24/05/2015
Rinduku Pada Senja
Cerpen Karangan: Sarah Febiyanti
Setiap perkenalan pasti ada perpisahan. Itulah yang aku rasakan saat ini. Perpisahan itu sangat menyakitkan, hingga membuatku terpuruk dalam duka yang amat dalam. Aku harus merelakan kepergian seseorang yang amat sangat aku sayangi. Walaupun sejujurnya aku tak rela melepas kepergiannya. Aku takut menghadapi kejamnya dunia ini sendiri. Tuhan, kenapa kau ambil nyawanya? Kenapa? aku tak mampu menghadapi dunia ini tanpanya. Aku sangat menyayanginya Tuhan, tolong kembalikan dia. Aku rindu padanya. Aku ingin melihat senja bersamanya lagi.
Namaku Rizkyara Setiawan, biasa dipanggil Ara. Aku terlahir dalam keluarga yang kaya. Papaku seorang pengusaha sukses yang memiliki perusahaan hampir di seluruh dunia. Papaku bernama Erick Setiawan, dan mamaku bernama Catherin Deline. Mamaku berasal dari Negara Perancis, tepatnya di kota Paris. Sedangkan papaku orang Indonesia, tetapi masih keturunan Prancis. Aku mempunyai 2 orang kakak laki-laki. Namanya Aldy Setiawan dan Andry Setiawan. Aku bersekolah di sekolah yang cukup terkenal di Jakarta. Aku baru pindah ke sekolah ini beberapa hari yang lalu. Dan hari ini adalah hari pertama aku masuk. Kini aku duduk di kelas 3 SMP.
Hangatnya sinar mentari pagi ini membangunkan Ara dari mimpi indahnya. Jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ara bergegas mandi dan mengenakan seragam putih-biru nya. Lalu ia turun dari kamarnya untuk sarapan. “pagi sayang, nih roti sama susunya.” ucap mama Ara.
“iya ma” jawabnya.
Setelah selesai sarapan Ara langsung berpamitan pada mamanya untuk pergi sekolah. “ma, Ara pergi dulu ya. assalamu’alaikum”. katanya sambil mencium tangan mamanya.
“iya, hati-hati di jalan ya sayang.”
“iya ma.” Ara pun langsung masuk ke mobil papanya.
Saat mobil baru berjalan sebentar, papanya berhenti. “loh, kok berhenti pa?” tanya Ara.
“papa mau kasih oleh-oleh buat tetangga baru kita. Kamu tunggu disini dulu ya.”
“iya pa.” ‘memangnya ada tetangga baru ya? kok aku nggak tau? Hmm..’ gumamnya. Setelah papanya kembali, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah Ara.
Sesampainya di sekolah, Ara dan papanya langsung menuju ruang kepala sekolah. “permisi bu.” ucap papa Ara.
“iya, silahkan masuk. Ada keperluan apa ya pak?”
“saya Erick, orangtua dari Rizkyara Setiawan.”
“oh pak Erick.”
Setelah selesai berbincang-bincang dengan kepala sekolah, papa Ara langsung pamit p**ang. “kalau begitu saya pamit dulu ya bu.” ucap papanya Ara.
“iya pak. Silahkan.” jawab ibu kepala sekolah.
“papa ke kantor dulu ya Ra, kamu baik-baik ya di sekolah.”
“iya pa.” jawab Ara seraya mencium tangan papanya.
Lalu Ara pun diantarkan oleh ibu kepala sekolah menuju kelas barunya. Sesampainya di kelas baru. “selamat pagi anak-anak.” ucap Bu kepala sekolah.
“pagi buu” jawab murid-murid serempak.
“hari ini kita kedatangan murid baru. Ara, silahkan perkenalkan diri kamu, asal sekolah, dan alasan kamu pindah kesini.”
“baik bu.” jawab Ara.
“pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Rizkyara Setiawan, saya pindahan dari Paris. Alasan saya pindah kesini karena orangtua saya pindah ke Jakarta.”
“baiklah kalau begitu, sekarang kamu cari tempat duduk yang kosong. Ibu harap kalian mau berteman baik dengan Ara. Ibu permisi dulu. Selamat pagi.”
Ara segera mencari tempat yang kosong.
“bolehkah aku duduk disini?” tanya Ara pada seorang anak laki-laki.
“eh, silahkan saja.” jawab laki-laki itu ramah. Ara pun duduk sebangku dengan anak laki-laki itu.
Bel istirahat pun berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas. Di kelas hanya tinggal Ara dan teman sebangkunya. “hai, kita belum kenalan.” ucap teman Ara.
“eh, iya. Namaku Rizkyara, panggil aja Ara.” ujar Ara sambil mengulurkan tangan.
“namaku Rizal Gunawan, biasa dipanggil Rizal.” jawabnya sambil menyambut uluran tangan Ara.
Saat jam istirahat mereka hanya duduk di dalam kelas sambil bercerita tentang tempat tinggal mereka. Ternyata Rizal adalah tetangganya. Lebih tepatnya tetangga barunya. “oh, jadi kamu yang baru pindah di blok A?” tanya Ara.
“iya. Tadi pagi papamu kan yang memberiku oleh-oleh.” jawab Rizal.
“ooh, iya iya.”
Tak lama, bel masuk pun berbunyi. Setelah pelajaran usai, Ara dan Rizal p**ang bersama.
“Ra, p**ang bareng yuk.” ajak Rizal.
“hmm, ya udah yuk. Lagi p**a rumah kita kan dekat.” jawab Ara senang.
“baiklah.”
Selama perjalanan p**ang, mereka berdua bercerita dan bercanda. “mau nggak nanti sore kita buat pr bersama?” tanya Rizal.
“mau banget. Habisnya, pr nya susah-susah semua. Kira-kira jam berapa Zal?”
“kalau jam 4 sore bisa?”
“oke. Kalau gitu, aku duluan ya Zal. Aku tunggu kamu nanti jam 4 sore.” jawab Ara sambil melambaikan tangan.
Sesampainya di dalam rumah, Ara langsung menuju kamarnya. Ia tidak sabar untuk bertemu Rizal nanti sore. Setelah shalat zuhur dan makan siang, Ara bergegas mandi dan bersiap-siap menunggu Rizal. Tepat pada pukul 4 sore, Rizal telah sampai di rumah Ara. Ara pun mengajaknya masuk.
Mereka berdua mengerjakan tugas dengan serius. Akhirnya mereka dapat menyelesaikan tugas mereka. “akhirnya siap juga ya Zal. Aku nggak tau deh gimana kalau aku ngerjain sendiri. Mungkin nanti malam baru siap. Makasih ya Zal, udah bantuin dan ngajarin aku.” ucap Ara sambil tersenyum.
“iya, santai aja Ra. Sesama teman kan harus saling tolong menolong. Iya nggak?” jawab Rizal.
“iya Zal.”
“kan tugas kita udah siap, jalan yuk.” ajak Rizal.
“boleh, tapi mau jalan kemana Zal?” tanya Ara.
“ke suatu tempat. Aku yakin kamu pasti s**a dengan tempat itu.” jawab Rizal.
“dimana sih Zal? Jangan buat aku penasaran d**g.” tanya Ara yang masih penasaran.
“udah, ikut aja yuk.” jawab Rizal sambil menarik tangan Ara.
Mereka berdua pun pergi ke tempat yang Rizal maksud. Ternyata tempat yang dimaksud Rizal adalah sebuah pantai dengan panorama yang sangat indah. Ara sampai tak mengedipkan mata karena kagum akan keindahan senja di pantai itu. “Zal, indah banget senja di pantai ini. Kamu benar, aku sangat s**a tempat ini.” ucap Ara tanpa melihat kearah Rizal.
“kamu udah pernah kesini sebelumnya?” tanya Rizal.
“belum pernah sama sekali.” jawab Ara.
“aku juga s**a tempat ini. Disini sangat nyaman, damai dan indah.” ucap Rizal.
Ara yang sedari tadi melihat ke arah matahari yang akan terbenam menoleh ke arah Rizal. “iya, aku setuju dengan pendapat kamu.” jawab Ara sambil tersenyum.
Setelah matahari terbenam, mereka pun p**ang ke rumah. “duluan ya Zal, sampai ketemu besok.” ucap Ara.
“iya.” jawab Rizal singkat. Sejak hari itu, mereka berdua sering mengerjakan tugas bersama-sama dan melihat matahari terbenam setiap sorenya. Malam harinya saat Ara akan tidur, ia menyempatkan untuk menceritakan pengalamannya di diary kesayangannya. Setelah itu, barulah ia tidur.
Hari ini Ara melihat perubahan sikap Rizal. Ia jadi pendiam dan hanya melamun sedari tadi. Sampai pelajaran dimulai pun belum ada perubahan pada sikap Rizal. Setelah pelajaran usai, Ara yang khawatir terhadap sikap Rizal memberanikan diri untuk bertanya pada Rizal. “kamu kenapa Zal? Sakit? Dari tadi aku lihat kamu Cuma diam dan melamun.” tanya Ara. Rizal hanya menggelengkan kepala lalu menunduk.
“kita kan sahabat, cerita d**g Zal. Jangan diam aja.” bujuk Ara.
“papa aku Ra,” kata Rizal dengan mata yang berkaca-kaca.
“papa kamu kenapa?” tanya Ara.
“papa aku meninggal Ra.”
“innalillahi wainna ilaihi rojiun, aku turut berduka ya Zal.” jawab Ara.
“iya makasih.”
Saat sorenya mereka melihat matahari terbenam, Rizal masih diam saja. ‘aku nggak bisa lihat Rizal seperti ini’ batin Ara. “udah d**g Zal, kamu jangan sedih terus. Aku tau, mungkin berat buat kamu untuk kehilangan sosok papa dalam hidupmu. Kalau papa kamu lihat kamu seperti ini, dia pasti sedih. sebagai anak yang baik, harusnya kamu do’ain papa kamu supaya tenang disana dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah.” ucap Ara.
Rizal menatap Ara dengan mata berkaca-kaca, lalu menerawang jauh kedepan. “kamu benar Ra. harusnya aku do’ain papa aku, bukannya aku tangisin. Makasih ya Ra. Kamu sahabat aku yang paling baik.” ucap Rizal sambil tersenyum.
“iya sama-sama.” jawab Ara. Ara senang, karena kini Rizal bisa tersenyum lagi.
Kurang lebih 1 bulan lagi ujian nasional. Ara dan Rizal semakin giat belajar. Bahkan mereka sering belajar bersama. “nggak nyangka ya Zal udah mau UN.” ucap Ara.
“iya Ra, waktu terasa sangat cepat berlalu.” jawab Rizal. Mereka berdua berjanji untuk belajar sangat giat, supaya mereka bisa lulus dengan nilai sempurna.
Selama hampir 3 hari ini, mereka berdua disibukkan dengan UN. Hari berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional. Sep**ang sekolah, Rizal menghampiri Ara. “Ra, nanti sore aku tunggu kamu di pantai ya. aku mau ngomong penting sama kamu.” ucap Rizal sambil tersenyum.
“mau ngomong apa Zal? Kenapa nggak sekarang aja?” tanya Ara heran.
“ada deh, pokoknya penting. Kalau gitu aku duluan ya Ra.” ucap Rizal seraya melambaikan tangan pada Ara dan menjauh. Ara masih penasaran dengan perkataan Rizal tadi.
Sesampainya di rumah pun Ara masih memikirkannya. Setelah pukul 4 sore, Ara bergegas menuju ke pantai. Sesampainya disana, ia tak melihat batang hidung sahabatnya. Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Rizal datang. “maaf ya Ra, aku telat.” ucap Rizal.
“iya, nggak apa kok. Aku juga baru sampai disini.” jawab Ara sambil tersenyum.
Saat melihat wajah Rizal, Ara terkejut karena wajahnya sangat pucat. Ara pun bertanya kepada Rizal. “kamu kenapa Zal? Sakit?” tanya Ara khawatir. Ara merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rizal. Namun ia tak mau menanyakannya lagi pada Rizal.
“eng..nggak kok, aku nggak kenapa-napa Ra. Kamu nggak usah khawatir. Oh ya, aku ngajak kamu kesini karena aku mau kasih sesuatu buat kamu” ucap Rizal santai.
“apa itu Zal?” tanya Ara heran.
Rizal pun memberikan Ara sebuah cincin yang sangat indah. Di sekeliling cincin itu ada tulisan nama Ara dan Rizal.
“bagus banget cincinnya Zal, aku s**a.” ucap Ara senang.
Setelah matahari sampai di peraduannya, mereka pun p**ang. Rizal pamit p**ang pada Ara. “aku p**ang dulu ya Ra. Sampai jumpa besok.” ucap Rizal sambil melambaikan tangan.
“iya, hati-hati di jalan yaa.” jawab Ara membalas lambaian tangan Rizal.
Saat di dalam kamar, Ara memikirkan keadaan Rizal. ‘sebenarnya apa yang Rizal sembunyikan dari aku?’ batin Ara. Ara tidak mau berfikir macam-macam. Setelah selesai makan malam dan shalat Isya’ Ara memutuskan untuk tidur, karena ia merasa sangat lelah hari ini. Dan Ara pun tertidur sangat p**as.
Esoknya, Ara dibangunkan oleh kakaknya. “Ra, bangun! Hei bangun! Ada berita duka.” ucap kak Aldy.
“apaan sih kak? Liat tu jam berapa. Baru juga jam setengah 4.” jawab Ara yang masih setengah tidak sadar.
“ayo buruan bangun. Kita harus ke rumah sakit sekarang.” ujar kak Aldy.
“emang siapa sih yang sakit?!!” omel Ara.
“Rizal! sekarang dia kritis.” tegas kak Aldy.
“apa?!! Rizal?” tanya Ara.
“iya. udah buruan siap-siap.” ucap kak Aldy.
Setelah siap, Ara dan kak Aldy segera menuju ke rumah sakit tempat Rizal dirawat. Sesampainya disana, Ara melihat sudah ada kedua orangtuanya bersama mama Rizal sedang menunggu di depan ruang ICU. Ara pun segera menghampiri mereka. Tak lama, dokter keluar dari ruang ICU. Mama Rizal segera menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan Rizal. “dok, gimana keadaan anak saya?” tanya mama Rizal.
“kami sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak ibu. Ibu do’akan saja yang terbaik untuk anak ibu.” jawab dokter tersebut.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Rizal siuman. Dokter segera memeriksa keadaan Rizal. Setelah dokter keluar dari ruang ICU, dokter mengatakan bahwa Rizal menyebut-nyebut nama Ara. “apakah ada yang namanya Ara? Dari tadi Rizal terus menyebut nama itu.” tanya dokter.
“saya dok.” jawab Ara.
“kalau begitu kamu silahkan masuk.” ucap dokter.
Setelah masuk ke ruang ICU, Ara bergegas menghampiri Rizal yang masih terbaring lemah. “Rizal, kamu kenapa nggak cerita ke aku kalau kamu punya penyakit?” tanya Ara sam-bil terisak.
“maaf ya Ra aku nggak cerita ke kamu soal penyakit aku. Aku cuma nggak mau kamu terlalu mikirin keadaan aku.” ucap Rizal sambil tersenyum.
“kamu nggak bisa gitu d**g. Kita kan sahabat, harus saling terbuka.” protes Ara.
“iya iya, aku salah. Maafin aku ya.” ucap Rizal.
“baiklah.” jawab Ara sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Rizal merasakan sakit yang teramat sangat. “Ara, aku pamit ya. Aku mau pergi jauh. Jauuh banget. Maafin aku ya kalau aku ada salah.” ucap Rizal.
“kamu mau kemana Zal? Kamu nggak boleh pergi. Aku mau kamu terus di samping aku, terus jadi tempat sandaran dan tempat aku bertumpu.” ujar Ara sambil menangis.
“nggak bisa Ra, nggak bisa. Aku udah nggak kuat. Kamu pasti bisa nemuin sahabat yang lebih baik dari aku.” jawab Rizal. Lalu Ara merasakan telapak tangan Rizal sangat dingin, dan Rizal pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Ara menangis sejadi-jadinya, begitu juga dengan mama Rizal. Ara merasa sangat kehilangan. Ia kehilangan sosok sahabat yang sangat pengertian padanya. Sorenya setelah pemakaman Rizal, Ara melihat senja di pantai tempat biasa ia melihat senja bersama Rizal. ‘senja kali ini adalah senja pertama yang aku nikmati tanpa adanya kehadiranmu Zal. Jujur, aku masih belum sanggup untuk berpisah dengan kamu. Aku sangat menyayangi kamu, seperti saudaraku sendiri. Kamu tempat aku bertumpu dan bersandar. Tapi aku harus bisa hidup tanpa kamu. Aku tau, hidupku akan terus berlanjut. Aku berjanji akan bahagia untukmu. Aku janji. Aku juga nggak akan lupa semua kenangan tentang kita di pantai ini. Kamu akan selalu ada di hati aku.’ lirih Ara. Dan senja hari itu menjadi saksi bisu awal lembaran baru kehidupan Ara. Ara akan terus melanjutkan hidupnya dan meraih cita-citanya demi sahabatnya, Rizal.