01/12/2024
Sama-sama Supir, Tapi...
Eh, pernah nggak sih, lu kepikiran? Kenapa kalo denger "supir bus", "supir angkot", atau "supir ojek", yaudah biasa aja, paling banter kita bilang, "Semangat ya, Pak!" Tapi giliran denger "supir kereta api" atau "supir kapal laut" udah mulai naik level. Apalagi kalo denger "supir pesawat terbang" – langsung mendadak kagum, kayak liat orang dapet Nobel.
Padahal, ya, secara job desk mah sama aja: bawa orang dari titik A ke titik B. Bedanya cuma medan. Supir ojek nyalip di gang sempit, supir angkot ngatur penumpang kayak main Tetris, supir kapal laut? Yaudah, tinggal lurus aja asal nggak nabrak karang. Supir pesawat? Sama, bawaannya lurus juga, cuma lebih tinggi aja. Tapi gengsinya kayak dibawa ke luar angkasa.
Mungkin karena supir pesawat terbang punya vibes "boss level" yang bikin kita minder. Mereka pake seragam yang bikin dada otomatis maju 5 cm, jalan di bandara kayak artis red carpet. Padahal mah, di cockpit mereka juga kena macet... tapi macetnya di udara, nunggu giliran mendarat.
Oh, dan jangan lupa, pesawat itu kan mahal. Jadi wajar kalo supirnya kita anggep premium. Beda sama angkot yang tiap berenti bilang, "Tolong bayarannya yang belakang!" Supir pesawat nggak ada tuh ngomong, "Ayo bayar bagasi tambahan, yang belakang jangan pura-pura tidur!"
Tapi inget, bos. Nggak peduli lu nyetir GoFood, bawa bus, atau Boeing 737, semua supir itu pahlawan transportasi. Bedanya, ada yang dapet gengsi, ada yang dapet klakson dari pengemudi di belakangnya.