13/04/2018
MEMILIH PEMIMPIN SESUAI JENJANG KEYAKINAN
"Sembahlah Tuhan-Mu, sampai datang kepadamu keyakinan" (QS Al Hijr 15 : 99)
Keyakinan itu dibagi menjadi empat jenjang, yaitu :
1. Yakin karena diwajibkan = Wajibul Yaqin.
2. Yakin karena belajar = Ilmul Yaqin.
3. Yakin karena rasa = 'Ainul yaqin.
4. Yakin karena bukti = Isbatul Yaqin.
Kalau semua jenjang itu sudah dilalui, maka keyakinan kita barulah disebut dengan Haqul Yaqin, yaitu Keyakinan Yang Benar.
Sebelum membahas hubungan antara jenjang keyakinan dengan memilih kepemimpinan, ada baiknya difahami dulu hakekat munafiq, zhalim, kafir dan fasiq.
Nifaq artinya Noda Hitam. Munafiq adalah Tempat berkumpulnya Noda Hitam. Secara hakekat, Munafiq adalah Qalbu yang penuh dengan Noda Hitam, sehingga ketika Qalbu tersebut di hadapkan ke Arah Nur Ilahi, maka Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya, kerena terhalang oleh Noda-Noda Hitam, sehingga menjadi gelaplah Qalbu tersebut. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kemunafiqan.
Zhulmah artinya Kegelapan, seakar kata dengan kata Zhalim. Secara hakekat, Zhalim mengandung arti Qalbu yang Gelap, sehingga Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya, Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kezhaliman.
Kafir artinya Tertutup. Secara hakekat, kata kafir mengandung arti Qalbu yang tertutup. Sehingga ketika Qalbu itu dihadapkan kepada Nur Ilahi, maka Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kekafiran.
Fasiq artinya tidak jujur. Secara hakekat, fasiq mengandung arti ketidak jujuran diri terhadap Qalbu sendiri. Qalbunya tidak bersyahadat (menyaksikan keberadaan) Allah dan Rasul-Nya, tetapi mulutnya berkata aku bersaksi. Sehingga kita menjadi orang yang bersyahadat palsu. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kefasiqan.
Berdasarkan empat tingkatan keyakinan tersebut, maka dalam hal memilih pemimpin juga akan sesuai dengan keyakinan dan duduk ilmunya, yaitu :
1. Wajibul Yakin, kedudukannya ada pada ilmu syariat, yang berpedoman pada apa yang tertulis di dalam Al Qur'an dan Hadits Shahih dan apa kata Guru.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika memilih pemimpin harus seagama, sesuai surat Al Maidah ayat 51 dan riwayat lainnya.
Pada maqom ini tidak ada tawar menawar, pokoknya wajib memilih pemimpin Muslim dan dilarang memilih pemimpin kafir, titik.
2. Ilmul Yakin, kedudukannya ada pada ilmu tarekat, yang berpedoman pada hati atau sanubari.
Pada maqom ini memilih pemimpin adalah sesuai dengan apa kata hati nurani hasil dari kajian yang lebih mendalam.
Jika ada larangan memilih pemimpin kafir berdasarkan Al Qur'an dan Hadits Shahih maka di kaji terlebih dahulu apa yang di maksud dengan kata kafir, karena umat islam juga ada yang di sebut kafir.
Sehingga pada maqom ini, memilih pemimpin kafir sudah berdasarkan kajian dan program kerja yang membuat hati nyaman, bukan karena ikut ikutan walaupun ada fatwa MUI.
3. 'Ainul Yakin kedudukannya ada pada Ilmu Hakekat yang berpedoman pada jiwa yang suci.
Pada maqom ini memilih pemimpin tidak lagi berdasarkan apa yang tertulis di dalam Al Qur'an dan Hadits Shahih serta hasil kajiannya, namun berdasarkan Ilham langsung dari Allah SWT kepada jiwa yang suci.
Pada maqom ini tidak dikenal lagi istilah baik-buruk, benar-salah, muslim non muslim, karena sudah menjadi ketentuan dan kehendak Allah SWT.
4. Isbatul Yakin (yakin berdasarkan pembuktian) kedudukannya ada pada Ilmu Ma'rifatullah yang berpedoman pada "Aku"
Pada Maqom ini yang memilih pemimpin adalah "Aku" dan pilihannya adalah yang terbaik, walaupun bertentangan dengan ilmu syariat Islam, karena Aku itu Maha Tahu.
Pada maqom ini tidak dikenal lagi adanya agama sehingga tidak ada lagi istilah kafir, karena "Aku" itu tidak beragama tapi pasti "mu'min".
Silahkan pandang diri sendiri, ada di maqom mana, lalu tentukan pilihan kita tanpa harus ribut-ribut saling menyalahkan atau merasa paling benar.
Jadi, jika kita sudah belajar ilmu Marifatullah tapi masih sibuk dan ribut serta tetap berpedoman tidak boleh memilih pemimpin kafir berdasarkan surat Al maidah 51 maka kita salah kamar.
Percayalah, tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur`an :
“... Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)….” (QS Ar Ra’d : 2)
“… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (p**a)....” (QS Al An’aam : 59)
Dialah Allah Yang menciptakan dan mengatur semua peristiwa, bagaimana mereka berawal dan berakhir. Dia p**alah yang menentukan setiap gerakan bintang-bintang di jagat raya, kondisi setiap yang hidup di bumi, cara hidup seseorang, apa yang akan dikatakannya, apa yang akan dihadapinya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an :
“Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al Qamar : 49)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (p**a) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)
Sebenarnya wajar kalau dalam memilih pemimpin itu terjadi perbedaan pendapat. Setuju atau tidak setuju dengan suatu pendapat, itu urusan masing-masing, karena tidak ada pemaksaan dalam keyakinan, boleh tidak sependapat, karena memang pendapat kita beda-beda......😛
Yang sebentar lagi ikut Pilkada, selamat mencoblos sesuai dengan pendapat anda masing masing.....😁😁😁
By: Bpk. Kuswanto abu Irsyad.