑﺘﻤﻮﻧﻲ ﻓﺈﻥ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﻦ ﺇﻥ ﺳﺄﻟﺘﻤﻮﻩ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﺃﺧﺒﺮﻛﻢ، ﺳﻠﻮﺍ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ، ﺃﻭ ﺃﺑﺎ ﺳﻌﻴﺪ ﺍﻟﺨﺪﺭﻱ، ﺃﻭ ﺳﻬﻞ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﺍﻟﺴﺎﻋﺪﻱ، ﺃﻭ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺃﺭﻗﻢ، ﺃﻭ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﻳﺨﺒﺮﻭﻛﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﺳﻤﻌﻮﺍ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺹ ﻟﻲ ﻭﻷﺧﻲ .
ﺃﻓﻤﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺣﺎﺟﺰ ﻟﻜﻢ ﻋﻦ ﺳﻔﻚ ﺩﻣﻲ !

" Lihat nasabku. Pandangilah siapa aku ini. Lantas lihatlah siapa diri kalian. Perhatikan apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan menciderai kehormatanku !"
" Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu ? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan Nabimu, yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu ?"
" Bukankah Hamzah, pemuka para syuhada, adalah Pamanku ? Bukankah Ja’far, yang akan terbang dengan dua sayap di surga, itu Pamanku ?"
" Tidakkah kalian mendengar kalimat yang viral di antara kalian bahwa Rasulullah berkata tentang saudaraku dan aku ? Keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga ?"
" Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta ? Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyakanlah pada Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam dan Anas bin Malik, yang akan memberitahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku dan aku...!"
" Tidakkah ini cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku ?"

Kata-kata yang begitu elok itu direkam oleh Tarikh at-Thabari ( 5/425 ) dan al-Bidayah wan Nihayah ( 8/193 ).

Namun mereka yang telah terkunci hatinya tidak akan tersadar. Pasukan yang mengepung atas perintah Ubaidullah bin Ziyad memaksa pria yang bernama Husein bin Ali itu untuk mengakui kekuasaan khalifah Yazid bin Mu’awiyah.
Tidakkah ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa pertarungan di masa khilafah dulu itu sampai mengorbankan nyawa seorang Cucu Nabi SAW...??!!!
Apa masih mau bilang khilafah itu satu-satunya solusi umat...??!!!

Simak p**a bagaimana Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah bercerita bagaimana Sayyidina Husein terbunuh di Karbala pada 10 Muharram ( Assyura ) 61 H.
Pasukan memukul kepala Sayyidina Husein dengan pedang hingga berdarah. Beliau membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya. Dan dengan cepat balutan kain terlihat penuh dengan darah beliau. Seorang pasukan kemudian melepaskan panah dan mengenai leher Sayyidina Husein. Namun beliau masih hidup. Sambil memegangi lehernya beliau berjalan terhuyung ke arah sungai karena kehausan. Shamir bin Dzil Jawsan memerintahkan pasukannya menyerbu Sayyidina Husein. Serta merta mereka menyerang dari segala penjuru. Mereka tak memberinya kesempatan Sayyidina Husein untuk minum.
Ibn Katsir menulis...
" Yang membunuh Sayyidina Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, dan kemudian dia menggorok leher beliau serta menyerahkan kepala Sayyidina Husein kepada Khawali bin Yazid. "
( al-Bidayah, 8/204 ).
Anas melaporkan bahwa setelah kepala Sayyidina Husein dipenggal, lalu dibawa ke Ubaidullah bin Ziyad, yang kemudian memainkan ujung tongkatnya menyentuh mulut dan hidung Sayyidina Husein.
Anas berkata..." Demi Allah !!! Sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini !"
Ibn Katsir mencatat 72 orang pengikut Sayyidina Husein terbunuh pada hari itu.
Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa mencatat banyaknya pasukan yang mengepung Sayyidina Husein dan pengikutnya sebanyak 4 ribu pasukan, dibawah kendali Umar bin Sa’d bin Abi Waqash.
Pada hari terbunuhnya cucu Rasulullah SAW itu, Imam Suyuthi mengatakan...
Dunia seakan berhenti selama tujuh hari. Mentari merapat laksana kain yang menguning. Terjadi gerhana matahari di hari itu. Langit terlihat memerah selama 6 bulan.
Imam Suyuthi juga mengutip dari Imam Tirmidzi yang meriwayatkan kisah dari Salma yang menemui Ummu Salamah, istri Rasulullah Muhammad SAW yang saat itu masih hidup ( Ummu Salamah wafat pada tahun 64 H, sementara Sayyidina Husein terbunuh tahun 61 H ).
Salma bertanya ketika menemui Ummu Salamah sedang menangis...
" Mengapa engkau menangis ?"
Ummu Salamah menjawab...
" Semalam saya bermimpi melihat Rasulullah, dimana kepala dan jenggot beliau terlihat berdebu.
Saya bertanya " mengapa engkau wahai Rasul ?"
Rasulullah menjawab..." saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein !""

Begitulah dahsyatnya pertarungan kekuasaan di masa kekhalifahan dulu. Mereka tidak segan membunuh Cucu Nabi demi kursi khalifah.
Apa mereka sangka Rasulullah SAW tidak akan tahu peristiwa ini ?
Lantas apakah mereka yang telah membunuh Sayyidina Husein RA masih berharap mendapat syafaat dari datuknya Rasulullah SAW di padang mahsyar kelak ??!!!

Dari kisah yang memilukan ini sungguh ada pelajaran untuk kita renungkan sebagai makhluk yg berakal...!!!





Segenap Pengurus dan Anggota Dunia Syariah turut berbelasungkawa atas wafatnya Ust. Yusuf Al Ghazali (Pengurus Dunia Sya...
02/07/2020

Segenap Pengurus dan Anggota Dunia Syariah turut berbelasungkawa atas wafatnya Ust. Yusuf Al Ghazali (Pengurus Dunia Syariah Cabang Denpasar, Bali)

21/06/2020

PEMIKIRAN VISIONER KYAI AS'AD
===========================

Ketika politik indoktrinasi pemerintah Orde Baru ingin mengideologisasikan NKRI dan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam bernegara, hampir seluruh Ormas keagamaan yang ada menolaknya. Tidak hanya Ormas Islam saja, beberapa Ormas agama lain pun enggan menerimanya. Namun melalui ijtihad politiknya, NU tampil sebagai Ormas pertama dan satu-satunya yang menyatakan menerima asas tunggal Pancasila. Bahkan proses dialektik perdebatannya dapat dikatakan cukup mudah dan cepat. Keputusan tersebut disampaikan dalam Munas Alim Ulama tahun 1983 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, yang kemudian dikukuhkan dalam Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di lokasi yang sama.

Keputusan strategis tersebut tidak terlepas dari peran penting sejumlah tokoh besar NU seperti KH. Mahrus Ali, KH. Ali Maksum, KH. Achmad Shiddiq dan lain sebagainya, yang berada di bawah satu komando sentral KHR. As'ad Syamsul Arifin. Sebagai lakon yang paling bertanggungjawab, tentu kesuksesan Munas dan Muktamar kala itu menjadikan beliau sebagai sorotan publik, ada yang memuji dan menyanjung keberanian beliau, namun tidak sedikit yang mencibir, dan memperolok beliau atas langkah politik yang ditempuh. Teror dan ancaman kerap kali diterima, baik secara terang-terangan, melalui saluran telepon maupun via surat kaleng yang menumpuk. Banyak ulama kala itu yang beranggapan bahwa dengan menerima Pancasila sebagai asas tunggal merupakan bentuk kelemahan umat Islam, diperbudak oleh rezim, Islam setengah hati dan lain-lain. Bahkan pertentangan tersebut terjadi di kalangan internal ulama NU sendiri, terutama ulama di p**au Jawa dan Madura. Meskipun tidak satu pun yang diladeni oleh Kiai As'ad.

Kini, 38 tahun berselang, ketika muncul draft Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU-HIP), banyak ulama yang menentang pembahasan RUU tersebut. Mereka tidak setuju jika Pancasila direduksi, dipolitisasi, dan dijadikan alat legitimasi. Satu demi satu jika diperhatikan, ulama dan kiai yang menyatakan sikap menentang itu adalah mereka yang dahulu pernah mencibir, mengolok, bahkan memfitnah Kiai As'ad lantaran menerima Pancasila sebagai asas tunggal.

Subhanallah... betapa keputusan Munas 1983 adalah keputusan sangat visioner, yang mampu menjelajah puluhan tahun masa yang akan datang. Butuh 38 tahun untuk memahami pemikiran Kiai As'ad beserta komite khittah kala itu. Disaat beliau-beliau semua telah tiada mereka baru memahami maksud di balik semuanya. Seolah melakukan paduan suara "Oooooo..."

Tidak berlebihan kiranya apa yang disampaikan oleh KH. Achmad Shiddiq dalam penutupan Muktamar NU 1984:
"Andaikan Kiai As'ad tidak memiliki amal shaleh lain selain sukses Munas (1983) dan Muktamar (1984), itu sudah cukup sebagai bekal beliau hidup di akhirat".

Karena sukses Munas dan Muktamar tidak hanya mampu menyelamatkan NU, tapi juga menyelamatkan NKRI dari perpecahan.

Oleh : Ainun Najib

01/06/2020

Pada hari terakhir sidang BPUPKI, 1 Juni 1945. tepat hari ini 75 tahun yang lalu, Soekarno memperkenalkan 5 sila yang kemudian disempurnakan dan hingga hari ini kita mengenal dengan nama Pancasila.

Selamat Memperingati Hari Lahir PANCASILA. 1 Juni 2020

Address

Jakarta Selatan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Zello Dunia Syariah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share