Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh

Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh Lembaga Ilmu Al-Qur'an Indonesia, Badan Otonom Nahdlatul Ulama Organisasi ini didirikan oleh KH. A. Asmuni, Sawah Besar, Jakarta.

Jamiyyatul Qurra Wal-Huffazh (Perkumpulan Qari-Qariah dan Hafizh-Hafizhah) didirikan 15 Januari 1951 adalah sebuah organisasi Islam bagi para pembaca dan penghafal Al-Qur'an. Wahid Hasyim, seorang hafizh dan qori tepatnya di hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertepatan di rumah H. Saat ini, pemimpin pusat organisasi ini berkedudukan di Jalan Kramat Raya Jekarta yang dahulunya berpusat di Surabaya.

Innalillahi wa inna ilaihi raiji’unTelah berp**ang ke Rahmatullah, Mustasyar PBNU KH. Maimoen Zubair, hari ini, Selasa, ...
06/08/2019

Innalillahi wa inna ilaihi raiji’un
Telah berp**ang ke Rahmatullah, Mustasyar PBNU KH. Maimoen Zubair, hari ini, Selasa, 6 Agustus 2019, pkl 04.17 di Kota Suci Makkah al Mukarromah.
Semoga husnulkhotimah. Al Fatihah.

SIAPAKAH PENGIKUT ULAMA SALAF  SEBENARNYA...1) Imam Hanafi,  lahir : 80 hijriah2) Imam Maliki,  lahir : 93 hijriah3) Ima...
25/06/2019

SIAPAKAH PENGIKUT ULAMA SALAF SEBENARNYA...

1) Imam Hanafi, lahir : 80 hijriah
2) Imam Maliki, lahir : 93 hijriah
3) Imam Syafi'ie, lahir : 150 hijriah
4) Imam Hanbali, lahir : 164 hijriah
5) Imam Asy’ari, lahir : 240 hijriah

Mereka ini semua ulama Salafus Sholeh atau dikenali dgn nama ulama SALAF…
Apa itu salaf...
Salaf ialah nama “Zaman” yaitu merujuk kepada golongan ulama yang hidup antara kurun zaman kerosulan Nabi Muhammad SAW hingga 300 Hijriah. Tiga kurun pertama itu bisa diartikan 3 Abad pertama (0-300 H).

1). Golongan Generasi pertama dari 300 tahun hijrah tu disebut “Sahabat Nabi” karena mereka pernah bertemu Nabi SAW.
2). Golongan generasi kedua disebut Tabi’in, yaitu golongan yang pernah bertemu Sahabat nabi meski tidak pernah bertemu Nabi secara langsung.
3). Golongan Generasi ketiga disebut sebagai Tabi’it Tabi’in, yaitu golongan yang tak pernah bertemu nabi dan sahabat nabi, tapi bertemu dengan Tabi’in.
Jadi Imam Abu Hanifah (pencetus mazhab Hanafi) merupakan murid Sahabat Nabi maka beliau seorang TABI’IN.

Sedang Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal) serta Imam Asy’ari, berguru dengan para tabi’in maka mereka adalah golongan TABI’IT TABI’IN.

Jadi kesemua Imam-imam yang mulia ini merupakan golongan SALAF YANG SEBENARNYA dan pengikut mazhab mereka lah yang paling layak digelar sebagai Salafi atau "Salafiyah", karena “salafi” maksudnya “pengikut golongan SALAF”.

Jadi beruntung lah kita NU yang masih berpegang kepada mazhab Syafi’i yang merupakan mazhab SALAF yang SEBENARNYA dan tidak lari dari paham NABI DAN SAHABAT.

SEMENTARA ULAMA RUJUKAN WAHABI YANG MENGAKU SEBAGAI SALAFI ADALAH SBB :

1) Ibnu Taimiyyah, lahir: 661 Hijriah (lahir 361 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF).
2) Nashiruddin Al-Albani, lahir: 1333 Hijriah (Wafat tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF).
3) Muhammad Abdul Wahhab (pendiri gerakan Wahabi), lahir : 1115 Hijrah (lahir 815 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF).
4) Bin Baaz, lahir : 1330 Hijrah (wafat tahun 1420 hijrah atau 1899 Masehi, sama dengan Albani, lahir 1030 tahun setelah berakhirnya zaman SALAF).
5) Al-Utsaimin, lahir : 1928 Masehi (wafat tahun 2001), beliau lahir entah berapa ribu tahun setelah zaman SALAF.

Mereka ini semua hidup di AKHIR ZAMAN, kecuali Ibnu Taimiyyah yang hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman), saat Islam diserang oleh tentara Mongol.

Tak ada sorang pun Imam rujukan mereka yang mereka ikuti hidup di zaman SALAF.
Mereka ini (ulama rujukan wahabi) semua SANGAT JAUH DARI ZAMAN SALAF, tapi SANGAT ANEH apabila pengikut sekte Wahabi membanggakan diri sebagai “Salafi” (pengikut Golongan Salaf), dan menyebut sebagai SALAFI WAHABI.

Sedangkan rujukan mereka adalah dari kalangan yg datang dari golongan ulama’ akhir zaman.
Mereka menuding ajaran Sifat 20 Imam Asy’ari yang lahir tahun 240 H sebagai bid’ah yang sesat. Padahal ajaran Tauhid Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat yang mereka ajarkan juga bid’ah dan diajarkan pada masa Khalaf, oleh orang yg lahir tahun 1115 H. Ini jelas membodohi Aqidah ummat Islam.

Wallahu a'lam...

Nb : Instal Aplikasi Anti wahabi, klik link http://bit.ly/BerkahAlaNU Sekarang!!

03/06/2019
24/03/2019

Suatu hari Hadhrat Shaykh Abdul Qadir al Jilani al Baghdadi qs ditanya oleh seseorang:
" Manakah yang lebih intens dalam menguasai hati? Api ketakutan atau api kerinduan kepada-NYA?"

Shaykh menjawab:
"Api Ketakutan (Khauf) lebih kuat intensitasnya bagi para pencari. Tapi Api Kerinduan lebih kuat bagi yang telah berjumpa. Ini adalah dua hal yang berbeda, lalu manakah diantara kedua hal ini yang ada di hatimu wahai orang yang bertanya?"

Ketika awal nyantri, Hasyim Asy’ari muda disuruh naik ke atas pohon bambu, sementara Kiai Kholil terus mengawasi dari ba...
19/03/2019

Ketika awal nyantri, Hasyim Asy’ari muda disuruh naik ke atas pohon bambu, sementara Kiai Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik tidak boleh turun sampai ke pucuk pohon bambu tersebut.
Kiai Hasyim terus naik sesuai perintah gurunya itu. Ia tak peduli apakah pohon bambu itu akan patah atau bagaimana. Yang jelas, beliau hanya patuh pada perintah gurunya.
Hebatnya, begitu sampai di pucuk, Kiai Kholil mengisyaratkan agar Kiai Hasyim langsung meloncat ke bawah.
Tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung meloncat, sami’na wa atha’na. Beliau selamat, sehat afiat. Ternyata itu hanya ujian Kepatuhan seorang santri kepada Kiainya.
Sebagai murid, Kiai Hasyim tidak pernah ngersulo (mengeluh) disuruh apa pun oleh gurunya termasuk angon (menggembalakan) kambing dan sapi, mencari rumput dan membersihkan kandang.
Beliau terima titah gurunya itu sebagai khidmat (dedikasi) kepada Sang Guru. Beliau sadar bahwa ilmu dari guru akan diperoleh dan barakah apabila sang guru rida kepada muridnya.
Inilah yang dicari Kiai Hasyim, rida guru. Beliau tidak hanya berhadap ilmu teoretis dari Kiai Kholil tapi lebih dari itu, yang diinginkan adalah barakah-nya.
Selain itu, dikisahkan juga saat Kiai Kholil kehilangan cincin pemberian istrinya yang jatuh-maaf-di WC, Kiai Hasyim memohon izin untuk mencarinya.
Setelah diizinkan, sejurus kemudian beliau masuk ke septictank dan mengeluarkan isinya. Setelah dikuras seluruhnya, dan badan Kiai Hasyim penuh dengan kotoran, akhirnya cincin milik gurunya berhasil ditemukan.
Betapa senangnya sang guru melihat muridnya telah berhasil mencarikan cincinnya hingga terucap doa “Aku rida padamu wahai Hasyim, Kudoakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu.”

Guru Tuha, Pendiri Cabang NU Pertama di Luar JawaSyaikh Abdul Qodir Bin Syaikh Muhammad Hasan (11 Rajab 1398 H / 17 Juni...
16/03/2019

Guru Tuha, Pendiri Cabang NU Pertama di Luar Jawa

Syaikh Abdul Qodir Bin Syaikh Muhammad Hasan (11 Rajab 1398 H / 17 Juni 1978 M). Murid Syaikhona Kholil Bangkalan Dan Syaikh Hasyim Asy'ari. Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura periode keempat (Tahun 1940 s/d 1959).

Atas perintah Syaikh Kasyful Anwar, Syaikh Abdul Qodir Hasan adalah pendiri cabang NU pertama di luar Pulau Jawa yakni di Kota Martapura setelah mengikuti Muktamar Nahdlatul Ulama pertama tanggal 21 Oktober 1926 di Surabaya. Dari kota Martapura inilah menyebar ke beberapa wilayah di Pulau Kalimantan.

Sering diceritakan Sayyidi Abah Guru Sekumpul QS di pengajian, masa kepemimpinan ulama yang dikenal dengan sebutan "Guru Tuha" sebagai pimpinan pondok dan rais NU, diadakan pertemuan rutin setiap bulan di aula Pondok Pesantren Darussalam yang dihadiri oleh seluruh tuan-tuan guru yang ada di kota Martapura dan sekitarnya untuk membahas persoalan agama yang timbul di masyarakat (Bahtsul Masa'il) dan ditutup dengan tahlilan, acara ini disebut dengan istilah Lailatul ijtima. Hasil forum bahtsul masail ini kemudian disebarkan kepada masyarakat sebagai solusi terhadap berbagai persoalan keagamaan dan sosial yang terjadi di masyarakat.

Karenanya, antara NU di Kalimantan dengan Pondok Pesantren Darussalam tidak bisa dipisahkan. Sangat aneh bila ada alumni Darussalam tidak bersimpati dan berpihak kepada NU. Karena Darussalam adalah markas NU pertama di Kalimantan, dan para ulama besar Darussalam adalah penyambung sanad NU Kalimantan. Bila Darussalam adalah rumah kita, maka NU adalah komplek perumahan kita.

*****

Besok (11 Rajab) adalah haul wafatnya Beliau. Sudah selayaknya warga NU Kalimantan dan alumni Pondok Pesantren Darussalam di manapun berada memperingati haulnya. Minimal dengan mengumpulkan keluarga dan orang-orang dekat mengadakan acara tahlilan, sebagai tanda terimakasih atas jasa dan perjuangan Beliau.

*****

Anda warga NU atau alumni Darussalam?
Silakan bantu sebarkan postingan ini...

Ada 2 UMAR dalam sejarah Islam, dikenang sebagai Khalifah yang JUJUR, TEGAS, BIJAKSANA serta sangat teguh dalam AKIDAH.Y...
22/11/2018

Ada 2 UMAR dalam sejarah Islam, dikenang sebagai Khalifah yang JUJUR, TEGAS, BIJAKSANA serta sangat teguh dalam AKIDAH.

Yang pertama tentu saja Umar bin Khatab (RA), Khalifah kedua menggantikan Abu Bakar Ashsiddiq (RA), dan yang kedua adalah Umar bin Abdulazis, Khalifah ke 8 keturunan Umayyah.

Tak perlu dikisahkan tentang kedua Umar tersebut, karena perilaku mereka sudah begitu termasyur, bahkan mudah dicari literatur tentang kiprah mereka.

Menariknya adalah, kedua tokoh hebat yang dikisahkan telah membawa kejayaan Islam serta kesejahteraan umat itu, wafat karena DIBUNUH.

Umar bin Khatab wafat ditikam saat menjadi Imam Sholat Shubuh, oleh Abu Lu'lu'ah, tokoh Majusi yang menyusup diantara kaum Muslimin karena dendam, sebab kaum Majusi di Persia telah dikalahkan oleh pasukan Muslim, sehingga banyak orang Majusi yang kemudian menjadi Muslim.

Sedangkan Umar bin Abdul Azis wafat diracun oleh kerabatnya sendiri, karena kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada kepentingan keluarga (Bani Umayyah), dan lebih mementingkan kepentingan umat.

Ketika kita ada rasa TIDAK S**A kepada Pemimpin, terkadang kita perlu merenung, benarkah Pemimpin itu layak untuk TIDAK DIS**AI karena "buruk", atau kita yang BELUM SIAP dengan kepemimpinannya, karena kepentingan-kepentingan kita terganggu.

Ilustrasi : Google

Rangkaian foto-foto Rakernas PP JQH NU di pesantren Al Tsaqofah Ciganjur Jakarta Selatan.
15/04/2018

Rangkaian foto-foto Rakernas PP JQH NU di pesantren Al Tsaqofah Ciganjur Jakarta Selatan.

13/04/2018

MEMILIH PEMIMPIN SESUAI JENJANG KEYAKINAN

"Sembahlah Tuhan-Mu, sampai datang kepadamu keyakinan" (QS Al Hijr 15 : 99)

Keyakinan itu dibagi menjadi empat jenjang, yaitu :

1. Yakin karena diwajibkan = Wajibul Yaqin.

2. Yakin karena belajar = Ilmul Yaqin.

3. Yakin karena rasa = 'Ainul yaqin.

4. Yakin karena bukti = Isbatul Yaqin.

Kalau semua jenjang itu sudah dilalui, maka keyakinan kita barulah disebut dengan Haqul Yaqin, yaitu Keyakinan Yang Benar.
Sebelum membahas hubungan antara jenjang keyakinan dengan memilih kepemimpinan, ada baiknya difahami dulu hakekat munafiq, zhalim, kafir dan fasiq.

Nifaq artinya Noda Hitam. Munafiq adalah Tempat berkumpulnya Noda Hitam. Secara hakekat, Munafiq adalah Qalbu yang penuh dengan Noda Hitam, sehingga ketika Qalbu tersebut di hadapkan ke Arah Nur Ilahi, maka Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya, kerena terhalang oleh Noda-Noda Hitam, sehingga menjadi gelaplah Qalbu tersebut. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kemunafiqan.

Zhulmah artinya Kegelapan, seakar kata dengan kata Zhalim. Secara hakekat, Zhalim mengandung arti Qalbu yang Gelap, sehingga Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya, Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kezhaliman.

Kafir artinya Tertutup. Secara hakekat, kata kafir mengandung arti Qalbu yang tertutup. Sehingga ketika Qalbu itu dihadapkan kepada Nur Ilahi, maka Nur Ilahi tidak Nampak dalam Qalbunya. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kekafiran.

Fasiq artinya tidak jujur. Secara hakekat, fasiq mengandung arti ketidak jujuran diri terhadap Qalbu sendiri. Qalbunya tidak bersyahadat (menyaksikan keberadaan) Allah dan Rasul-Nya, tetapi mulutnya berkata aku bersaksi. Sehingga kita menjadi orang yang bersyahadat palsu. Oleh karena itu hindarilah diri kita dari kefasiqan.

Berdasarkan empat tingkatan keyakinan tersebut, maka dalam hal memilih pemimpin juga akan sesuai dengan keyakinan dan duduk ilmunya, yaitu :

1. Wajibul Yakin, kedudukannya ada pada ilmu syariat, yang berpedoman pada apa yang tertulis di dalam Al Qur'an dan Hadits Shahih dan apa kata Guru.

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika memilih pemimpin harus seagama, sesuai surat Al Maidah ayat 51 dan riwayat lainnya.

Pada maqom ini tidak ada tawar menawar, pokoknya wajib memilih pemimpin Muslim dan dilarang memilih pemimpin kafir, titik.

2. Ilmul Yakin, kedudukannya ada pada ilmu tarekat, yang berpedoman pada hati atau sanubari.

Pada maqom ini memilih pemimpin adalah sesuai dengan apa kata hati nurani hasil dari kajian yang lebih mendalam.

Jika ada larangan memilih pemimpin kafir berdasarkan Al Qur'an dan Hadits Shahih maka di kaji terlebih dahulu apa yang di maksud dengan kata kafir, karena umat islam juga ada yang di sebut kafir.

Sehingga pada maqom ini, memilih pemimpin kafir sudah berdasarkan kajian dan program kerja yang membuat hati nyaman, bukan karena ikut ikutan walaupun ada fatwa MUI.

3. 'Ainul Yakin kedudukannya ada pada Ilmu Hakekat yang berpedoman pada jiwa yang suci.

Pada maqom ini memilih pemimpin tidak lagi berdasarkan apa yang tertulis di dalam Al Qur'an dan Hadits Shahih serta hasil kajiannya, namun berdasarkan Ilham langsung dari Allah SWT kepada jiwa yang suci.

Pada maqom ini tidak dikenal lagi istilah baik-buruk, benar-salah, muslim non muslim, karena sudah menjadi ketentuan dan kehendak Allah SWT.

4. Isbatul Yakin (yakin berdasarkan pembuktian) kedudukannya ada pada Ilmu Ma'rifatullah yang berpedoman pada "Aku"

Pada Maqom ini yang memilih pemimpin adalah "Aku" dan pilihannya adalah yang terbaik, walaupun bertentangan dengan ilmu syariat Islam, karena Aku itu Maha Tahu.

Pada maqom ini tidak dikenal lagi adanya agama sehingga tidak ada lagi istilah kafir, karena "Aku" itu tidak beragama tapi pasti "mu'min".

Silahkan pandang diri sendiri, ada di maqom mana, lalu tentukan pilihan kita tanpa harus ribut-ribut saling menyalahkan atau merasa paling benar.

Jadi, jika kita sudah belajar ilmu Marifatullah tapi masih sibuk dan ribut serta tetap berpedoman tidak boleh memilih pemimpin kafir berdasarkan surat Al maidah 51 maka kita salah kamar.

Percayalah, tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur`an :

“... Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)….” (QS Ar Ra’d : 2)

“… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (p**a)....” (QS Al An’aam : 59)

Dialah Allah Yang menciptakan dan mengatur semua peristiwa, bagaimana mereka berawal dan berakhir. Dia p**alah yang menentukan setiap gerakan bintang-bintang di jagat raya, kondisi setiap yang hidup di bumi, cara hidup seseorang, apa yang akan dikatakannya, apa yang akan dihadapinya, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an :

“Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al Qamar : 49)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (p**a) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)

Sebenarnya wajar kalau dalam memilih pemimpin itu terjadi perbedaan pendapat. Setuju atau tidak setuju dengan suatu pendapat, itu urusan masing-masing, karena tidak ada pemaksaan dalam keyakinan, boleh tidak sependapat, karena memang pendapat kita beda-beda......😛

Yang sebentar lagi ikut Pilkada, selamat mencoblos sesuai dengan pendapat anda masing masing.....😁😁😁

By: Bpk. Kuswanto abu Irsyad.

17/03/2017

Para ulama sepuh Nahdlatul Ulama mengadakan silaturahim di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada Kamis (16/3). Silaturahim tersebut membuah hasil dengan nama "Risalah Sarang".
Berikut isinya:

الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ

أُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
(النحل: ١٢٥)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)

لِلْعَالَمِينَ رَحْمَةً إِلَّا أَرْسَلْنَاكَ وَمَا
(١٠٧:الأنبياء)

“Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai pembawa rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya`: 107)

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
(الحشر: ٧)

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Al-Hasyr: 7)

يٰۤاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا اِن جَاءَكُم فَاسِقٌ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوا اَن تُصِيبُوا قَومًا بِجَهَالَةٍ فَتُصبِحُوا عَلٰى مَا فَعَلتُم نٰدِمِينَ (الحجرات: ٦) ‏

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al –Hujurat: 6)

لاَخَيْر فِي كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُم إلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوْفٍ أًوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّأسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ إِبْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُوْتِيْهِ أَجْرا عَظِيْما
(النساء: ١١٤)
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahalanya yang besar.
(An Nisa: 114)

امُيَسِّرً مُعَلِّمًا بَعَثَنِي وَلَكِنْ ، مُتَعَنِّتًا وَلا مُعَنِّتًا يَبْعَثْنِي لَمْ اللَّهَ إِنَّ
(رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku (Muhammad) sebagai orang yang mempersulit atau memperberat para hamba. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan (HR. Muslim).

الْأَخْلَاقِ مَكَارِمَ لِأُتَمِّمَ بُعِثْتُ إِنَّمَا
(رواه بيهقي)

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR. Al-Baihaqi)

السَّمَاءِ فِي مَنْ يَرْحَمْكُمْ الْأَرْضِ فِي مَنْ ارْحَمُوا الرَّحْمن يَرْحَمُهُمْ الرَّاحِمُونَ
(رواه الترمذي)

“Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi)

فَاالتَّفَرُقُ سَبَبُ الضُعْفِ وَالجِذْلاَنِ وَالفَصْلِ فِي جَمِيْعِ الأَزْماَنِ. بَلْ هُوَ مَجْلَبَةُ الفَسَادِ وَمَطِيَّةُ الكَسَادِ وَدَعِيَّةُ الخَرَبِ والدِّمَارِ، وَدَاهِيَةُ العَارِ وَالسَّتَّارِ.
فَكَمْ مِنْ عَا ئِلاَتٍ كَبِيْرَةٍ كَانَتْ فِي رَغَدٍ مِنَ الغَيْشِ وَبُيُوْتٍ كَثِيْرَةٍ كَانَتْ أهِلَةً بِأَهْلِهَا حَتَّى إِذَا دَبَّتْ فِيْهِم عَقَارِبُ التَّنَزُعِ وَسَرَى سُمُّهَا فِي قُلُوْبِهِم، وَأَخَذَ مِنْهُمُ الشَيْطَانُ مَأْخَذَهُ تَفَرَّقُوْا شَذَرَ مَذَرَ فَأَصْبَحَتْ بُيُوْتَهُمْ خَاوِيَةً عَلَى عُرُوْسِهَا
(الرئيس الأكبر لجمعية نهضة العلماء الشيج العالم العلامة محمد هاشم أشعري, مقدمة القانون الأساسي لجمعية نهضة العلماء)

Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga keluarga besar, semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai satu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan syaithan pun melakukan perannya, mereka kocar-kacir tak karuan. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan. (Rais Akbar Jamiyah Nahdlatul Ulama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi)

Bismillahirrahmanirrahim

1. Nahdlatul Ulama senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak dapat bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri. Nahdlatul Ulama mengajak seluruh ummat islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah. Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia ini saja, tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah peradaban yang dihadapi dewasa ini.

2. Lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi merupakan sumber-sumber utama kegelisahan masyarakat selain masalah-masalah sosial seperti budaya korupsi, rendahnya mutu pendidikan dan sumberdaya manusia, meningkatnya kekerasan dan kemerosotan moral secara umum. Pemerintah diimbau agar menjalankan kebijakan-kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut termasuk dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada yang lemah (affirmatif) seperti reformasi agraria, pajak progresif, pengembangan strategi pembangunan ekonomi yang lebih menjamin pemerataan serta pembangunan hukum ke arah penegakkan hukum yang lebih tegas dan adil dengan tetap menjaga prinsip praduga tak bersalah dalam berbagai kasus yang muncul. Penyelenggaraan negara oleh pemerintah dan unsur-unsur lainnya harus senantiasa selaras dengan tujuan mewujudkan maslahat bagi seluruh rakyat (tasharraful imam manutun bi maslahatirroiyyah).

3. Perkembangan teknologi informasi, termasuk internet dan media-media sosial, serta peningkatan penggunaannya oleh masyarakat membawa berbagai manfaat seperti sebagai sarana silaturahmi nasrul ilmi taawwun alal birri dan sebagainya, tetapi juga mendatangkan dampak-dampak negatif seperti cepatnya penyebaran fitnah dan seruan seruan kebencian, propaganda radikalisme, pornografi, dan halhal lain yang dapat merusak moral dan kerukunan masyarakat. Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif baik dalam mengatasi dampak-dampak negatif tersebut maupun pencegahanpencegahannya. Pada saat yang sama para pemimpin masyarakat dihimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasiinformasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak-dampak negatif tersebut.

4. Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk pemimpin Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab adil dan amanah dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.

5. Para ulama dalam majlis ini mengusulkan diselenggarakannya forum silaturrahmi di antara seluruh elemen-elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada, mencari langkah-langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan perkembangan di masa depan serta rekonsiliasi diantara sesama saudara sebangsa. Nahdlatul Ulama diminta untuk mengambil inisiatif bagi terwujudnya forum tersebut.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

Sarang, 16 Maret 2017

Address

Jakarta Pusat

Telephone

0213141994

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share