15/08/2026
β€οΈ DAHLAN ISKAN: BERKALI-KALI JATUH, BERKALI-KALI BANGKIT
Ada orang yang sejak kecil hidup dalam kemudahan.
Ada p**a yang sejak kecil justru harus belajar bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita inginkan.
Dahlan Iskan tumbuh dalam keluarga pedesaan yang serba kekurangan di Magetan, Jawa Timur. Ia kemudian menempuh pendidikan di lingkungan madrasah dan pesantren, sebelum melanjutkan kuliah di Samarinda yang tidak diselesaikannya. Dari kehidupan sederhana itulah, sedikit demi sedikit, terbentuk karakter seorang Dahlan: keras kepada dirinya sendiri, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah.
Barangkali kalau kita melihat Dahlan Iskan hari ini, yang terbayang adalah seorang pengusaha media, mantan Direktur Utama PLN, mantan Menteri BUMN, penulis, dan tokoh publik.
Tetapi sebelum semua itu, ia hanyalah seorang anak desa yang sedang mencari jalan hidup.
Dan jalan itu ternyata tidak mudah.
β
DARI SEPATU YANG SULIT DIMILIKI, MENUJU DUNIA JURNALISTIK
Ada satu pelajaran penting dari masa kecil Dahlan.
Kemiskinan tidak selalu membuat seseorang berhenti bermimpi.
Justru terkadang, keterbatasan membuat seseorang memiliki alasan yang lebih kuat untuk bergerak.
Dahlan kemudian memilih dunia jurnalistik.
Pada 1975, ia memulai karier sebagai reporter di sebuah surat kabar kecil di Samarinda. Setahun kemudian, ia bergabung dengan Majalah Tempo. Dari sana, kemampuan menulis dan keberaniannya meliput berbagai peristiwa membuat namanya semakin dikenal.
Ia bukan lahir sebagai pengusaha besar.
Ia tumbuh dari profesi yang sederhana:
menulis.
Tetapi dari sebuah tulisan, ia belajar membaca manusia.
Dari dunia jurnalistik, ia belajar membaca keadaan.
Dan kelak, kemampuan membaca keadaan itulah yang menjadi salah satu modal terbesarnya dalam berbisnis.
β KETIKA JAWA POS HAMPIR MATI
Tahun 1982 menjadi salah satu titik penting dalam hidupnya.
Dahlan dipercaya memimpin Jawa Pos, sebuah surat kabar yang ketika itu sedang berada dalam kondisi sangat sulit. Oplahnya hanya sekitar 6.000-an eksemplar.
Bayangkan.
Hari ini kita mengenal Jawa Pos sebagai salah satu nama besar dalam industri media Indonesia.
Tetapi pernah ada masa ketika koran itu berada di ambang kehancuran.
Dan Dahlan masuk ke sana bukan untuk menikmati perusahaan yang sudah besar.
Ia masuk ketika perusahaan itu membutuhkan orang yang berani membenahi keadaan.
Ia mengubah cara kerja.
Ia membenahi jurnalistik.
Ia memikirkan bagaimana koran itu harus dibaca masyarakat.
Ia mendorong perubahan dalam bisnis dan distribusi.
Pelan-pelan, hasilnya mulai terlihat.
Dalam sekitar lima tahun, oplah Jawa Pos disebut meningkat dari sekitar 6.000 menjadi sekitar 300.000 eksemplar.
Angka itu bukan sekadar angka.
Di baliknya ada ribuan keputusan.
Ada risiko.
Ada tekanan.
Ada orang-orang yang mungkin meragukan.
Dan ada keberanian untuk terus mencoba ketika cara lama sudah tidak menghasilkan.
Dari sana, bisnis media berkembang semakin luas. Jaringan media Jawa Pos tumbuh, berbagai penerbitan dan percetakan berkembang, kemudian dunia televisi juga dimasuki melalui JTV dan stasiun televisi lokal lainnya.
Dahlan tidak berhenti ketika satu bisnis berhasil.
Ia terus bergerak.
π TETAPI HIDUP TIDAK SELALU TENTANG KEMENANGAN
Di tengah perjalanan menuju keberhasilan, tubuh Dahlan ternyata memberikan peringatan.
Pada 2007, ia harus menjalani transplantasi hati.
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya terbiasa bergerak cepat, tiba-tiba harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kerja keras.
Ada saat ketika uang tidak cukup.
Jabatan tidak berarti.
Kekuasaan tidak berguna.
Yang tersisa hanyalah harapan untuk bisa hidup.
Pengalaman itu kemudian ia tuliskan dalam buku Ganti Hati.
Setelah menjalani transplantasi, ia pernah mengatakan bahwa dirinya sebenarnya ingin mengurangi kesibukan bisnis dan lebih banyak mengajar jurnalistik, menulis buku, serta mengurus pesantren.
Di titik ini kita belajar sesuatu:
Kadang-kadang manusia baru benar-benar memahami arti kehidupan ketika ia berada sangat dekat dengan kehilangan.
π DARI MEDIA KE PLN
Tetapi perjalanan Dahlan belum selesai.
Pada akhir 2009, ia dipercaya menjadi Direktur Utama PLN.
Perusahaan sebesar PLN tentu memiliki persoalan yang jauh berbeda dengan perusahaan media.
Namun Dahlan datang dengan karakter yang sama:
melihat masalah, turun langsung, lalu mencari jalan keluar.
Di PLN, ia dikenal melakukan berbagai gebrakan dan mendorong percepatan pelayanan kelistrikan.
Ia kemudian dipercaya menjadi Menteri BUMN pada 2011 dan menjabat hingga 2014.
Seorang anak dari keluarga sederhana akhirnya berada di salah satu posisi penting dalam pemerintahan Indonesia.
Tetapi menariknya, kisah Dahlan bukan cerita tentang seseorang yang tiba-tiba sukses.
Justru sebaliknya.
Ia sukses karena berkali-kali belajar menghadapi kesulitan.
π KETIKA HARUS MELEPASKAN
Dan mungkin di sinilah bagian paling manusiawi dari perjalanan Dahlan.
Tidak semua yang kita bangun akan selamanya berada di tangan kita.
Setelah bertahun-tahun menjadi bagian penting dari Jawa Pos, perjalanan itu akhirnya mengalami titik balik. Pada 2018, berbagai pemberitaan menyebut Dahlan tidak lagi berada dalam kepemimpinan Jawa Pos. Bahkan persoalan yang berkaitan dengan hubungan bisnis dan kepemilikan kemudian masih berlanjut dalam sengketa hukum pada tahun-tahun berikutnya.
Bayangkan seseorang yang pernah ikut membesarkan sebuah institusi dari masa sulit...
kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa perjalanan bersama institusi itu tidak selamanya berjalan seperti yang diharapkan.
Tetapi justru di sinilah karakter seseorang diuji.
Apakah ketika kehilangan panggung, ia ikut kehilangan semangat?
Ternyata tidak.
Ia kembali menulis.
Ia membangun media baru.
Ia tetap menghasilkan gagasan.
Seolah-olah hidup sedang mengajarinya satu hal:
Kalau satu pintu tertutup, jangan habiskan seluruh hidup hanya untuk menangisi pintu itu.
Cari pintu berikutnya.
β
JATUH BUKAN AKHIR
Kisah Dahlan Iskan sebenarnya bukan kisah tentang seseorang yang selalu menang.
Justru yang menarik adalah karena ia pernah berada di banyak titik yang tidak nyaman.
Dari keluarga sederhana.
Dari reporter surat kabar kecil.
Dari koran yang hampir mati.
Dari perusahaan besar.
Dari sakit keras.
Dari PLN.
Dari kursi Menteri BUMN.
Dari kehilangan posisi.
Dan kemudian kembali membangun.
Itulah sebabnya kisah Dahlan Iskan relevan bagi siapa pun yang sedang merintis usaha.
Karena membangun bisnis bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan keuntungan.
Kadang kita harus belajar bertahan.
Kadang harus mengubah strategi.
Kadang harus menerima kegagalan.
Kadang harus kehilangan sesuatu yang sudah kita bangun bertahun-tahun.
Dan kadang kita harus memulai kembali ketika usia sudah tidak muda lagi.
Tetapi mungkin itulah inti dari sebuah perjalanan.
Bukan tentang berapa kali kita jatuh.
Melainkan tentang berapa kali kita memilih untuk bangkit.
Bagi Anda yang sedang merintis usaha dan hari ini merasa bisnisnya kecil...
jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa Anda gagal.
Bisa jadi Anda sedang berada di halaman awal dari sebuah cerita panjang.
Jawa Pos pernah berada di titik sekitar 6.000 eksemplar.
Dahlan pernah menjadi reporter di sebuah media kecil.
Ia pernah menghadapi sakit berat.
Ia pernah meninggalkan posisi-posisi besar.
Tetapi setiap kali hidup memberikan alasan untuk berhenti, ia selalu menemukan alasan untuk melanjutkan.
Dan mungkin itulah warisan terbesar dari perjalanan hidupnya:
Kesuksesan bukan milik orang yang tidak pernah jatuh.
Kesuksesan sering kali menjadi milik orang yang setelah jatuh...
masih memiliki keberanian untuk berdiri.
---
Kalau Anda sedang berada di titik sulit dalam bisnis atau kehidupan, ingat satu hal: cerita Anda belum selesai.
Kalau kisah Dahlan Iskan ini memberi Anda inspirasi, tekan LIKE β€οΈ, tuliskan pengalaman atau pelajaran yang paling mengena di KOMEN, dan SHARE tulisan ini kepada sahabat atau keluarga yang sedang berjuang membangun usaha dari nol.
Siapa tahu, satu share dari Anda menjadi penyemangat bagi seseorang yang hari ini hampir menyerah.
Karena setiap pengusaha punya cerita. Dan setiap perjuangan layak untuk diceritakan.
UKM (Usaha Kreatif Muslim)
Pesantren Modern Primago
Master Beton - Pabrik Jual Roster Beton Bekasi